Dialog Erdogan dan Muqtada al-Sadr
-
Muqtada al-Sadr dan Recep Tayyip Erdogan.
Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan memberi ucapan selamat kepada ulama Syiah Irak, Muqtada al-Sadr atas kemenangan koalisinya dalam pemilu parlemen dalam sebuah panggilan telepon Jumat (25/5/2018) malam.
Erdogan meminta dukungan al-Sadr untuk mengusut klaim kecurangan pemilu yang disampaikan oleh para tokoh Turkmen di Provinsi Kirkuk, Irak Utara. Di lain pihak, al-Sadr mengatakan bahwa ia akan bekerja untuk melindungi hak-hak semua lapisan masyarakat di Irak, termasuk Turkmen, yang mengklaim adanya kecurangan.
Kedua pihak juga menekankan tekad mereka untuk memperkuat hubungan antara Turki dan Irak.
Periode keempat pemillu parlemen Irak pasca tergulingnya rezim Baath diselenggarakan pada 12 Mei 2018. Pemilu ini diikuti oleh sekitar 11 juta warga Irak dengan tingkat partisipasi lebih dari 44 persen.
Koalisi Sairoon pimpinan Muqtada al-Sadr meraih 54 kursi dan koalisi al-Nasr milik Perdana Menteri Irak, Haider al-Abadi memperoleh 42 kursi dari total 329 kursi parlemen.
Pemerintah Turki melalui operasi militer mengincar kota-kota etnis Kurdi di Irak dan mengerahkan pasukannya ke wilayah Irak. Akan tetapi, Erdogan dan al-Sadr dalam pembicaraan tersebut tidak menyinggung masalah pendudukan Irak oleh Turki.
Ini mengindikasikan bahwa kedua pihak tidak tertarik untuk membahas masa lalu dan pembahasan mereka fokus pada langkah-langkah di masa mendatang. Turki juga sedang berusaha mengamankan kepentingannya di Irak pasca kemenangan koalisi Sairoon.
Dalam hal ini, Wakil Direktur The Center for Iranian Studies (IRAM) di Ankara, Doktor Hakki Uygur mengatakan, "Pemerintah Turki menyadari bahwa jika pihaknya tidak tanggap terhadap penyebaran teroris di kawasan dan juga perkembangan regional, maka kepentingannya tidak hanya akan terancam, tetapi juga akan menyaksikan peristiwa buruk di wilayahnya sendiri, seperti serangan teroris dalam beberapa bulan terakhir dan kudeta gagal tahun 2016."
Pembicaraan Erdogan dengan pemimpin koalisi pemenang pemilu Irak menunjukkan bahwa Ankara telah menyusun rencana untuk kehadiran jangan panjang di Irak.
Pemerintahan Haider al-Abadi sudah sering mendesak Turki untuk menarik pasukannya dari daerah Bashiqa, Irak. Kebijakan Baghdad adalah menentang setiap pendudukan di bagian manapun dari wilayahnya, dan juga tidak memiliki kesepakatan dengan Ankara tentang kehadiran pasukan Turki di Irak. (RM)