Konflik Libya Picu Eskalasi Konflik antara Turki dan UEA
-
Pasukan Turki yang dikirim ke Libya
Konflik di Libya memicu ketegangan baru yang semakin meningkat antara Turki dengan Uni Emirat Arab dan sejumlah negara Arab, terutama dukungan terhadap proksi mereka masing-masing di Libya.
Juru Bicara Presiden Turki, Ibrahim Kali hari Minggu (21/6/2020) menanggapi statemen terbaru Menteri Luar Negeri Uni Emirat Arab (UEA) Anwar Gargash tentang ambisi ekspansif Ankara di dunia Arab, dengan menyebut UEA memberikan dukungan keuangan kepada milisi yang dipimpin Khalifa Haftar di Libya.
Pernyataan Kalin datang ketika pasukan Pemerintah Persatuan Nasional Libya yang didukung Turki memenangkan banyak pertempuran dalam beberapa pekan terakhir, dan memaksa pasukan Haftar mundur di banyak daerah.
Turki dan UEA berseteru dalam konflik di negara-negara Arab dan Afrika utara, terutama Libya, karena Abu Dhabi dan Ankara mendukung dua kubu yang berseberangan di Libya.
Sebelumnya, UEA dan sebagian negara Arab anggota Liga Arab mengecam intervensi militer Turki di Libya.
Liga Arab menilai intervensi militer Turki di Libya demi mewujudkan kepentingan Ankara di pusaran konflik Libya.
Asisten Sekretaris Jenderal Liga Arab, Hossam Zaki menyampaikan penentangan keras terhadap kehadiran militer Turki di Libya.
Turki secara resmi mendukung Pemerintahan Persatuan Nasional Libya pimpinan Fayez al-Sarraj, yang sedang terlibat konflik dengan kubu Tentara Nasional Libya pimpinan Khalifa Haftar.
Pada 27 November 2019, Turki menandatangani dua nota kesepahaman kerja sama keamanan dan demarkasi perbatasan maritim dengan Pemerintahan Al-Sarraj demi mengeksplorasi dan mengekstraksi sumber daya energi di Laut Mediterania.
Langkah Ankara ini menuai kritik keras dari Mesir, Yunani, Siprus, dan kubu Jenderal Haftar.
Libya dilanda kekerasan dan instabilitas politik sejak revolusi 2011, yang menyebabkan tergulingnya diktator Libya Muammar Gaddafi.(PH)