Jejak kelam Rezim Al Saud dan Pidato Raja Salman di PBB
-
Raja Salman
Republik Islam Iran menanggapi statemen terbaru Raja Arab Saudi, Salman bin Abdul Aziz yang disampaikan baru-baru ini di KTT ke-75 Majelis Umum PBB.
Mereaksi klaim sepihak rezim Al Saud terhadap peran Iran di kawasan Asia Barat, Juru Bicara Kementerian Luar Iran, Saeed Khatibzadeh hari Kamis (24/9/2020) mengatakan sikap Arab Saudi yang mengamini langkah Amerika Serikat dalam melanjutkan kebijakan tekanan maksimum yang gagal terhadap Iran berhubungan dengan kepentingan rezim Zionis.
Jubir kemenlu Iran mengatakan, Arab Saudi sebagai pangkalan utama ideologi kelompok teroris sekaligus sponsor keuangan dan logistik utama terorisme di kawasan saat ini berupaya menutupi berbagai kejahatan yang dilakukannya dengan melempar tuduhan terhadap negara lain tanpa bukti yang bisa dipertanggungjawabkan.
Pidato Raja Salman di KTT Majelis Umum PBB tidak membebaskan Arab Saudi dari tanggung jawab atas kejahatan terhadap kemanusiaan dalam perang Yaman, dukungan terhadap terorisme, dan pengkhianatannya terhadap perjuangan Palestina dengan mendukung normalisasi hubungan antara negara-negara Arab dengan Israel.
Rekam jejak kelam selama beberapa dekade terakhir kebijakan luar negeri Arab Saudi menunjukkan dengan jelas kepada opini publik dunia bahwa rezim Al Saud memainkan peran destruktif di kawasan Asia Barat.
Dukungan Saudi terhadap rezim Saddam dalam agresi militer terhadap Iran tidak bisa disembunyikan dari mata publik dunia. Rezim Baath Irak yang didukung beberapa rezim Arab dan Barat melakukan banyak kejahatan terhadap bangsa Iran, bahkan menggunakan senjata kimia yang dilarang di dunia.
Selain itu, ideologi Wahabi Arab Saudi dan ekspansinya di berbagai negara dunia dengan mendirikan sekolah-sekolah takfiri yang menjadi dasar gagasan pembentukan kelompok teroris, terutama Al Qaeda, mendapat dukungan dana dan senjata dari rezim Al Saud.
Dukungan Saudi terhadap berbagai kelompok teroris di dunia, termasuk Daesh dan Tahrir al-Sham di Suriah dan Irak dalam beberapa tahun terakhir menjadi contoh nyata upaya destabilisasi di kawasan Asia Barat.
Dimulainya perang Yaman dan pembantaian ribuan anak-anak dan wanita Yaman yang menggunakan senjata Barat, terutama senjata dan alutsista AS menjadi bukti lain tindakan destruktif Arab Saudi di kawasan Asia Barat.
Pembelian senjata Amerika secara besar-besaran yang menjadi sumber utama ketidakamanan di kawasan Asia Barat, berusaha ditutup-tutupi oleh raja Saudi dalam pidatonya di Majelis Umum PBB dengan membuat tuduhan palsu terhadap Iran.
Tindakan terbaru beberapa negara Arab untuk menormalisasi hubungan dengan Israel tidak bisa dilepaskan dari lampu hijau rezim Al Saud terhadap para sekutu regionalnya, yang memicu protes luas dari dari bangsa-bangsa di kawasan dan umat Islam. Raja Salman di forum PBB menuding Iran sebagai musuh nomor satu perdamaian dan stabilitas regional demi mengelola isu hubungan mesra antara Arab dan Israel.
Padahal faktanya, perilaku destruktif Arab Saudi menjadi akar dari ketidakamanan dan destabilisasi di kawasan Asia Barat, yang akan diperparah dengan langkah normalisasi hubungan dengan Israel.
Pada saat yang sama Iran tetap konsisten dengan pandangannya mengenai perdamaian dan keamanan yang berkelanjutan di kawasan Asia Barat, yang hanya bisa dicapai melalui penegakkan prinsip saling menghormati, kerja sama regional, dan menghindari campur tangan pihak asing di kawasan.(PH)