Yaman Korban Politik Arogan Saudi
-
Korban agresi Saudi di Yaman
Selama beberapa pekan terakhir terjadi tragedi kemanusiaan di Yaman akibat penyebaran penyakit difteri yang telah menelan korban jiwa 50 orang, yang sebagian besar anak-anak.
Wabah difteri merupakan dampak kemanusiaan terbaru di Yaman akibat berlanjutnya perang dan blokade yang dilancarkan koalisi Arab pimpinan rezim Al Saud. Penyebaran penyakit difteri bukan wabah pertama yang menimpa rakyat Yaman. Sebab penyakit lain juga telah menyebabkan penderitaan berkepanjangan bagi kehidupan rakyat yang dilanda perang. Dilaporkan lebih dari dua ribu orang warga Yaman tewas akibat agresi militer yang dilancarkan Arab Saudi terhadap negara tetangganya itu.
Meningkatnya krisis kemanusiaan di Yaman dimulai bersamaan dengan eskalasi manuver baru Arab Saudi di perbatasan timur Yaman yang berbatasan dengan Oman. Selain masalah kesehatan yang mengancam jutaan orang warga Yaman akibat keterbatasan akses kesehatan dan air minum serta bahan makanan, serangan militer Arab Saudi juga menimbulkan masalah lain yang tidak kecil. Yaman menghadapi peningkatan ancaman salafi takfiri.
Analis politik Timur Tengah, Suwaidan dalam tulisannya yang dimuat koran Lebanon, Al Akhbar menyinggung menuver baru Arab Saudi di Yaman dengan membentuk sebuah emirat salafi di perbatasan bersama antara Yaman dengan Oman. Pengamat Timur Tengah ini menilai langkah Arab Saudi tersebut berbahaya bagi stabilitas regional. Suwaidan menulis, "Arab Saudi melakukan aksi paling berbahaya sejak November lalu hingga kini di provinsi Al Mahrah Yaman dengan membentuk sebuah pusat aktivitas Salafi di wilayah tersebut."
Tujuan pembentukan pusat salafi di provinsi Al Mahrah untuk menjadikannya sebagai pangkalan militer regional demi mendukung kelompok bersenjata yang beroperasi di sekitar wilayah tersebut. Selain mendukung milisi teroris yang beroperasi di Yaman, tujuan utama pembentukan pusat komando salafi di Mahrah ini untuk menekan Oman yang selama ini memiliki sikap independen di luar kebijakan yang diambil Riyadh, terutama dalam menyikapi krisis Yaman dan Teluk Persia (konflik Arab Saudi dengan Qatar).
Manuver baru Arab Saudi ini membunyikan lonceng peringatan bahaya bagi pemerintah Oman yang memiliki perbatasan bersama yang panjang dan hubungan yang dekat dengan provinsi Al Mahrah Yaman. Selama ini Oman berupaya menjaga wilayah tersebut tetap stabil dan berada di luar kontrol Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.
Sejak Maret 2015 hingga kini, Arab Saudi dan sekutunya yang didukung AS melancarkan agresi militer terhadap Yaman. Tidak hanya itu, mereka juga memblokade zona udara, darat dan laut Yaman dengan tujuan mengembalikan Abd Rabbuh Mansur Hadi yang menjadi boneka Riyadh kembali menduduki jabatan sebagai presiden Yaman.
Perang tersebut telah menelan biaya begitu besar dan menimbulkan korban sangat banyak, terutama dari pihak warga sipil Yaman. Selain itu, sebagian wilayah Yaman berada di tangan kelompok teroris yang didukung Riyadh dan sekutunya. Keberadaan mereka bukan hanya ancaman bagi Yaman saja, tapi juga menjadi ancaman bagi seluruh kawasan, bahkan dunia.
Sepak terjang terbaru Arab Saudi di provinsi Al Mahrah menambah daftar panjang kekacauan dan instabilitas yang disulut rezim Al Saud di Yaman dengan dampak destruktif yang lebih besar. Setelah Yaman, kini Oman menjadi pihak yang paling dirugikan dari aksi terbaru Riyadh.
Pendirian emirat salafi di provinsi Al Mahrah bertujuan untuk memecah belah Yaman dan menjadikan wilayah tersebut sebagai pusat komando takfiri. Tentu saja sepak terjang Riyadh ini bertentangan dengan tekad publik dunia yang berupaya mewujudkan penyelesaian krisis Yaman melalui dialog dengan menjunjung tinggi penghormatan terhadap kedaulatan teritorial, kemerdekaan dan independensi Yaman.
Sejatinya, sumber krisis Yaman berasal dari intervensi asing dan keberadaan kelompok teroris yang dijadikan alat oleh sebagian kekuatan luar Yaman untuk menguasai negara itu. Masalah ini sangat jelas dalam agresi militer rezim Al Saud terhadap Yaman yang mengorbankan apa saja, bahkan nyawa ribuan orang warga negara tetangganya sendiri demi mewujudkan ambisi politik Riyadh.(PH)