Shamkhani: Standar Ganda AS Memperlambat Pelaksanaan JCPOA
Sekretaris Dewan Tinggi Keamanan Nasional Republik Islam Iran menilai kebijakan standar ganda dan ambiguitas Amerika Serikat sebagai faktor terpenting atas melambannya pelaksanaan berbagai komitmen negara-negara anggota Kelompok 5+1 terutama mengenai JCPOA (Rencana Aksi Bersama Komprehensif).
Ali Shamkhani mengungkapkan hal itu dalam pertemuannya dengan Murray McCully, Menteri Luar Negeri Selandia Baru di Tehran, Sabtu (21/5/2016) sore.
"Meski ada itikad baik Republik Islam Iran untuk melaksanakan JCPOA dan upaya efektif sejumlah negara yang menyepakati untuk mempercepat pelaksanaan perjanjian ini, namun kebijakan standar ganda dan ambiguitas AS menjadi kekhawatiran serius," kata Shamkhani seperti dikutip IRNA.
Ia lebih lanjut menyinggung pandangan umum Iran dan Selandia Baru mengenai tema-tema seperti perlucutan senjata nuklir, pemberantasan narkotika dan perubahan iklim.
"Terdapat dasar yang tepat untuk memperluas kerjasama bersama di bidang perdagangan, politik dan ekonomi," ujarnya.
Sekretaris Dewan Tinggi Keamanan Nasional Iran juga menyinggung keanggotaan Selandia Baru di Dewan Keamanan PBB dan partisipasi negara ini dalam koalisi anti-Daesh.
Ia menilai ekstremisme dan terorisme sebagai ancaman keamanan terbesar bagi dunia sekarang.
"Hambatan terbesar dalam memerangi terorisme adalah pendekatan selektif terhadap fenomena buruk ini oleh sejumlah negara pendukung pemikiran Takfiri," pungkasnya.
Sementara itu, Menlu Selandia Baru menegaskan tekad negaranya untuk memperkuat hubungan komprehensif dengan Iran.
McCully mengatakan, Iran adalah negara besar, kuat dan berpengaruh terhadap perimbangan politik, keamanan dan ekonomi regional.
Menurutnya, Selandia Baru masuk ke dalam koalisi karena serius untuk memerangi terorisme. Ia mengatakan, Selandia Baru memahami dengan baik bahaya terorisme dan menegaskan pentingnya perlawanan nyata terhadap fenomena ini. (RA)