Saudi, di Balik Pendirian Pangkalan Militer AS di Suriah
-
pasukan Amerika di Suriah
Berbeda dengan klaim terbaru Presiden Amerika Serikat terkait kemungkinan penarikan pasukan negara itu dari Suriah dalam waktu dekat, beberapa media termasuk kantor berita Anadolu Turki, justru memberitakan bahwa Amerika sedang membangun dua pangkalan militer di Manbij, utara Suriah.
Dalam beberapa tahun terakhir, Amerika beberapa kali melancarkan agresi militer ke Suriah dengan dalih memerangi kelompok teroris. Kehadiran militer Amerika di Suriah tentu saja memicu protes keras pemerintah Damaskus dan menyebutnya sebagai penjajahan dan pelanggaran kedaulatan nasionalnya.
Presiden Amerika, Donald Trump, Selasa (3/4/2018) dalam jumpa pers bersamanya dengan Presiden Estonia, Lithuania dan Latvia di Gedung Putih mengatakan, jika Arab Saudi ingin pasukan Amerika tetap berada di Suriah, maka negara itu harus siap menanggung biayanya.
Statemen itu disampaikan Trump sebagai respon atas permintaan Putra Mahkota Saudi, Mohammed bin Salman pada 30 Maret 2018 lalu agar Amerika tidak menarik pasukannya dari Suriah. Sikap Trump terkait Suriah yang secara lahir tampak kontradiktif itu membuktikan kebijakan menipu presiden Amerika.
Nyatanya, kebijakan menipu itu dilakukan untuk mengalihkan perhatian publik dunia dari agresi dan intervensi Amerika di kawasan. Trump juga sebenarnya bermaksud memerah kekayaan negara-negara Arab kawasan dengan berbagai cara. Presiden Amerika ingin membebankan biaya kebijakan interventifnya di kawasan kepada negara-negara kaya Arab terutama Saudi.
Saat memasuki Gedung Putih, hal pertama yang dilakukan Trump adalah mendekati negara-negara Arab di Asia Barat untuk menyelesaikan masalah ekonomi negaranya dan memperlakukan negara-negara itu seperti sapi perah yang harus dimanfaatkan.
Seluruh dunia menyaksikan, dengan dalih memerangi teroris, Amerika secara ilegal, tanpa persetujuan pemerintah Suriah, melancarkan invasi militer di negara itu, dan dengan berbagai alasan terus meningkatkan intervensinya untuk mencegah kekalahan total kelompok-kelompok teroris.
Tujuan dan langkah koalisi internasional pimpinan Amerika adalah menyempurnakan aksi kelompok-kelompok teroris Takfiri-Wahabi dalam merusak Suriah dan membuat perang serta krisis semakin berlarut-larut di negara itu. Hal ini menambah kekhawatiran tentang berlanjutnya manuver bersama yang mencurigakan antara Amerika dan Saudi di Suriah.
Redaktur surat kabar transregional, Rai Al Youm, Abdel Bari Atwan, menilai penempatan pasukan dan peralatan perang Amerika di Suriah menjelaskan keinginan Washington untuk mendirikan sejumlah pangkalan militer di wilayah Suriah. Menurutnya, Amerika juga sedang bersiap menciptakan zona penyangga di Suriah untuk memuluskan ambisinya memecah belah kawasan dalam kerangka Timur Tengah Raya.
Sementara Suriah dipaksa harus berhadapan dengan krisis internal yang akut, karena melawan konspirasi Barat dan Zionisme internasional di kawasan. Oleh karena itu, peningkatan manuver militer Amerika di Suriah diduga kuat untuk menyibukkan Suriah dengan krisis dalam negeri agar peran negara ini dalam poros perlawanan kawasan, terutama pembelaan atas rakyat Palestina, berkurang, namun upaya itu terbukti selalu gagal. (HS)