Mengapa Saudi Menolak Uluran Tangan Iran?
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i74321-mengapa_saudi_menolak_uluran_tangan_iran
Rezim Zionis menyatakan khawatir atas pemulihan hubungan antara Iran dan Arab Saudi, dan mungkin hasutan Israel mendorong Riyadh untuk mempertahankan permusuhannya terhadap Tehran alih-alih menyambut upaya meredam ketegangan.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Okt 02, 2019 10:53 Asia/Jakarta
  • Ilustrasi bendera nasional Iran dan Arab Saudi.
    Ilustrasi bendera nasional Iran dan Arab Saudi.

Rezim Zionis menyatakan khawatir atas pemulihan hubungan antara Iran dan Arab Saudi, dan mungkin hasutan Israel mendorong Riyadh untuk mempertahankan permusuhannya terhadap Tehran alih-alih menyambut upaya meredam ketegangan.

Mengantisipasi bahaya akan selalu menguntungkan. Orang bijak biasanya bertindak atas prinsip ini. Pemerintah juga harus bertindak sesuai dengan kaidah ini jika ingin melindungi kepentingan nasionalnya dan berperilaku rasional. Mayoritas pemimpin negara mengadopsi pendekatan rasional ini, dan mungkin Saudi adalah pengecualian.

Setiap negara yang berada di posisi Saudi dan dalam kesulitan perang Yaman, tentu akan mengubah perilakuknya atau paling tidak mencegah kerugian yang lebih besar.

Namun, Riyadh tidak menunjukkan perubahan sikapnya meskipun tanda-tanda kekalahan mereka di Yaman sudah terlihat sejak beberapa tahun lalu. Saudi bahkan menggagalkan upaya yang dilakukan oleh negara-negara regional dan PBB untuk menyelesaikan krisis Yaman secara politik.

Permusuhan dengan Iran adalah salah satu contoh lain. Selama Riyadh mengambil pendekatan konfrontatif dengan Iran dan terus termakan hasutan musuh, maka daftar kegagalan mereka di kawasan akan bertambah dari tahun ke tahun. Padahal, Tehran berulang kali menjulurkan tangan persahabatan dan tawaran kerjasama kepada Riyadh, namun negara itu justru mencari-cari cara untuk memukul Iran.

Presiden Iran Hassan Rouhani, Presiden AS Donald Trump dan Putra Mahkoha Saudi, Mohammed bin Salman.

Lalu, apa yang mendorong Saudi mempertahankan api permusuhan ini, yang membuatnya dan pihak lain sama-sama direpotkan? Sepertinya ada dua faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi sikap mereka.

Di dalam negeri, Putra Mahkota Mohammed bin Salman – yang menggenggam kekuasaan dengan cara yang tidak wajar – membutuhkan musuh asing untuk lari dari krisis domestik. Ia juga berpikir bahwa jika mengubah pendekatannya, ia akan dianggap sebagai pihak yang kalah.

Di sisi lain, tekanan AS dan rezim Zionis menghalangi Arab Saudi untuk meninjau ulang kebijakan-kebijakannya yang gagal. Presiden Donald Trump dan rezim Zionis bahkan meminta Riyadh untuk mengeluarkan biaya untuk melawan Tehran.

Israel menyadari bahwa jika pemulihan hubungan Tehran dan Riyadh terjadi atau terbuka jalan untuk mengakhiri krisis Yaman, maka seluruh tekanan regional dan internasional akan terpusatkan pada rezim Zionis.

Oleh karena itu, Israel selalu memanfaatkan krisis regional sebagai sebuah peluang untuk bernafas dan mendorong dunia untuk melupakan krisis Palestina. Rezim Zionis selalu memperkeruh krisis di kawasan dan mencegah upaya-upaya yang bertujuan untuk memadamkan api perang.

Jika Arab Saudi dan sekutunya termasuk Uni Emirat Arab dan Bahrain, meninjau ulang pendekatannya, maka mereka dapat merampas peluang itu dari Israel dan sekaligus membebaskan dirinya dari perangkap yang disebarkan oleh Zionis. (RM)