PBB Desak Saudi Izinkan Bantuan Kemanusiaan Masuk ke Yaman
-
Antonio Guterres
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mendesak pihak-pihak yang bertikai dalam konflik Yaman, termasuk Arab Saudi, untuk mengizinkan pengiriman bantuan kemanusiaan ke negara miskin tersebut, di saat mesin-mesin perang Saudi membunuh semakin banyak warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyampaikan hal itu dalam sebuah konferensi pers di Kuwait pada hari Ahad (27/8/2017).
"Kami melakukan yang terbaik untuk menciptakan kondisi agar kebuntuan saat ini dapat diatasi," katanya, setelah melakukan pembicaraan di Kuwait, yang saat ini memimpin upaya mediasi dalam krisis regional Teluk Persia, termasuk friksi antara Qatar dan kuartet Arab pimpinan Saudi.
Pernyataan Guterres itu muncul saat ketegangan antara para pendukung mantan presiden Yaman Ali Abdullah Saleh dan gerakan Houthi Ansarullah, yang dipimpin oleh Abdul Malik Al-Houthi, meningkat menjadi bentrokan bersenjata yang menyebabkan sejumlah orang dari kedua belah pihak terbunuh Sabtu malam (26/8/017). Saleh telah secara resmi mengumumkan aliansi dengan Houthi pada bulan Juli tahun lalu dalam upaya untuk membela negara Yaman melawan agresi Saudi.
Guterres mengatakan PBB berusaha memfasilitasi pembukaan kembali bandara internasional utama Yaman di Sanaa dan juga pelabuhan barat daya Hudaydah, yang merupakan pintu masuk utama untuk mengirim bantuan ke negara tersebut.
Arab Saudi dengan dukungan Amerika Serikat mengagresi Yaman sejak Maret 2015. Selain itu, Riyadh juga memblokade Yaman dari udara, darat dan laut, sehingga mencegah masuknya bantuan kemanusiaan ke negara tersebut.
Dengan alasan mengembalikan kekuasaan mantan presiden terguling Abd Rabbuh Mansur Hadi, Arab Saudi telah membunuh lebih dari 12 ribu warga Yaman, melukai puluhan ribu lainnya dan memaksa jutaan warga Yaman mengungsi. Serangan Arab Saudi membuat Yaman menghadapi krisis bahan pangan dan obat-obatan.(MZ)