Media Israel: Tel Aviv Sekali Lagi Tunduk pada Syarat Iran
-
PM Israel Benjamin Netanyahu
Pars Today - Media-media rezim Zionis melaporkan bahwa keputusan gencatan senjata di Lebanon diambil setelah tekanan keras Amerika terhadap Tel Aviv, dan para pejabat politik rezim sekali lagi tunduk pada syarat-syarat Iran.
Melansir Pars Today dari IRIB News Agency, 21 Juni 2026, Channel 12 televisi rezim Zionis mengutip sumber-sumber terpercaya yang melaporkan bahwa keputusan gencatan senjata di Lebanon diambil setelah Amerika menerapkan tekanan pada Tel Aviv.
Channel 12 rezim Zionis menegaskan bahwa dalam suasana perintah yang dikeluarkan oleh Benyamin Netanyahu, Perdana Menteri, dan Israel Katz, Menteri Perang, terkait gencatan senjata di Lebanon, keheningan mutlak menguasai Israel.
Washington Minta Tel Aviv Redakan Ketegangan
Sementara itu, Channel 13 televisi rezim Zionis mengutip seorang sumber diplomatik mengumumkan bahwa Washington dalam pesan resmi meminta Tel Aviv untuk menahan diri dari segala bentuk eskalasi ketegangan di Lebanon, demi memberikan kesempatan bagi kemajuan negosiasi di Swiss.
"Persamaan Baru" di Medan Perang
Situs berbahasa Ibrani "Walla" dalam analisis kondisi baru melaporkan bahwa militer Israel sekali lagi dibatasi karena tekanan Iran, dan inilah "persamaan baru" yang menguasai medan.
Olmert: Netanyahu Harus Mundur
Dalam suasana yang sama, Ehud Olmert, mantan Perdana Menteri rezim Zionis, menuntut mundurnya Benyamin Netanyahu dari kekuasaan.
Olmert dengan kritik tajam terhadap kinerja Netanyahu mengatakan bahwa mayoritas orang Israel tidak akan memaafkannya karena kegagalan-kegagalannya, dan kebijakan-kebijakannya sejak awal telah disertai dengan kekalahan.
Polling: 60% Warga Israel Ingin Netanyahu Tidak Maju Lagi
Bersamaan dengan itu, sebuah polling terbaru di wilayah-wilayah terjajah menunjukkan bahwa mayoritas penduduk wilayah tersebut menginginkan keluarnya Netanyahu dari panggung politik.
Berdasarkan polling Channel 12 televisi rezim Zionis, sekitar 60 persen responden meyakini bahwa Netanyahu tidak seharusnya mencalonkan diri dalam pemilihan mendatang untuk menduduki kembali jabatan Perdana Menteri.
Laporan ini menyingkap momen yang sangat langka dalam sejarah politik Israel: ketika mantan Perdana Menteri (Olmert) secara terbuka meminta Perdana Menteri yang sedang menjabat (Netanyahu) untuk mundur, dan 60% publik mendukungnya. Ini bukan sekadar oposisi politik biasa, ini adalah krisis legitimasi. Dan yang paling menarik adalah pengakuan dari media Israel sendiri bahwa keputusan gencatan senjata di Lebanon bukan inisiatif Israel, melainkan hasil tekanan ganda: dari Washington (yang ingin negosiasi di Swis berjalan) dan dari Tehran (yang memaksa melalui "persamaan baru" di medan). Ketika Walla menyebut ini "persamaan baru", ia sebenarnya sedang mengakui bahwa Israel tidak lagi menjadi satu-satunya pemain yang menentukan aturan di medan perangnya sendiri. Ini adalah perubahan paradigma yang sunyi tapi mendalam.(Sail)