Kondisi Rentan Kirkuk; Krisis atau Menahan Diri?
-
Pasukan Irak
Kirkuk tengah melewati detik-detik paling penting. Perang dengan dampak besar atau rasionalitas dan menahan diri akan menentukan nasib daerah ini.
Dengan berakhirnya ultimatum 48 jam dari pemerintah Irak kepada pasukan Peshmerga untuk keluar dari selatan Kirkuk dan menyerahkan kontrol sumur-sumur minyak kepada pemerintah Baghdad serta keengganan pemerintah lokal Kurdi Irak melakukan permintaan tersebut, pemerintah Irak memperpanjang ultimatum tersebut 24 jam demi memberi peluang lobi mencapai kesepakatan.
Apakah Kirkuk akan menjadi pemicu krisis baru di Irak dan Timur Tengah? Berbagai bukti menunjukkan bahwa ada potensi kuat terjadi bentrokan dan perang antara pasukan Peshmerga dan pemerintah Irak. Pasukan Irak ditempatkan di dekat Kirkuk dengan peralatan militer yang diperlukan dan pasukan Peshmerga atas instruksi Masoud Barzani, kepala Otoritas Kurdistan Irak dalam posisi siaga dan defensif. Ahmad al-Asadi, juru bicara pasukan al-Hashd al-Shaabi menyatakan bahwa Barzani mendorong warga Kurdi terlibat konfrontasi dengan Baghdad.
Bersamaan dengan kondisi ini, perundingan untuk meyakinkan Barzani agar bersedia menarik pasukan Peshmerga dari selatan Kirkuk tengah berlangsung. Di antaranya perudingan Presiden Irak Fouad Massoum dengan Barzani serta Nechirvan Barzani.
Sepertinya Otoritas lokal Kurdi Irak menolak bersikap fleksibel, bahkan mereka menolak mencopot Najmiddin Karim dari posisi gubernur Kirkuk. Pemerintah Irak memiliki dua opsi, bertindak mengusir pasukan Peshmerga dari selatan Kirkuk yag berarti perang atau mundur dari sikapnya yang nantinya dapat dinilai sebagai sebuah kelemahan oleh pemerintah lokal Kurdi Irak serta ladang-ladang minyak masih tetap berada di tangan pasukan Peshmerga.
Sejatinya kekacauan saat ini dan apa yang tengah menanti Kirkuk adalah hasil dari perjudian Masoud Barzani melalui penyelenggaraan referendum pemisahan diri Kurdistan dari pemerintah pusat Baghdad.
Tak diragukan lagi menguji tekad pihak seberang adalah sebuah kesalahan strategis di bidang diplomasi, karena dapat menjadi pemicu kekerasan dan perang. Kini kartu domino kesalahan tengah diulang oleh Masoud Barzani. Padahal para marji’ Irak seraya menjelaskan bahwa Kurdi adalah warga negara ini, menuntut penahanan diri dari setiap aksi-aksi perang. Namun Barzani dan sejumlah sekutunya bukan saja mengabaikan pandangan para marji’, bahkan juga mengabaikan kekhawatiran tokoh dan kelompok lokal Kurdistan. Seperinya Barzani ingin mengulang sejarah pahit di beberapa dekade lalu terkait hubungan Kurdi dan pemerintah Irak.
Jika meletus perang antara pasukan Irak dan Kurdi di Kirkuk, maka siklus konflik, kekerasan dan korban manusia tengah menunggu Irak dan wilayah Otonomi Kurdistan secara umum dan Kirkuk secara khusus.
Tak diragukan lagi, sikap menahan diri kedua pihak merupakan kebutuhan Kirkuk saat ini dan perilaku menguji tekad dapat memicu krisis baru dengan dampak besar, krisis yang mungkin akan keluar dari kemampuan kedua pihak jika ingin mengakhirinya. (MF)