Apakah Jerman Sedang Mengulangi Pola Sebelum Perang Dunia II?
https://parstoday.ir/id/news/world-i185400-apakah_jerman_sedang_mengulangi_pola_sebelum_perang_dunia_ii
ParsToday - Ekspansi militer Jerman dan fokus pada peperangan drone, mengingat catatan sejarah Perang Dunia II, menimbulkan kekhawatiran historis baru tentang militerisme negara ini.
(last modified 2026-02-14T07:13:43+00:00 )
Feb 14, 2026 14:02 Asia/Jakarta
  • Boris Pistorius, Menteri Pertahanan Jerman
    Boris Pistorius, Menteri Pertahanan Jerman

ParsToday - Ekspansi militer Jerman dan fokus pada peperangan drone, mengingat catatan sejarah Perang Dunia II, menimbulkan kekhawatiran historis baru tentang militerisme negara ini.

Laporan harian Bild tentang program baru militer Jerman untuk melatih personel baru secara besar-besaran, terutama dalam bidang kontra-drone, merupakan indikasi perubahan mendalam dalam pendekatan militer negara ini.

Menurut laporan tersebut, Kementerian Pertahanan di bawah pimpinan Boris Pistorius tengah melaksanakan program pelatihan baru di mana pertahanan terhadap drone menjadi salah satu pilar utama pelatihan. Setelah masa pelatihan singkat, para personel menerima gelar "Penjaga Keamanan Dalam Negeri".

Perkembangan ini, di samping peningkatan signifikan anggaran pertahanan dan komitmen baru dalam kerangka NATO, menunjukkan bahwa Jerman tengah berada di jalur penguatan cepat kemampuan militernya.

Namun, tren ini tidak dapat dilihat semata-mata sebagai adaptasi teknis terhadap ancaman baru. Sejarah Jerman menunjukkan bahwa sebelum Perang Dunia II, negara ini juga melakukan perencanaan ekstensif, pengembangan kemampuan militer, dan pembangunan kembali angkatan bersenjata yang menjadi cikal bakal salah satu perang paling destruktif dalam sejarah.

Kini, negara yang masih belum sepenuhnya melepaskan warisan politik, moral, dan bahkan finansial dari perang tersebut, kembali memperluas kapasitas militer dan mendefinisikan ulang peran angkatan bersenjatanya. Hal ini menjadi semakin penting terutama di tengah ketegangan geopolitik yang melanda Eropa.

Fokus khusus pada ancaman drone dan pembentukan struktur pelatihan baru, meskipun dibenarkan dengan argumen pertahanan, dapat menjadi bagian dari proses normalisasi militerisme di negara yang setelah Perang Dunia II diberlakukan pembatasan ketat untuk mencegah terulangnya masa lalu.

Perkembangan ini mengajukan pertanyaan serius: apakah dunia sedang menyaksikan kembalinya Jerman secara bertahap sebagai kekuatan militer aktif? Sebuah proses yang, mengingat latar belakang historis negara ini, bukan sekadar transformasi internal, tetapi juga peringatan bagi keseimbangan keamanan global.(sl)