Akibat Memutus Hubungan Silaturrahim
-
Keluarga
Harun al-Rasyid; khalifah Abbasiyah bertanya kepada Yahya Barmaki dan yang lainnya, “Apakah kalian mengenal seseorang dari keluarga Abi Thalib untuk aku datangkan dan aku tanyakan kepadanya tentang kondisi Musa bin Jakfar sehingga aku tahu bagaimana kabar dan kondisinya?”
Mereka berkata, “Iya. Ali bin Ismail bin Jakfar, keponakan beliau yang dari sisi keturunan sangat dekat kepada Musa bin Jakfar as. Dia mengetahui liku-liku kehidupannya. Kemungkinan Anda bisa mendatangkannya.”
Khalifah menulis surat untuk Ali bin Ismail dan memintanya untuk ke Bagdad. Imam Musa bin Jakfar mengetahui masalah ini dan memanggilnya dan berkata, “Engkau mau ke mana?”
Dia menjawab, “Saya mau ke Baghdad.”
Beliau bertanya, “Untuk apa engkau pergi?”
Dia menjawab, “Saya khawatir dan kehidupan saya penuh dengan hutang. Saya mau pergi, boleh jadi ada jalan keluar.”
Imam Musa berkata, “Saya yang akan membayar semua hutang-hutangmu dan aku yang akan menanggung biaya hidupmu sebagaimana sebelumnya aku selalu membantumu.”
Dia tidak mau menerima dan berkata, “Beri saya wejangan.”
Imam Musa berkata, “Satu-satunya pesanku kepadamu adalah jangan sampai engkau ikut campur dalam menumpahkan darahku dan jangan engkau bikin yatim, anak-anakku.”
Ali bin Ismail berkata, “Beri lagi saya wejangan dan perintahkan saya sehingga saya amalkan.”
Imam Musa berkata sampai tiga kali, “Jangan ikut campur dalam menumpahkan darahku.” Kemudian beliau memberi tiga ratus dinar dan empat ribu dirham kepadanya. Begitu Ali bin Ismail bangkit dan pergi, Imam Musa berkata kepada orang-orang yang hadir di situ, “Demi Allah! Lelaki ini akan membuat fitnah dalam menumpahkan darahku dan akan menjadikan yatim anak-anakku.”
Orang-orang yang ada di situ berkata, “Wahai putra Rasulullah Saw! kalau demikian, mengapa Anda berbuat baik dan memberikan uang sebanyak ini kepadanya?”
Imam Musa as berkata, “Ayahku menukil dari ayah dan kakek-kakeknya bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Ketika seseorang berbuat baik kepada sanak keluarganya, tapi menjawabnya dengan keburukan, dan orang yang berbuat baik tidak memutuskan kebaikannya, maka Allah akan mencabut rahmat-Nya dari orang yang sudah diperlakukannya dengan baik dan akan menimpakan siksa atas perbuatannya.”
Ketika Ali bin Ismail pergi ke Bagdad, Yahya Barmaki membawa dia ke rumahnya dan memerintahkannya untuk menjelek-jelekkan Musa bin Jakfar di majlisnya Harus dan mengaitkan kejelekan kepada beliau sehingga Harus marah terhadap Musa bin Jakfar.
Kesimpulannya, pada waktu yang sudah ditentukan, Ali bin Ismail dibawa ke majlisnya Harun. Begitu dia masuk dan mengucapkan salam, kemudian berkata, “Aku tidak pernah melihat dua khalifah yang berkuasa dalam satu periode; Anda di kota ini dan Musa bin Jakfar di Madinah. Sementara masyarakat dari sekitar dan penjuru dinia membayar pajak untuknya dan dia mengumpulkan uang yang ada dan membeli tanah dengan harga tiga puluh ribu dirham dan menamakanya dengan “Yasirah”.”
Harun yang menunggu fitnah seperti ini menyerahkan harta seharga dua ratus ribu dirham
Untuk diberikan kepadanya. Tapi mengingat sebagian siksa menimpa seseorang secara langsung, ketika Ali bin Ismail sampai ke rumahnya, muncul penyakit di tenggorokannya sehingga dia tewas sebelum menikmati emas-emas yang diberikan kepadanya.
Anehnya ketika emas-emas Harun itu didatangkan untuk Ali bin Ismail, dia sedang sekarat menghadapi kematian sambil memandang uang-uang itu dengan penuh penyesalan dan semua emas-emas itu dikembalikan ke kantor bendahara khalifah. (Muntahal Amal, jilid 2, hal 142)
Kata-Kata Dari Amirul Mukminin as
Amirul Mukminin Ali as dalam sebuah khutbahnya berkata, “Aku berlindung kepada Allah dari dosa-dosa yang memusnahkan pelakunya dengan segera.”
Abdullah bin Kawwai Yasykuri mengatakan, “Wahai Amirul Mukminin! Apakah ada dosa-dosa yang segera memusnahkan pelakunya?”
Beliau berkata, “Iya. Gimana kamu ini! Dan itu adalah memutuskan hubungan silaturrahim. Ada keluarga yang datang berkumpul dan mereka saling tolong menolong, meskipun mereka ini adalah pendosa, tapi Allah memberikan rezeki-Nya kepada mereka dan ada keluarga yang berpisah dan memutuskan hubungan, kemudian Allah menjadikan mereka miskin, meskipun mereka adalah orang-orang yang bertakwa.” (Jamius Saadat, jilid 2, hal 343)
Memutus Hubungan Silaturrahim Memendekkan Umur
Di nukil dalam buku Kafi bahwa seorang lelaki sahabat Imam Shadiq as berkata kepada beliau, “Saudara-saudara anak paman saya telah membuat saya sulit sehingga saya hanya tinggal di dalam satu ruangan. Bila saya mau mengadukannya kepada hakim, maka saya bisa mengambil apa yang ada di tangan mereka.”
Imam Shadiq as berkata, “Bersabarlah! Allah akan memberikan jalan keluar untukmu.”
Orang tersebut berkata, “Saya tidak jadi mengadukan mereka sampai pada tahun 131 datang sebuah penyakit kolera. Demi Allah! Mereka semua meninggal dunia dan tidak ada yang tersisa sama sekali. Ketika aku datang menemui Imam Shadiq as, beliau bertanya, “Bagaimana dengan familimu?”
Aku menjawab, “Semua mereka meninggal dunia.”
Imam Shadiq as berkata, “Kematian mereka karena gangguan mereka yang dilakukan terhadapmu dan memutuskan hubungan silaturrahim. Apakah engkau tidak ingin mereka tetap mengganggumu tapi mereka tetap hidup?”
Aku menjawab, “Iya. Demi Allah!” (Emi Nur Hayati)
Sumber: Hak Keluarga