Ancam Boikot Pemilu, Rakyat Prancis Suarakan "Tidak Macron, Bukan Le Pen"
https://parstoday.ir/id/news/world-i119184-ancam_boikot_pemilu_rakyat_prancis_suarakan_tidak_macron_bukan_le_pen
Rakyat Prancis kembali turun ke jalan kemarin untuk memprotes calon presiden yang bertanding pada pilpres kali ini.
(last modified 2026-03-03T08:52:08+00:00 )
Apr 17, 2022 09:07 Asia/Jakarta
  • Ancam Boikot Pemilu, Rakyat Prancis Suarakan

Rakyat Prancis kembali turun ke jalan kemarin untuk memprotes calon presiden yang bertanding pada pilpres kali ini.

Para demonstran Prancis hari Sabtu (16/4/2022) menyebut calon presiden putaran kedua itu tidak layak dan buruk. Mereka menilai, Emmanuel Macron dan Marine Le Pen sama sekali tidak layak menempati gedung kepresidenan Prancis.

Putaran pertama pemilihan presiden Prancis diadakan pada hari Minggu, 10 April. Petahana Emmanuel Macron dan Marine Le Pen, kandidat Majelis Nasional Prancis, memenangkan putaran kedua dengan perolehan suara masing-masing 27,84 persen suara dan 23,15 persen suara.

Para pengunjuk rasa Prancis, termasuk Rompi Kuning, organisasi anti-fasis, asosiasi imigran dan banyak serikat pekerja, meneriakkan slogan-slogan seperti "Tidak Macron, bukan Le Pen" untuk menyerukan boikot putaran kedua pemilihan presiden Prancis.

Pasukan keamanan Prancis menembakkan gas air mata ke arah pengunjuk rasa.

Ratusan mahasiswa berkumpul di depan universitas Prancis pada Jumat malam untuk memprotes pencalonan Emmanuel Macron dan Marine Le Pen pada pemilu putaran kedua.

Masalah penting dalam pemilihan presiden Prancis baru-baru ini adalah jumlah pemilih yang rendah. Menurut Kementerian Dalam Negeri Prancis, jumlah pemilih pada putaran pertama pemilihan presiden Prancis 2022 hanya berkisar 25,48 persen, yang menunjukkan penurunan signifikan dibandingkan periode sebelumnya.

Putaran kedua pemilihan presiden Prancis akan diadakan pada 24 April 2022.

Orang-orang Prancis turun ke jalan berkali-kali dalam beberapa tahun terakhir untuk memprotes lonjakan inflasi dan situasi ekonomi yang memburuk.

Para pengunjuk rasa Prancis, yang menyebut diri mereka "rompi kuning", menyalahkan kebijakan pemerintah yang memicu peningkatan tekanan terhadap warga Prancis.(PH)