Upaya Baru Mencari Solusi Krisis Suriah
Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran, Mohammad Javad Zarif tiba di Wina, Austria, Senin (16/5) malam untuk menghadiri sidang kelompok kontak Suriah. Ia didampingi oleh Sayid Abbas Araqchi, Deputi Bidang Hukum dan Internasional dan Hossein Amir Abdollahian, Deputi Urusan Arab dan Afrika.
Sidang grup kontak Suriah digelar hari Selasa (17/5) di Wina. Menlu Amerika Serikat, John Kerry dan Menlu Rusia, Sergei Lavrov akan memimpin sidang tersebut. Grup ini terdiri dari 20 negara termasuk Iran dan dibentuk untuk menemukan solusi politik bagi krisis Suriah.
Para pengamat menilai pertemuan ini sebagai sebuah kesempatan untuk menekankan kembali urgensitas memelihara gencatan senjata dan menyiapkan kondisi untuk melanjutkan pembicaraan politik.
Setelah mendarat di Wina, menlu Iran melakukan pertemuan dengan Staffan de Mistura, Utusan Khusus PBB untuk Suriah. Zarif menyinggung ancaman yang dipaksakan atas Suriah, Timur Tengah, dan masyarakat internasional oleh kelompok-kelompok teroris. Ia kembali menegaskan kebutuhan untuk memberantas kelompok teroris.
Menurut menlu Iran, krisis Suriah berbeda dengan upaya kelompok teroris serta pendukung regional dan internasionalnya, tidak memiliki solusi militer. Republik Islam Iran sejak awal menekankan perundingan politik untuk memecahkan krisis di Suriah.
Rusia dan AS sekarang berkomitmen untuk meningkatkan upayanya agar perundingan politik Suriah berakhir sukses. Lalu, sejauh mana dunia bisa optimis untuk kesuksesan pertemuan Wina dalam mengakhiri krisis Suriah?
Jelas bahwa ada banyak faktor yang turut memperburuk krisis di Suriah. Para peserta pertemuan Wina sampai sekarang masih menyimpan perbedaan tajam dan saat ini belum terlihat sebuah solusi yang komprehensif yang didasarkan pada perundingan dan kesepahaman terkait penyelesaian krisis.
Dewan Keamanan PBB telah menerbitkan sejumlah resolusi tentang Suriah, namun resolusi itu tidak menjamin penyelesaian krisis.
Beberapa pengamat mengatakan bahwa John Kerry telah bertemu lebih dari 40 kali dengan Sergei Lavrov untuk membicakan gencatan senjata di Suriah, tapi tidak ada gencatan senjata yang sesungguhnya di lapangan; pembunuhan dan penghancuran masih berlangsung di Suriah.
Suriah sekarang berada di antara persaingan kekuatan-kekuatan intervensif dan pembunuhan keji kelompok-kelompok teroris, yang memperoleh dukungan dari beberapa negara kawasan seperti, Turki dan Arab Saudi. Upaya pengiriman bantuan kemanusiaan ke Suriah juga harus dihentikan berkali-kali.
Menurut beberapa pengamat politik, kubu pemberontak Suriah harus menerima proposal untuk penyelesaian krisis Suriah, karena waktu tidak berpihak pada pemberontak.
Krisis Suriah sudah berlangsung lima tahun dan rakyat di negara itu telah melakukan pengorbanan besar dan meraih banyak kemenangan dalam memerangi teroris. Jika perlawanan ini tidak ada, Damaskus mungkin sudah menjadi basis teroris Daesh.
Pukulan besar telah diberikan terhadap teroris dan para pendukungnya, tetapi ini dengan sendirinya tidak cukup. Suriah membutuhkan penghentian dukungan dana dan senjata kepada kelompok-kelompok teroris, mengakhiri peperangan, dan mendengarkan tuntutan rakyat Suriah.
Krisis panjang akan membuat rakyat Suriah menderita kerugian besar dan juga merusak keamanan kawasan. Jika perundingan intra-Suriah terhenti, maka situasi politik dan keamanan di Suriah akan lebih rumit dan ini adalah sebuah realitas yang disinggung oleh menlu Iran di Wina.
"Krisis Suriah tidak punya solusi militer dan kita juga tidak boleh membiarkan kelompok-kelompok teroris memanfaatkan gencatan senjata untuk mengintensifkan serangan terhadap rakyat Suriah," tegas Menlu Iran. (RM)