Garam dan Tempurung Kelapa, Energi Masa Depan
https://parstoday.ir/id/news/opini-i193536-garam_dan_tempurung_kelapa_energi_masa_depan
Khusnul Yaqin, Guru Besar Ekotoksikologi Perairan, Universitas Hasanuddin
(last modified 2026-07-22T05:57:20+00:00 )
Jul 22, 2026 12:50 Asia/Jakarta
  • Garam dan Tempurung Kelapa, Energi Masa Depan

Khusnul Yaqin, Guru Besar Ekotoksikologi Perairan, Universitas Hasanuddin

Pernah ada masa ketika manusia memperebutkan minyak sebagai penentu peradaban. Siapa menguasai minyak, ia menguasai arah sejarah. Hari ini, pelan-pelan kita menyaksikan sebuah pergeseran yang nyaris tak terpikirkan beberapa dekade lalu: masa depan energi justru mulai diukir oleh dua benda yang selama ini dianggap biasa—garam dan tempurung kelapa.‎‎

Garam yang setiap hari hadir di meja makan, dan tempurung kelapa yang sering berakhir menjadi bahan bakar tradisional, kini memasuki laboratorium-laboratorium paling canggih di dunia. Dari garam lahir natrium, unsur yang menjadi jantung baterai natrium-ion. Dari tempurung kelapa dihasilkan hard carbon, material anoda yang mampu menyimpan dan melepaskan ion natrium secara berulang. Keduanya bertemu dalam satu teknologi yang sedang tumbuh menjadi alternatif penting bagi baterai litium.‎‎Ini bukan sekadar kisah tentang reaksi kimia, melainkan tentang perubahan cara manusia memandang sumber daya.

Peradaban modern ternyata tidak selalu lahir dari benda yang langka. Kadang ia justru muncul dari sesuatu yang selama ini berada di depan mata, tetapi tidak pernah dipandang sebagai kemungkinan.‎‎Bagi Indonesia, narasi ini memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar perkembangan teknologi baterai. Negeri ini memiliki garis pantai yang panjang dengan cadangan garam yang melimpah. Pada saat yang sama, Indonesia merupakan salah satu produsen kelapa terbesar di dunia. Selama bertahun-tahun, tempurung kelapa lebih sering diperlakukan sebagai bahan bakar tradisional atau limbah pertanian.‎‎

Kini, ilmu menunjukkan bahwa tempurung tersebut dapat diubah menjadi material karbon bernilai tinggi yang menjadi komponen penting baterai generasi baru. Artinya, dua komoditas yang selama ini dipandang biasa dapat menjadi bagian dari rantai pasok teknologi energi global.

Nilai ekonomi tidak lagi semata-mata ditentukan oleh apa yang dimiliki alam, tetapi oleh kemampuan ilmu mengubah alam menjadi teknologi.‎‎Pelajaran terpenting dari perkembangan ini adalah bahwa masa depan energi tidak hanya ditentukan oleh siapa yang memiliki sumber daya, tetapi oleh siapa yang menguasai ilmu. Garam tidak akan pernah menjadi baterai tanpa kimia material. Tempurung kelapa tidak akan berubah menjadi hard carbon tanpa rekayasa material, penguasaan proses pirolisis, dan manufaktur presisi.

Di sinilah universitas, lembaga riset, pemerintah dan industri harus bertemu dalam satu ekosistem inovasi. Kekayaan alam hanya menyediakan kemungkinan; ilmulah yang mengubah kemungkinan itu menjadi kekuatan.‎‎

Barangkali karena itu, kita perlu mulai mengubah cara berpikir tentang pembangunan. Jangan lagi bertanya apa yang kita miliki, tetapi apa yang dapat kita ciptakan dari apa yang kita miliki. Sebab dalam dunia yang sedang bergerak menuju transisi energi, garam tidak lagi sekadar penyedap rasa, dan tempurung kelapa bukan lagi sekadar limbah.

Di tangan ilmu, keduanya dapat menjadi fondasi peradaban energi yang lebih murah, lebih berkelanjutan, dan lebih mandiri.‎‎Mungkin, revolusi energi masa depan tidak akan lahir dari kedalaman tambang, melainkan dari pesisir yang asin dan kebun kelapa yang selama ini kita pandang biasa.