Tuduhan Saudi, Rudal Iran Dipakai Yaman Serang Riyadh
Tuduhan terbaru Arab Saudi atas Iran semakin membuka dimensi baru konspirasi bersama Amerika Serikat, Saudi dan rezim Zionis Israel untuk menyulut perang dan krisis di kawasan.
Koalisi Saudi dalam agresi militer ke Yaman, pasca penembakan rudal militer Yaman ke bandara internasional King Khalid, Riyadh, Sabtu (4/11) melemparkan tuduhan tak berdasar atas Iran dan mengatakan, peralatan militer ini adalah milik Iran yang dikirim ke Yaman.
Adel Al Jubeir, Menteri Luar Negeri Saudi melengkapi skenario yang dimulai dari statemen bohong Donald Trump, Presiden Amerika Serikat terkait tuduhan bahwa Iran mendukung terorisme. Al Jubeir mengancam, pasukan koalisi menegaskan hak Riyadh untuk membalas aksi Iran pada waktu dan dalam bentuk yang tepat.
Statemen itu kemudian medapat reaksi keras dari Kemenlu Iran. Bahram Qassemi, Juru Bicara Kemenlu Iran menghimbau Saudi agar berhenti lari dari masalah dan tidak melemparkan tuduhan tak berdasar serta mengakhiri segera serangan terhadap rakyat Yaman dan membuka jalan dialog Yaman-Yaman untuk mewujudkan perdamaian di negara itu.
Tuduhan Al Jubeir tersebut disampaikan setelah sebelumnya Mohammed bin Salman, Putra Mahkota sekaligus Menteri Pertahanan Saudi menuduh Iran mengintervensi kawasan. Mohammed bin Salman dalam wawancaranya dengan stasiun televisi Al Arabiya beberapa bulan lalu mengeluarkan statemen ancaman dan melanggar ketentuan internasional. Ia mengatakan, instabilitas dan perang harus dibawa ke perbatasan Iran.
Sisi lain permainan politik ini justru dijelaskan oleh surat kabar Israel, Jerusalem Post. Koran Israel itu mengungkap kerja sama rahasia Saudi dengan Israel dan menulis, beberapa waktu lalu Riyadh melakukan beberapa kali uji coba untuk menonaktifkan sistem-sistem anti-rudal Iran sehingga membuka jalan bagi serangan udara Israel.
Tidak diragukan pernyataan-pernyataan provokatif pejabat Saudi yang didukung Amerika itu saat ini telah berubah menjadi sebuah ancaman bagi keamanan umum di kawasan. Seperti yang disampaikan Kementerian Pertahanan Amerika (Pentagon) pada Selasa (7/11) dini hari, Amerika dan Saudi akan menjalin kerja sama militer untuk memerangi apa yang disebut sebagai ekstremisme dan menggagalkan infiltrasi Iran di Timur Tengah.
Mohammad Javad Zarif, Menlu Iran, Senin (6/11) di laman Twitternya terkait transformasi kawasan menulis, kunjungan Donald Trump ke Saudi memicu meluasnya aksi penumpasan unjuk rasa damai di Bahrain dan setelah itu memunculkan krisis Qatar.
Zarif menambahkan, lawatan Jared Kushner, menantu sekaligus penasehat Trump dan Saad Hariri, Perdana Menteri Lebanon ke Saudi, menyebabkan pengunduran diri Hariri, tapi Riyadh justru menuduh Iran mencampuri urusan dalam negerinya.
Saat ini Riyadh hanya punya dua pilihan, pertama, melanjutkan langkahnya sekarang yang pada akhirnya akan menyebabkan keruntuhan negara itu, atau pilihan kedua, mengubah langkah kelirunya dengan belajar dari masa lalu. Sebenarnya jika pilihan kedua ini dilakukan oleh Riyadh, maka negara itu dapat memainkan peran konstruktif di kawasan dan tidak destruktif seperti sekarang. (HS)