Jun 12, 2024 13:12 Asia/Jakarta
  • Berhenti Puja Selebriti-Selebriti yang Bungkam atas Kejahatan Israel!

Selain aktifnya kampanye boikot Israel, ternyata ada kampanye lain yaitu menindak para selebriti dan influencer yang bungkam atas kejahatan-kejahatan Israel, terhadap Palestina.

Kejahatan-kejahatan luas terhadap warga Palestina, di Jalur Gaza, telah memperluas front perlawanan dalam menghadapi Israel, di arena internasional.
 
Bangsa-bangsa dunia di Barat dan Timur, secara spontan berusaha memboikot produk Israel, dan produk perusahaan-perusahaan yang memiliki hubungan erat dengan Israel, sehingga mengancam perekonomian Israel.
 
Kampanye Boikot, Divestasi dan Sanksi, BDS, setelah aktif selama sekitar 20 tahun, kembali menjadi pusat perhatian di seluruh penjuru dunia. BDS meminta para pendukungnya untuk tidak mendatangi pusat-pusat budaya Israel.
 
Kampanye ini juga menyeru masyarakat dunia untuk tidak bekerja sama dengan universitas-universitas, dan pusat pendidikan serta riset Israel, yang diduga mendukung narasi-narasi anti-kemanusiaan terkait rakyat Palestina, dan Wilayah pendudukan.
 
Salah satu strategi gerakan BDS adalah mendorong para pemusik, seniman, dan para selebriti untuk tidak melakukan kunjungan ke Israel.
 
Di awal November 2023, tiga warga Palestina, naik podium di festival film dokumenter di Amsterdam, dan mereka membawa plakat bertulisakan "From the River to the Sea, Palestine will be Free". Mereka mendapat dukungan luas orang-orang yang menghadiri acara itu.
 
Surat kabar Rezim Zionis, Haaretz, dalam salah satu laporannya melaporkan, "Boikot kebudayaan atas Israel, di dunia terus mengalami peningkatan."
 
Kampanye menindak para selebriti dunia yang membisu menyaksikan kejahatan Israel, terhadap rakyat Palestina, dimulai saat festival kesenian Met Gala 2024.
 
Met Gala atau yang dikenal juga sebagai Costume Institute Gala adalah acara amal tahunan yang diselenggarakan oleh Anna Wintour, pemimpin redaksi Vogue Amerika Serikat, serta Museum Seni Metropolitan di New York.
 
Kejadiannya bermula ketika video para artis Hollywood, dan penyanyi terkenal dunia ditampilkan tengah mengenakan pakaian-pakaian mewah di atas karpet merah pada acara tahunan Met Gala, yang memicu kemarahan netizen dunia. Pasalnya pada saat digelarnya acara berbiaya mahal ini, berita dan video serangan Israel, ke Rafah, tengah ramai diberitakan media. Banyak masyarakat dunia yang menganggap pagelaran acara Met Gala, sebagai upaya menutupi kejahatan yang tengah terjadi di Gaza.
 
Di sisi lain, Haley Kalil, mantan model Amerika, merespons kelaparan yang dirasakan anak-anak Gaza, dengan mengatakan, "Biarkan mereka memakan roti."
 
Haley Kalil

 

Kata-kata ini memicu kemarahan luas di dunia maya, dan mereka menjadikan Haley Kalil, sebagai orang pertama yang diadili di bawah pisau Guillotine Digital.
 
Haley Kalil, adalah seorang model dan influencer yang sebelum acara Met Gala, mengunggah video tentang dirinya yang mengenakan pakaian Abad ke-18, seperti Marie Antoinette, Ratu Prancis, terakhir yang dieksekusi oleh kaum revolusioner di bawah Guillotine.
 
Apa yang menyebabkan kemarahan para pengguna media sosial dunia karena Haley Kalil, mengutip kata-kata Marie Antoinette. Di buku-buku sejarah disebutkan ketika orang-orang Prancis, kelaparan, Marie Antoinette, justru hidup bermewah-mewahan, di dalam istananya.
 
Ia kemudian mempertanyakan ketidakpuasan masyarakat Prancis, saat itu, dan ketika dikatakan kepadanya masyarakat protes karena tidak punya roti, ia menjawab kalau begitu makanlah biskuit.
 
Tidak lama setelah itu, para pengguna internet dunia menggagas kampanye "Guillotine Digital" sebagai tambahan atas kampanye-kampanye sebelumnya. Bersamaan dengan ini, demonstrasi mahasiswa di kampus-kampus AS, juga semakin besar dan luas.
 
Sekarang puluhan akun media sosial di TikTok, dan platform-platform lainnya seperti Instagram, dan X, mengajak para netizen untuk berhenti menyembah "Berhala Modern", yaitu memuja para selebriti dunia.
 
Gerakan ini meyakini bahwa jumlah pengikut biasanya menjadi simbol pengaruh dan popularitas para bintang yang membuka potensi mendapatkan keuntungan bagi orang-orang terkenal. Maka dari itu dengan menutup atau berhenti mengikuti akun mereka, kita dapat menunjukkkan tanggung jawab moral dan kemanusiaan kepada mereka.
 
Di sisi lain, surat kabar Rezim Zionis, Haaretz menulis,
 
Undangan terhadap para peserta festival tahunan penulis di Israel, dan sebelumnya juga penyelenggaran putaran ke-19 festival ini, bermasalah karena penentangan luas akibat masalah politik.
 
Menurut Haaretz, para kolumnis dunia terutama para penulis muda, menolak buku-bukunya diterjemahkan ke bahasa Ibrani, dan menolak untuk diterbitkan di Israel.
 
"Fenomena yang tengah berkembang luas adalah, Israel, ditolak di dunia, dan para pelancong Israel, terpaksa menyembunyikan identitas supaya tidak ditolak," ungkap Haaretz. (HS)