Kunjungan PM Irak ke Tehran
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i46286-kunjungan_pm_irak_ke_tehran
Perdana Menteri Irak, Haider Al Abadi bersama delegasi tingkat tinggi politik, ekonomi dan budaya Rabu malam (25/10) bertolak dari Ankara menuju Tehran. Sebelumnya, Al Abadi mengunjungi Arab Saudi, Mesir dan Yordania.
(last modified 2026-07-29T04:05:44+00:00 )
Okt 26, 2017 15:40 Asia/Jakarta

Perdana Menteri Irak, Haider Al Abadi bersama delegasi tingkat tinggi politik, ekonomi dan budaya Rabu malam (25/10) bertolak dari Ankara menuju Tehran. Sebelumnya, Al Abadi mengunjungi Arab Saudi, Mesir dan Yordania.

Lawatan sehari perdana menteri Irak ke Tehran untuk  membahas hubungan bilateral, penguatan kerja sama politik, keamanan, ekonomi dan perdagangan serta pendekatan Irak dalam menyikapi dinamika terbaru di negaranya pasca pendudukan kelompok teroris Daesh dan masalah kedaulatan negara ini.

Setelah kemenangan berturut-turut Irak dalam menumpas terorisme, lawatan al-Abadi ke sejumlah negara kawasan membawa pesan  penting. Keamanan, stabilitas, ekonomi dan non-intervensi menjadi empat kunci dalam membangun masa depan Irak yang harus didukung oleh negara-negara kawasan. Lawatan ini menunjukkan kebijakan interaksi aktif Irak dengan negara-negara tetangga. Interaksi tersebut mensyaratkan pengakuan terhadap kedudukan Irak di kawasan.

Dalam kondisi saat ini penguatan hubungan regional merupakan isu yang menentukan bagi Irak, dan upaya menuju ke arah sana menjadi masalah yang paling sensitif dalam kunjungan regional al-Abadi. Apalagi, Irak memiliki pengalaman getir akibat kebijakan Arab Saudi dan Turki. Tapi, dengan gambaran negatif tersebut, perdana menteri Irak masih memiliki optimisme dalam menyikapi dinamika regional. Hal ini dibuktikan dengan pernyataan  perdana menteri Irak dalam konferensi pers dengan Presiden Turki di Ankara.

Haider al-Abadi mengatakan, Sudah tiba saatnya bagi kawasan untuk melupakan luka dan kepedihan juga friksi dengan menggantinya menjadi kerja sama, sehingga kawasan ini memainkan peran penting dalam dinamika global demi mendorong terwujudnya perdamaian di seluruh dunia.

Bersamaan dengan upaya ini, menteri luar negeri AS mengunjungi Arab Saudi, dan menyampaikan statemen interventif dalam urusan kawasan. Rex Tillerson berusaha untuk mempengaruhi iklim kondusif  yang mulai terbangun saat ini dalam hubungan antara Irak dan negara-negara kawasan. Amat disayangkan kebijakan interventif Washington tersebut justru didukung oleh Riyadh.

Adel al-Jubair menuding Iran memainkan peran destruktif di Irak serta merusak stabilitas regional. Statemen senada juga disampaikan Tillerson. Menlu AS mengatakan, Kini sudah waktunya milisi dukungan Iran dan penasehat militer Iran yang membantu Irak mengalahkan Daesh segera pulang ke rumahnya.

Menyikapi masalah tersebut, pemerintah Irak dalam statemennya dengan tegas menyatakan tidak boleh ada pihak manapun yang berhak untuk mengintervensi urusan dalam negeri Irak.

Analis politik Timur Tengah, Seyyed Hadi Seyyed Afkhami mengungkapkan, Lawatan perdana menteri Irak ke Iran berpengaruh signifikan terhadap penguatan dan perluasan hubungan kedua negara. Dalam pandangan Iran, pembangunan dan pemulihan kondisi Irak akan menguntungkan seluruh negara kawasan.

Sejatinya, sebagaimana disampaikan oleh perdana menteri Irak, lawatan regional perdana menteri Irak, Haider Al Abdi ke negara-negara kawasan menguntungkan semua pihak.