Mengapa Serangan Israel Semakin Mengganas di Gaza ?
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i57802-mengapa_serangan_israel_semakin_mengganas_di_gaza
Rezim Zionis Israel dalam beberapa pekan terakhir, melancarkan sejumlah serangan ke Jalur Gaza namun pada hari Selasa (29/5/2018) mendapat balasan tegas dari kelompok perlawanan.
(last modified 2026-05-05T14:48:19+00:00 )
May 30, 2018 13:54 Asia/Jakarta
  • jet tempur Israel
    jet tempur Israel

Rezim Zionis Israel dalam beberapa pekan terakhir, melancarkan sejumlah serangan ke Jalur Gaza namun pada hari Selasa (29/5/2018) mendapat balasan tegas dari kelompok perlawanan.

Hari Selasa (29/5/2018) pagi pertempuran antara militer Israel dan kelompok perlawanan Palestina, pecah. Jet-jet tempur Israel meraung di atas langit Gaza dan membombardir lebih dari 10 pangkalan kelompok perlawanan Palestina di beberapa lokasi, juga pemukiman penduduk kota itu.

Kelompok perlawanan Palestina sehari sebelumnya, melesakkan sekitar 130 rudal dan mortir ke wilayah pendudukan. Balasan tegas kelompok perlawanan Palestina mendorong Mesir melakukan mediasi, dan Israel menyetujui pemberlakuan gencatan senjata yang dimulai Rabu (30/5/2018) dini hari.

Pertanyaan penting yang muncul adalah, apa faktor yang menyebabkan serangan dan perang Israel terhadap Jalur Gaza mengalami peningkatan dalam sepekan terakhir ini ?

Tidak diragukan, alasan terpenting meningkatnya serangan militer Israel ke Jalur Gaza adalah kebijakan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Pelanggaran berulang yang dilakukan Trump terhadap aturan internasional termasuk resolusi Dewan Keamanan PBB adalah bentuk dukungan total terhadap Israel.

Pemindahan kedutaan besar Amerika dari Tel Aviv ke Al Quds adalah puncak perilaku tidak bertanggung jawab dan melanggar hukum Trump yang memicu peningkatan aksi kekerasan dan agresi Israel. Salah seorang pengamat politik Arab, Abdel Bari Atwan mengatakan, berkuasanya Trump di Amerika dan kehadiran para pendukung ekstrem Israel seperti Michael Bolton, Mike Pompeo dan James Mattis, membuat nafsu perang Israel semakin membara.

Jalur Gaza

Karena tahu bahwa Trump akan tetap mendukungnya dalam situasi apapun, Israel memulai gelombang perang baru terhadap Jalur Gaza sehingga dengan cara kekerasan dan menebarkan rasa takut, memaksa warga Palestina menghentikan pawai Hak Kembali.

Di sisi lain, perubahan kebijakan politik beberapa negara Arab terkait konflik Palestina-Israel dari sekedar reaksioner menyikapi kejahatan-kejahatan Israel, menjadi sejalan dengan kejahatan tersebut, menyebabkan Israel memanfaatkan perubahan arah kebijakan negara Arab itu sebagai kesempatan untuk meningkatkan aksi kekerasannya terhadap Palestina terutama warga Gaza.

Lebih dari itu, nafsu haus perang Israel ini meningkat menjelang tibanya Hari Quds Sedunia. Israel berusaha menunjukkan kemarahannya terhadap substansi dan pesan Hari Quds Sedunia dengan meningkatkan kekerasan dan serangannya ke Jalur Gaza.

Eskalasi serangan militer Israel terhadap Jalur Gaza terjadi di tengah kebisuan dan lumpuhnya kinerja lembaga-lembaga internasional berpengaruh. Sehubungan dengan ini, Handicap International, sebuah organisasi non-pemerintah yang memberikan bantuan kamp pengungsian di Kamboja dan Thailand mengumumkan, sejak 30 Maret 2018 hingga sekarang, sekitar 12 ribu warga Palestina terluka dalam demonstrasi, termasuk 3.500 orang dengan luka tembak.

Mengutip estimasi resmi badan kesehatan dunia, WHO, Handicap International mengabarkan, sekitar 11 persen korban luka dalam demonstrasi Palestina, 1000 di antaranya terancam mengalami kelumpuhan dan cacat permanen.

Komisaris Tinggi Hak Asasi Manusia PBB dalam sidang khusus Dewan HAM PBB yang diselenggarakan tanggal 18 Mei 2018 menganggap Israel harus membantu warga Gaza berdasarkan aturan internasional dan mendesak agar masalah ini dilimpahkan ke komite pencari fakta.

Reaksi kelompok-kelompok perlawanan Palestina atas serangan Israel beberapa hari terakhir memaksa rezim ini menyetujui gencatan senjata yang diusulkan Mesir. Masalah ini menjadi bukti bahwa mundur dalam menghadapi Israel akan memicu peningkatan serangan rezim itu dan balasan atas kejahatan Israel justru meningkatkan ketakutan Tel Aviv dan pada akhirnya mengurangi intensitas serangan. (HS)