Alasan di Balik Usulan Yaman untuk Berunding dengan Saudi
-
Abdul Aziz bin Habtoor
Abdul Aziz bin Habtoor, Perdana Menteri Pemerintah Penyelamatan Nasional Yaman bertemu dengan Moin Sharim, wakil utusan khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk Yaman, pada hari Ahad (7/1/2018) mengharapkan perundingan langsung delegasi Ansarullah dengan Arab Saudi.
Moin Sharim, wakil utusan khusus Sekjen PBB untuk Yaman, Ismail Ould al-Sheikh Ahmed, ditunjuk untuk jabatan ini pada bulan September 2017. Moin Sharim, seorang politisi Palestina yang sebelumnya merupakan ketua misi politik PBB ke Libya, tiba di Sanaa pada 6 Januari untuk melanjutkan proses perdamaian Yaman dan bertemu dengan para pemimpin Ansarullah.
Dalam pertemuan dengan Moin Sharim, Abdul Aziz bin Habtoor, Perdana Menteri Pemerintah Penyelamatan Nasional Yaman mengemukakan sebuah inisiatif penting, yaitu perundingan langsung dengan Arab Saudi dan bukan dengan Abd Rabbuh Mansur Hadi.
Pertanyaannya adalah mengapa Pemerintah Penyelamatan Nasional Yaman meminta perundingan langsung dengan Arab Saudi?
Jawaban terpenting untuk pertanyaan ini adalah bahwa para pemimpin Ansarullah dan sekutunya di Pemerintah Penyelamatan Nasional Yaman dengan persepsi yang realistis dan cerdas ingin menyampaikan pesan bahwa aktor huru hara di Yaman bukanlah Abd Rabbuh Mansur Hadi namun Arab Saudi.
Sejatinya, Pemerintah Penyelamatan Nasional Yaman menganggap Mansur Hadi sebagai kaki tangan Arab Saudi di Yaman, yang hanya menjalankan perintah Riyadh, dan bahkan tidak memiliki wewenang untuk membuat keputusan dalam perundingan.
Sebelumnya, Ansarullah bahkan menilai kudeta yang dilakukan Abdullah Saleh pada bulan Desember 2017, dan berakhir dengan kematiannya, adalah perangkap yang dipasang Arab Saudi dan rencana busuknya untuk melawan Ansarullah. Dalam hal ini, Hassan Hani Zadeh, seorang analis politik internasional, percaya bahwa "pemberontakan sejumlah kerabat Abdullah Saleh melawan Ansarullah di Sanaa adalah makar pemecah-belah oleh Riyadh."
Alasan lain Pemerintah Penyelamatan Nasional Yaman mengusulkan perundingan langsung dengan Arab Saudi adalah bahwa usulan tersebut sekaligus menekankan ilegitimasi Mansur Hadi di Yaman. Bahkan sebelum dimulainya perang Saudi di Yaman, Ansarullah percaya bahwa Mansur Hadi, dengan melarikan diri ke Riyadh secara efektif telah kehilangan legitimasinya.
Alasan ketiga di balik usulan perundingan itu adalah bahwa Ansarullah dan sekutu-sekutunya berharap perundingan langsung dengan Arab Saudi akan mereduksi krisis kemanusiaan Yaman, karena tidak seperti Arab Saudi, Ansarullah berkomitmen untuk mengurangi tingkat krisis kemanusiaan di negara yang yang sat ini menghadapi salah satu bencana kemanusiaan terbesar di dunia.
Oleh karena itu, Perdana Menteri Pemerintah Penyelamatan Nasional Yaman, dalam pertemuan dengan Moin Sharim, menekankan bahwa para pemimpin politik Yaman berupaya mengurangi krisis kemanusiaan yang dialami lebih dari sepertiga warga Yaman dan juga mengurangi korban sipil serta mendukung perdamaian dan rekonsiliasi.
Poin terakhir adalah bahwa perubahan strategi mengacu pada perundingan oleh Pemerintah Penyelamatan Nasional Yaman berarti Ansarullah dan sekutunya percaya bahwa krisis Yaman pada awalnya adalah krisis intra Yaman, namun berubah menjadi Yaman-Saudi setelah kampanye rezim Al Saud yang telah berlangsung selama tiga tahun terakhir.(MZ)