Arogansi Baru AS dalam Perspektif Sayid Hasan Nasrullah
-
Sekjen Hizbullah Sayid Hasan Nasrullah
Sekjen Gerakan Perlawanan Islam Lebanon Sayid Hasan Nasrullah saat merespon aksi permusuhan Amerika terhadap Republik Islam Iran serta sikap negara lain yang meneladani perilaku ini menyebutnya sebagai arogansi baru.
Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengatakan AS tidak akan memperpanjang pengecualian sanksi terhadap delapan negara importir minyak Iran mulai 2 Mei 2019. Sayid Hasan Nasrullah menyebut langkah Amerika ini sebagai manifestasi arogansi baru yang memiliki indeks yang jelas.
Indeks pertama adalah sistem internasional dikelola berdasarkan hukum rimba. Di hukum rimba yang berkuasa adalah kekerasan dan kekuatan. Bukan saja undang-undang dan nilai-nilai tidak berfungsi di hukum rimba, bahkan menurut perspektif Sayid Hasan Nasrullah, perikalu arogan akan berujung pada musnahnya legalitas hukum.
Apa yang tengah dilakukan Donald Trump dan pemerintah Amerika saat ini adalah manifestasi dari teladan ini. Hukum menurut Trump adalah apa yang ia katakandan negara lain harus mematuhinya. Menurut teladan ini, terorisme didukung dan juga para sponsor terorisme menebar propaganda serta klaim memerangi terorisme. Tak hanya itu, negara-negara yang serius dan benar-benar memerangi terorisme malah dituding sebagai pendukung fenomena buruk ini. Contoh nyata adalah permusuhan Trump terhadap Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) atau juga yang disebut Sepah Pasdaran.
Indeks kedua adalah siapa saja yang melawan hukum Trump pasti akan dihukum. Sanksi adalah contoh nyata dari perilaku seperti ini dan menurut sekjen Hizbullah Lebanon, alasan sanksi terhadap Iran, Suriah dan Venezuela adalah apa yang gagal diraih di medan perang (militer), akan diupayakan melalui jalur sanksi.
Indeks ketiga adalah arogansi baru AS mengabaikan seluruh negara dunia, termasuk negara-negara besar. Sayid Hasan Nasrullah menyebut indeks ini sebagai agresi terhadap seluruh dunia, karena AS melalui sikapnya ini telah mengabaikan seluruh organisasi internasional dan kepentingan negara serta sekutu besarnya.
Indeks keempat adalah negara arogan memiliki cabang yang akan mengeluarkan biaya bagi perilaku arogansi majikannya. Di arogansi tradisional, negara imperialis sendiri yang harus mengeluarkan biaya dari perilaku arogannya. Namun di arogansi kontemporer, biaya tersebut ditanggung negara-negara lebih kecil yang kaya.
Di kawasan Asia Barat, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) berada di bawah payung Amerika yang harus menanggung pengeluaran arogansi majikannya (Washington).
Negara-negara ini melakukan intervensi di urusan internal negara lain, sebagai imbalan atas dukungan Amerika kepada mereka. Negara-negara ini tidak pernah menghadapi sanksi dari masyarakat internasional, karena Amerika akan menveto setiap langkah yang menentang anak buahnya tersebut. Contohnya adalah resolusi Kongres AS terkait dihentikannya dukungan terhadap Arab Saudi di perang Yaman. (MF)