AS, Pemicu Kondisi Buruk Jalur Gaza
Badan Bantuan Kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) saat merespon keputusan anti Palestina Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan,"Kebijakan anti Palestina Trump akan mendorong kondisi Jalur Gaza semakin buruk."
Aksi mogok staf Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Jalur Gaza dalam memprotes keputusan Amerika memutus bantuan finansial kepada rakyat Palestina membuat sekolah, balai kesehatan dan pusat penyaluran bahan makanan di Jalur Gaza hari Senin (29/1) libur.
Para peserta aksi mogok menilai pemangkasan bantuan Amerika akan membuat kondisi Jalur Gaza semakin buruk. Dalam aksinya mereka bergerak ke arah kantor PBB di Gaza sambil membawa bendera Palestina.
UNRWA mengelola 278 sekolah di Jalur Gaza dan sekitar 300 ribu siswa menimba ilmu di sekolah tersebut.
Deperteman Luar Negeri Amerika pekan lalu menghentikan pembayaran dua tahap bantuan finansial yang telah dijadwalkan kepada UNRWA. Bantuan tersebut senilai lebih dari 100 juta dolar. Lebih dari lima juta pengungsi Palestina dan keluarga mereka di seluruh kawasan Timur Tengah atau Asia Barat berada di bawah perlindungan UNRWA.
Rezim Zionis Israel sejak tahun 2006 memblokade total Jalur Gaza dan mencegah masuknya bantuan kemanusiaan ke wilayah ini. Sementara itu, dukungan sejumlah pemerintah Barat terutama Amerika kepada rezim Zionis Israel membuat rezim ilegal ini semakin congkak melakukan kejahatannya.
Kebijakan permusuhan Amerika terhadap bangsa Palestina di era Donald Trump semakin luas dan Washington mengagendakan pendekatan mengiringi secara langsung kebijakan penjajahan dan eskpansif Israel. Dalam koridor ini, Gedung Putih,untuk memaksa rakyat Palestina menyerah, menerapkan represi finansial lebih besar kepada bangsa tertindas ini.
Hal ini menguak klaim palsu petinggi Amerika Serikat yang mengaku bantuan kemanusiaan negara ini sepenuhnya dalam koridor bantuan kemanusiaan. Selain itu, eskalasi kebijakan Amerika merepresi masyarakat internasional demi mendorong mereka berada di jalur ketamakan Amerika, menuai reaksi keras dari organisasi internasional. Aksi protes dan mogok staf organisasi internasional ini dapat dicermati sebagai protes atas kinerja Amerika Serikat.
Dalam koridor konspirasi Amerika terhadap bangsa Palestina yang dikemas dalam bentuk "kesepakatan abad" dengan Arab saudi, agitasi untuk menghapus isu Palestina menjadi agenda kerja petinggi Gedung Putih.
Salah satu tokoh senior Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas) menilai keputusan Amerika menghentikan bantuan finansial kepada UNRWA sebuah rencana berbahaya Washington terhadap rakyat Palestina.
Sami Abu Zuhri, salah satu pemimpin Hamas mengatakan, langkah terbaru Amerika mengurangi dan mengancam menghentikan secara total bantuan finansial kepada UNRWA ditujukan untuk menghapus hak kepulangan pengungsi Palestina. "Langkah ini dalam koridor rencana berbahaya Amerika untuk merampas hak nasional Palestina dan demi mendukung keputusan terbaru Donald Trump terkait al-Quds," ungkap Sami Abu Zuhri.
Amerika dengan memangkas dan pada akhirnya memutus total bantuannya kepada UNRWA, praktisnya tengah mempersiapkan peluang penghapusan isu Palestina dengan menutup aktivitas badan internasional yang aktif di krisis Palestina.
Namun reaksi berbagai lembaga seperti PBB terhadap langkah Amerika selama beberapa bulan terakhir, khususnya mengenai langkah negara ini terhadap bangsa Palestina termasuk penentangan Majelis Umum atas keputusan Trump soal al-Quds sama halnya dengan syok diplomatik PBB kepada Israel dan sponsornya, terutama Amerika Serikat soal konspirasi mereka terhadap bangsa Palestina.
Transformasi ini menunjukkan bahwa segala bentuk gerakan Amerika untuk mengiringi kebijakan hegemoni Israel di al-Quds akan berujung pada biaya besar politik dan diplomasi bagi Washington.
Langkah seperti ini akan menambah kendala bagi Trump yang saat ini terkenal dengan kebijakan kontroversialnya di tingkat dalam dan luar negeri. Sikap Trump yang mengobarkan api dalam sekam akan memicu kebencian lebih besar kepada presiden Amerika ini. (MF)