Propaganda Politik Barat di Ghouta Timur
-
Pasukan Suriah
Di tengah upaya pembersihan total daerah Ghouta Timur dari cengkeraman teroris, negara-negara Barat dan Arab yang mendukung kelompok oposisi pemerintah Suriah melancarkan kebohongan baru dan agitasi politik demi mengubah keadaan.
Kurang dari 40 hari sejak dimulainya operasi pembersihan teroris di Ghouta Timur, militer Suriah saat ini telah menorehkan berbagai keberhasilan. Operasi militer yang dimulai sejak 19 Februari di wilayah dengan luas 315 kilometer persegi itu, berhasil membebaskan 106 kilometer yang sebelumnya dikuasai kelompok teroris.
Dilaporkan, 42 persen wilayah tersebut dikuasai Jeish Al-Islam, Front Al-Nusra 27 persen, Fiq al-Rahman 25 persen dan Ahrar Al-Sham mengusai 6 persen dari 106 kilometer wilayah Ghouta timur yang dikuasai kelompok teroris.
Seiring berjalannya waktu, sebanyak 90 persen wilayah Ghouta Timur berhasil direbut kembali dari tangan kelompok-kelompok teroris. Sebelumnya, pasukan Suriah berhasil menumpas kelompok teroris Jeish Al-Islam dukungan Arab Saudi yang melakukan perlawanan di wilayah Duma.
Ketika pasukan Suriah berhasil membebaskan sebagian besar daerah Ghouta Timur dari cengkeraman kelompok teroris, sejumlah negara, terutama AS yang selama ini mendukung kelompok teroris yang beroperasi di Suriah melancarkan penyebaran kebohongan dan intervensi politik di arena internasional. Tujuan mereka supaya Suriah tetap dikuasai kelompok-kelompok teroris yang selama ini menjadi alat kepentingan mereka untuk menekan Damaskus selama tujuh tahun lamanya.
Propaganda bohong negara-negara pendukung teroris juga menargetkan warga sipil di Ghouta timur. Wakil Tetap Rusia di PBB, Vasily Nebenzya menyatakan bahwa 121 ribu orang warga sipil Suriah secara sukarela berhasil diamankan keluar dari Ghouta timur. Tapi ironisnya, media Barat dan Arab menyebarkan kebohongan bahwa warga sipil yang keluar dari Ghouta timur menghapi dua pilihan disiksa atau dibunuh. Padahal, tujuan pemerintah Suriah mengeluarkan mereka dari wilayah konflik Ghouta timur untuk meredakan konflik dan menghindari besarnya korban jiwa dari pihak warga sipil.
Di arena internasional koalisi Barat-Arab yang dimotori AS memanfaatkan posisinya di dewan keamanan PBB untuk menekan pemerintah Suriah dan memberikan dukungan terhadap kelompok-kelompok teroris yang semakin terjepit di Ghouta timur. Padahal butir kedua resolusi dewan keamanan PBB no.2401 menyatakan bahwa kelompok teroris dikecualikan dari gencatan senjata. Tapi AS dan sekutunya memanfaatkan resolusi tersebut untuk memukul Damaskus secara politik. Mereka menuding pemerintah Suriah dan sekutunya menghalangi masuknya bantuan kemanusiaan ke Ghouta timur.
AS dan Inggris dalam sidang dewan keamanan PBB terbaru melancarkan aksi bersama untuk menekan Rusia sebagai sekutu Suriah yang diklaim melanggar resolusi 2401. Lebih dari itu, Wakil AS di PBB, Nikki Haley melancarkan kritik keras terhadap kinerja dewan keamanan PBB selama beberapa bulan terakhir yang dinilainya memalukan. Sebelumnya, Haley juga menyebut dewan HAM PBB tidak kredibel karena menjatuhkan lima resolusi terhadap Israel.(PH)