Menanti Komitmen Barat dalam JCPOA
Sanksi-sanksi terkait nuklir Iran telah dihapus setelah implementasi Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA) sejak beberapa bulan lalu. Para politisi dan pelaku ekonomi kemudian berkunjung ke Tehran untuk terlibat di berbagai sektor ekonomi, perdagangan, dan industri Iran.
Meski demikian, sejumlah laporan mencatat masih adanya hambatan tertentu untuk masuk ke pasar Iran dan salah satunya adalah akses terhadap sistem perbankan Iran.
Amerika Serikat dan negara-negara Eropa bersama Federica Mogherini, Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, bertemu di London pada Jumat (20/5/2016) untuk membahas kendala itu.
Para pejabat AS dan Eropa meminta bank dan perusahaan-perusahaan Eropa untuk melakukan investasi di Iran dan menegaskan bahwa banyak sanksi telah dicabut. Mereka berjanji akan mengambil langkah-langkah yang lebih besar untuk mendorong perdagangan legal dengan Tehran.
Seusai pertemuan London, mereka juga berjanji akan memberi informasi dan bantuan yang lebih besar untuk mendorong perusahaan-perusahaan Barat memulai kembali hubungan bisnis dengan Iran.
Dalam sebuah deklarasi bersama, para peserta pertemuan menyatakan, "Kami tidak menghambat kegiatan perdagangan legal dengan Iran. Kami tidak menghambat aktivitas lembaga-lembaga keuangan atau perusahaan-perusahaan internasional yang terlibat bisnis dengan Iran. Tentu saja ini berlaku selama lembaga dan perusahaan tersebut menjaga semua undang-undang terkait."
Gubernur Bank Sentral Iran, Valiollah Seif juga berkunjung ke London untuk menghadiri Euromoney Iran Conference dengan tema "Menghubungkan Kembali Iran ke Komunitas Keuangan Internasional." Seif dalam pertemuannya dengan menteri luar negeri Inggris, menekankan urgensitas pemenuhan komitmen perbankan oleh Barat berdasakan perjanjian nuklir.
Philip Hammond juga menekankan pemenuhan komitmen Inggris sesuai JCPOA dan mengatakan, pemerintah London akan berusaha melalui kerjasama dengan semua negara Eropa, menciptakan sebuah mekanisme yang tepat untuk normalisasi dan kemudahan transaksi perbankan dengan Iran.
Beberapa pekan lalu, London juga menjadi tuan rumah para direktur eksekutif bank-bank Inggris dan negara-negara lain Eropa untuk berdiskusi tentang normalisasi hubungan perbankan dengan Iran.
Pengalaman menunjukkan bahwa pertemuan dan janji-janji saja tidak cukup, tetapi perlu melipatgandakan upaya sehingga terlihat hasil nyata dan bank-bank Iran dapat membangun koneksi dengan bank-bank internasional dan menjalani hubungan normal.
Kebanyakan sanksi ekonomi, finansial, dan minyak telah dihapus sejak pelaksanaan perjanjian nuklir. Namun, perusahaan asing khususnya bank-bank Eropa tidak tertarik memulai hubungan bisnis dengan Iran, karena mereka masih mengkhawatirkan reaksi AS. Padahal, salah satu prasyarat untuk merealisasikan tujuan-tujuan ekonomi dan melaksanakan kontrak bisnis adalah normalisasi hubungan perbankan dengan Iran.
Pekan lalu, HSBC – salah satu lembaga perbankan dan jasa keuangan terbesar di dunia – mengecam pemerintah AS karena mendorong lembaga keuangan non-Amerika untuk mulai bekerja dengan Iran. Kepala hukum HSBC, Stuart Levey mengatakan, Washington mendorong bank-bank non-Amerika untuk melakukan sesuatu yang masih ilegal untuk dikerjakan oleh bank-bank Amerika sendiri.
Deutsche Bank Jerman juga menyatakan secara umum masih membatasi perdagangan dalam hubungannya dengan Iran.
Iran telah memenuhi semua kewajibannya sesuai JCPOA dan sekarang giliran pihak lawan untuk melaksanakan komitmennya sehingga berdampak pada sektor ekonomi. Namun, hambatan yang diciptakan AS dalam hal-hal yang tidak ada hubungan langsung dengan isu nuklir, secara praktis telah menghalangi kerjasama perbankan asing dengan Iran.
Sekarang perlu dilihat sejauh mana deklarasi London dapat mengubah kondisi tersebut. (RM)