Marwa Osman Ungkap Derasnya Propaganda Barat soal Perempuan Iran
May 19, 2024 18:12 Asia/Jakarta
Produser, dan reporter stasiun televisi PressTV, Marwa Osman, mengatakan, dalam beberapa tahun terakhir banyak situs-situs internet yang ditutup atau dihapus total oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat. Alasannya perbedaan narasi situs-situs itu dengan strategi media Barat.
Asisten dosen Studi Media di Lebanese International University, LIU, Lebanon, tersebut menceritakan tentang minatnya di bidang media, dan pemberitaan.
Ia menuturkan, "Saya mengikuti perkembangan Iran, terutama di bidang politik, ekonomi, dan ilmu pengetahuan. Saya ingin tahu situasi di negara yang disanksi selama 45 tahun ini. Menurut saya rakyat Iran, telah melakukan pekerjaan besar terutama dalam lima tahun terakhir. Kita menyaksikan kemajuan-kemajuan dalam hubungan Iran, dengan media-media alternatif Barat."
Soal pandangan masyarakat dunia terhadap Iran, dari sudut pandang media, Marwa Osman menjelaskan, "Bagi para pengguna media di Barat, mengenal strategi Iran, merupakan hal yang sangat penting. Pada tahun 2017 saya menghadiri sebuah even besar bertema Palestina, di Tehran."
Ia menambahkan, "Apa yang pertama kali menarik perhatian saya pada pertemuan itu adalah dukungan nyata, sadar, dan berkelanjutan rakyat Iran, terhadap Gaza, dan hal ini sangat jarang saya temui di negara-negara Arab."
Marwa Osman melanjutkan, "Untuk waktu yang cukup lama saya mengira sangat sedikit negara di kawasan Asia Barat, yang mendukung cita-cita Palestina. Akan tetapi ketika saya berkunjung ke Tehran, saya menyaksikan sejarah Iran, sejalan dengan cita-cita Palestina, dan dalam percakapan saya dengan masyarakat, saya memahami mengapa Gaza penting bagi mereka, dan mengapa kebebasan mereka tergantung pada kebebasan Palestina."
Reporter PressTV ini terkait pandangannya terhadap peran perempuan di Iran, menuturkan,
Hal pertama yang membuat saya takjub di Iran, yang disanksi ini adalah peran perempuan di tengah masyarakat, dan pemerintahan. Sebelumnya saya cukup terpengaruh oleh narasi media-media Barat, terkait gaya hidup dan perlakuan terhadap perempuan di Tehran. Ini bagi saya menjadi sebuah 'gegar budaya' karena konstitusi Lebanon, dikelola oleh orang-orang yang beranggapan bahwa kehadiran perempuan di pemerintahan adalah sebuah penghinaan bagi mereka.
"Menurut saya ada banyak jalan untuk menjalin hubungan Iran, dengan berbagai budaya dan masyarakat dunia. Di tengah sanksi ekonomi ketat terhadap Iran, masyarakat dunia harus diperkenalkan dengan strategi Iran, melalui konferensi-konferensi media," imbuhnya.
Marwa Osman juga menyinggung tidak adanya kebebasan berpendapat di Barat, dan mengatakan, "Di era media sosial sekarang tidak ada hambatan apa pun selain sensor. Sebagai contoh, akun YouTube, saya dihapus tanpa pemberitahuan terlebih dahulu padahal sudah aktif selama 11 tahun, dan seluruh arsip program-program acara saya di PressTV disimpan di sana."
Ia menerangkan, "Program-program ini terkait dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi di Timur Tengah, dan Asia Barat. Beberapa tahun lalu banyak situs internet yang ditutup atau dihapus total oleh Dephan AS. Alasannya karena perbedaan narasi situs-situs itu dengan strategi media Barat."
"Akan tetapi kita melangkah di jalan yang benar. Kita harus menyingkirkan hambatan-hambatan budaya, dan menemukan alternatif-alternatif baru di seluruh dunia untuk mengatasi sensor," ujarnya.
Marwa Osman menegaskan,
Saya mengira kita bisa menjalin kontak dengan para pengguna media di Barat, dan mengenalkan mereka dengan prioritas-prioritas kita. Pandangan ini keliru, dan disebabkan oleh pemahaman kita yang cacat terkait budaya yang menggunakan pendekatan terhadap pemirsa luar negeri sama dengan pemirsa dalam negeri.
Ia menjelaskan, "Sebagai contoh, jika saya ingin berbicara dengan masyarakat Barat, soal anggaran yang dikeluarkan AS, untuk membunuh saya, dan keluarga saya, maka sebagian besar warga AS, tidak akan menaruh perhatian padanya, tapi narasinya bisa diubah menjadi bagaimana pajak warga AS, digunakan untuk meneror daripada untuk membangun infrastruktur dan sistem pendidikan oleh pemerintah AS." (HS)