Siapakah Yang Menghinakanmu?!
-
Imam Hasan as
Seorang lelaki memandang tajam pada wajah Imam Hasan as dan berkata, “Wahai putra Rasulullah! Engkau telah menghinakan kami dan menjadikan para pengikut sebagai budak orang lain. Lihatlah sekarang ini, tidak ada seorangpun di sisimu...”
Imam Hasan as berkata, “Mengapa engkau berpikir seperti itu?”
Lelaki itu berkata, “Karena kekhalifahan dan kepemimpinan para pengikut engkau serahkan kepada Muawiyah dan engkau tidak mau berperang dengannya.”
Imam Hasan berkata, “Demi Allah! Aku tidak menyerah kepada Muawiyah. Hakikatnya adalah aku tidak punya pendukung untuk berperang dengannya. Demi Allah! Bila aku punya pendukung yang setia sebanyak jumlah jari-jari tangan, maka aku akan berperang dengan thaghut ini sampai akhir napas; supaya Allah menghukumi antara aku dan dia. Tapi aku mengenal dengan baik warga Kufah. Berkali-kali aku telah menguji mereka dan aku tahu bahwa dengan jemaah ini tidak bisa memperbaiki kefasadan. Karena mereka ini tidak setia dan tidak komitmen...”
Pada saat itu wajah Imam Hasan berubah dan wajahnya menjadi pucat karena sakit yang tersembunyi. Imam melanjutkan, “Masyarakat ini juga punya perselisihan di antara mereka sendiri. Tampaknya mereka mengatakan, “Hati kami bersamamu, namun pedang-pedang mereka siap untuk memerangi kami.”
Imam Hasan memegang dadanya kuat-kuat dan butiran-butiran keringat keluar dari dahinya dan hendak memuntahkan darah. Lelaki itu khawatir dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Imam Hasan berkata, “Ambilkan ember untukku!”
Lelaki itu mengambilkan ember dan berkata, “Wahai putra Rasulullah! Apa yang terjadi pada diri Anda?”
Imam Hasan berkata, “Taghut zalim ini...”
Seketika itu darah keluar dari tenggorokan Imam Hasan dan memenuhi ember. Lelaki dengan penuh keheranan menyaksikan kondisi Imam Hasan as semakin memburuk dan wajahnya semakin pucat. Imam Hasan berkata, “Thagut zalim ini telah membayar seseorang untuk meracun aku. Racun yang diberikan ke aku telah sampai di hatiku dan sekarang kepingan-kepingan hatiku akan keluar.”
Lelaki itu tidak bisa mempercayainya. Namun sepertinya ucapan Imam Hasan itu benar. Yang meracuni Imam Hasan adalah orang yang terdekat, yaitu istrinya yang bernama Ju’dah. Kebenaran bersama Imam. Di antara para pendukungnya, kepada siapa bisa berharap? Apakah ketika pada giliran beramal, dia sendiri benar-benar bisa bertahan pada janjinya dan juga menolong Imam?”
Janji Yang Mana?!
Muawiyah pezalim, pasca penandatanganan perjanjian damai melanggar semua perjanjian yang ada dan tidak mengamalkan satupun janji-janjinya. Puncaknya adalah para pengikut dan pecinta Rasulullah dan keluarganya berada pada kondisi yang paling buruk dan sulit.
Sejak penandatanganan perjanjian damai, kondisi para sahabat Imam Hasan as semakin hari semakin buruk. Muawiyah memerintahkan, di seluruh negeri Islam, para imam shalat Jumat harus mencela Imam Ali as. Hal ini terjadi sampai kira-kira selama enam puluh tahun dan mencela Imam Ali as pada waktu shalat Jumat menjadi sebuah kewajiban. Selain itu, para pengikut Imam Ali dibuat tertekan sehingga mereka tidak bisa hidup dengan tenang. Khususnya warga Kufah yang kebanyakan mereka adalah pecinta keluarga Nabi Muhammad Saw. Muawiyah telah memilih seorang pezalim sebagai gubernur Kufah dan melakukan berbagai kejahatan anti para pecinta keluarga Rasulullah. Ziyad bin Sumayyah sebagai gubernur kufah telah mengusir sejumlah para pecinta keluarga Rasulullah dari rumahnya. Mereka dibunuh dengan cara yang sangat mengenaskan dan memerintahkan agar kaki dan tangan mereka dipotong. Hampir setiap pecinta keluarga Rasulullah yang terkenal di Kufah tidak lolos dari kezaliman dan kejahatannya.
Muawiyah juga memerintahkan agar nama-nama para pecinta keluarga Rasulullah dihapus dari list Baitul Mal sehingga mereka tidak lagi mendapatkan gaji.
Imam Hasan as tidak punya cara lain di hadapan semua kezaliman dan kejahatan ini selain diam dan bersabar. Karena Muawiyah tidak bisa menjadi baik. Para sahabat Imam Hasan yang tidak setia dengan tangannya sendiri menyebabkan musibah pada diri mereka sendiri dan tidak ada jalan sama sekali untuk melarikan diri darinya.
Keluarga Yang Tidak Ada Duanya
Utsman duduk di masjid Nabi. Seorang miskin datang kepadanya dan meminta sesuatu. Utsman memberikan lima dirham kepadanya. Lelaki miskin itu berkata, “Wahai khalifah! Masalahku tidak bisa terselesaikan dengan lima dirham ini!”
Utsman melihat ke halaman masjid. Sebagaimana prediksinya, ia melihat Hasan dan Husein bersama Abdullah bin Ja’far sedang duduk di halaman masjid. Kepada lelaki miskin itu, Ustman berkata, “Temuilah mereka dan mintalah bantuan kepada mereka.”
Lelaki itu melakukannya dan mendekati tiga orang tersebut dan meminta bantuan kepada mereka. Pada saat itu Imam Hasan berkata kepada lelaki miskin, “Hai lelaki! Tidak seyogianya seorang muslim meminta bantuan kepada orang lain. Kecuali dalam tiga perkara; pertama, untuk membayar diyah, bila tidak punya kemampuan untuk membayarnya. Kedua, untuk membayar hutang yang sudah lewat masanya. Ketiga, karena kemiskinan yang sangat parah yang menyebabkan ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi.”
Sang lelaki miskin itu berkata, “Karena alasan inilah saya mendatangi Anda. Karena benar-benar miskin, sehingga saya merasa malu pada istri dan anak-anak saya...”
Kemudian Imam Hasan memberi lima puluh dinar, Imam Husein memberi empat puluh sembilan dinar dan Abdullah bin Ja’far memberi empat puluh delapan dinar kepadanya. Lelaki miskin itu merasa gembira atas semua kedermawanan ini dan pergi menemui Utsman untuk menceritakan kejadian yang ada. Utsman bertanya padanya, “Apa yang telah kau lakukan?”
Lelaki miskin itu berkata, “Aku meminta bantuan kepadamu. Tapi engkau bertanya padaku, mengapa aku memerlukan bantuan orang lain? Dan engkau hanya memberiku lima dirham, namun Hasan bin Ali as...”
Dan ia menceritakan semua kejadian yang ada. Utsman berkata, “Di dunia bagian manakah engkau akan menemukan orang-orang kesatria seperti ini? Mereka ini adalah keluarga yang tidak ada duanya dalam keilmuan, keutamaan dan keksatriaan.” (Emi Nur Hayati)
Sumber: Sad Pand va Hekayat; Imam Hasan as.