PBB dan Kejahatan Saudi di Yaman
Perdana menteri kabinet penyelamat nasional Yaman menyatakan jumlah anak yang tewas dalam serangan udara Arab Saudi dan sekutunya di Yaman jauh lebih besar dari data yang diumumkan oleh organisasi internasional.
Abdel-Aziz bin Habtour dalam pertemuan dengan Wakil Sekjen PBB, Murad Wahba yang mengunjungi Yaman mengatakan, Publik dunia banyak yang tidak mengetahui jumlah sebenarnya dari anak dan warga sipil yang menjadi korban agresi Arab Saudi.
Krisis Yaman menunjukkan bagaimana reaksi publik dunia dan ketidakperdulian mereka terhadap berbagai bentuk kejahatan yang dilakukan Arab Saudi di Yaman. Berkaitan dengan krisis Yaman, begitu banyak institusi internasional yang berada dalam pengaruh tekanan negara-negara Barat dan kebijakan interventif AS, gagal melaporkan secara rinci kejahatan yang dilakukan koalisi Arab pimpinan rezim Al Saud di Yaman.
Arab Saudi yang khawatir menghadapi gelombang tekanan protes publik dunia senantiasa menyembunyikan kejahatan yang dilakukannya di Yaman, termasuk dengan meminta bantuan para pendukungnya. Salah satu trik yang dilakukan rezim Al Saud adalah menghalangi pembentukan tim pencari fakta independen untuk menyelidiki kejadian sebenarnya yang menimpa Yaman akibat agresi militer Arab Saudi dan sekutunya.
Saudi juga selalu menghalangi organisasi internasional memberikan laporan rinci mengenai tragedi kemanusiaan di Yaman akibat serangan Arab Saudi. Buruknya kinerja organisasi internasional dalam menangani masalah krisis Yaman menyebabkan para pejabat tinggi Arab Saudi secara leluasa melanjutkan kejahatannya di Yaman.
Hasil dari sepak terjang rezim Al Saud menyebabkan banjir darah di Yaman dan rusaknya sebagian besar infrastruktur negara Arab ini, sehingga kehidupan rakyat Yaman semakin menderita.
Meskipun kejahatan rezim Al Saud terhadap Yaman begitu jelas, tapi organisasi internasional termasuk PBB masih menjalankan kebijakan ambigu dan tidak tegas terhadap Riyadh. Sikap PBB memasukkan nama Arab Saudi dalam daftar negara pelanggar hak anak, tapi kemudian dianulir kembali oleh organisasi internasional itu yang mengindikasikan ambiguitasnya untuk mempengaruhi opini publik dunia demi kepentingan Riyadh.
Oleh karena itu, tidak berlebihan jika sebagian kalangan menuding organisasi internasional semacam PBB mengamini kebijakan destruktif rezim Al Saud di Yaman. Bahkan tidak sedikit yang menyebut Ismail Ould Cheikh Ahmed sebagai pihak yang bekerja untuk kepentingan Riyadh, dan keberadaannya justru menjadi sebagian dari masalah Yaman.
Hingga kini, PBB tidak mampu menghalangi berlanjutnya kejahatan koalisi Arab pimpinan Saudi di Yaman yang menyulut eskalasi ketidakpuasan publik dunia terhadap organisasi internasional itu.