Mengapa Gelombang Anti-Israel Semakin Meluas di Amerika?
-
Bernie Sanders, senator independen Amerika
Pars Today - Bernie Sanders, senator independen Amerika, dalam reaksinya terhadap pernyataan Itamar Ben-Gvir, Menteri Keamanan Dalam Negeri Rezim Zionis, tentang membakar seluruh Lebanon, mengatakan, "Ini adalah perkataan seorang penjahat perang, dan rezim Israel yang rasis tidak pantas mendapat dukungan Amerika Serikat."
Melansir Pars Today, 23 Juni 2026, kalimat Bernie Sanders itu singkat, tetapi merupakan cerminan dari transformasi mendalam dalam masyarakat Amerika. "Rezim Israel yang rasis dan ekstremis tidak pantas mendapat dukungan Amerika." Ungkapan ini bukan sekadar kritik dari seorang senator independen Amerika terhadap kabinet Benyamin Netanyahu, melainkan tanda dari runtuhnya salah satu tabu terpenting dalam politik Amerika selama delapan dekade terakhir, tabu mengkritik secara eksplisit rezim Zionis dan mempertanyakan dukungan tanpa syarat Washington terhadap Tel Aviv.
Tabu yang Mulai Runtuh
Hingga beberapa tahun lalu, menggunakan kata-kata seperti "rasis", "apartheid", atau "penjahat perang" untuk menggambarkan kebijakan-kebijakan Israel di ruang politik Amerika, memiliki biaya yang sangat berat bagi politikus mana pun. Lobi-lobi kuat pendukung Israel, media-media arus utama, dan sebagian penting elit politik dari kedua partai Republik dan Demokrat, merespons setiap kritik mendasar terhadap rezim Zionis dengan label anti-Semit.
Namun hari ini, situasi sedang berubah. Apa yang diungkapkan oleh Bernie Sanders, Zohran Mamdani (calon walikota New York), dan figur-figur progresif Amerika lainnya, adalah cerminan dari sikap sebagian besar opini publik Amerika yang semakin meluas dari hari ke hari.
Perang Gaza: Titik Balik Transformasi
Perang Gaza telah menjadi titik balik dari transformasi ini. Gambar-gambar kehancuran luas, pembunuhan warga sipil, penghancuran rumah sakit, sekolah-sekolah, dan kamp-kamp pengungsi, telah menghadapi narasi resmi Zionis dengan tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Di masa lalu, kabinet-kabinet Israel bisa dengan mengandalkan narasi "pertahanan diri", membawa serta sebagian besar opini publik Barat. Namun volume dan intensitas kekerasan di Gaza menyebabkan narasi ini kehilangan efektivitasnya yang dulu. Jutaan orang Amerika, khususnya generasi muda, memandang apa yang terjadi di Gaza bukan sebagai perang konvensional, melainkan sebagai bentuk hukuman kolektif dan pembersihan etnis.
Generasi Baru Amerika: Melihat dari Lensa Hak Asasi
Perubahan sikap generasi-generasi baru Amerika adalah faktor penting lain dalam proses ini. Berbeda dengan generasi-generasi era Perang Dingin yang memandang Israel sebagai simbol demokrasi di Timur Tengah, generasi baru orang-orang Amerika memandang isu-isu global melalui lensa hak asasi manusia, keadilan sosial, dan kesetaraan ras.
Bagi generasi ini, diskriminasi struktural terhadap Palestina, perluasan permukiman, pengepungan Gaza, dan kebijakan-kebijakan kabinet kanan ekstrem rezim Zionis, mengingatkan pada pola-pola diskriminasi yang sama yang dikritik di dalam Amerika terhadap orang-orang kulit hitam dan minoritas. Oleh karena itu, banyak aktivis gerakan-gerakan sosial Amerika menghubungkan perjuangan melawan rasisme di dalam negeri dengan dukungan terhadap hak-hak Palestina.
Netanyahu dan Kabinet Ekstremnya: Faktor Penentu
Poin yang lebih penting adalah bahwa perubahan opini publik di Amerika, bertentangan dengan kesan umum, bukan semata-mata hasil dari aktivitas kelompok-kelompok pendukung Palestina. Kinerja kabinet Netanyahu sendiri juga telah memainkan peran yang menentukan dalam transformasi ini.
Kehadiran figur-figur seperti Itamar Ben-Gvir dan Bezalel Smotrich dalam kabinet rezim Zionis, telah menyebabkan banyak kritikus tidak bisa lagi memisahkan antara Israel dan aliran-aliran kanan ekstrem. Ketika seorang menteri Israel berbicara tentang membakar Lebanon, atau pejabat-pejabat lain menuntut pengusiran Palestina dari tanah mereka, pernyataan-pernyataan ini menemukan gema luas di ruang media Amerika dan memberikan gambaran tentang Israel yang tidak sesuai dengan nilai-nilai demokrasi dan hak asasi manusia yang diklaim.
Lobi Pro-Israel: Masih Kuat, Tapi Kehilangan Monopoli Narasi
Di tengah semua ini, pengaruh lobi-lobi pendukung rezim Zionis masih tetap luas. AIPAC dan organisasi-organisasi lain yang dekat dengan Tel Aviv masih dianggap sebagai pemain-pemain terpenting dalam panggung politik Amerika, dan menghabiskan jutaan dolar untuk mendukung kandidat-kandidat yang sejalan.
Namun perbedaan hari ini dengan masa lalu adalah bahwa kekuatan finansial saja tidak lagi mampu mengendalikan opini publik. Media sosial, media-media independen, dan akses langsung masyarakat terhadap gambar-gambar dan berita-berita lapangan, telah menghilangkan monopoli narasi. Jika pada dekade-dekade lalu narasi perang-perang terutama dibentuk melalui media-media besar, kini setiap ponsel telah berubah menjadi media.
Zohran Mamdani: Dari "Tabu" ke "Wacana Publik"
Realitas ini menjelaskan mengapa Zohran Mamdani di hadapan ribuan orang, menggambarkan AIPAC sebagai "monster" dan menghadapi sambutan dari sebagian opini publik. Pernyataan seperti itu satu dekade lalu bisa mengakhiri kehidupan politik seorang kandidat, namun hari ini telah menjadi bagian dari wacana publik Amerika.
Transformasi ini menunjukkan bahwa jurang antara elit tradisional Washington dan opini publik sedang meluas.
Bukan Akhir Dukungan, Tapi Runtuhnya Konsensus
Tentu saja, perubahan ini bukan berarti berakhirnya dukungan Amerika terhadap rezim Zionis. Struktur-struktur politik, keamanan, dan strategis Amerika dan Israel masih tetap dalam dan kokoh.
Namun yang sedang runtuh adalah konsensus historis seputar dukungan tanpa syarat terhadap Israel. Meningkatnya kritik-kritik di universitas-universitas, media-media, serikat-serikat pekerja, dan bahkan di antara sebagian pemilih Partai Demokrat, menunjukkan bahwa Israel tidak lagi menikmati kekebalan politik yang dulu.
Kekhawatiran Terbesar Tel Aviv: Hilangnya Modal Moral
Dari sudut pandang ini, pernyataan Bernie Sanders harus dinilai lebih dari sekadar sikap elektoral. Pernyataan ini adalah tanda munculnya realitas baru dalam politik Amerika; realitas di mana dukungan terhadap rezim Zionis bukan lagi prinsip yang tidak bisa diperdebatkan, dan kinerja kabinet Netanyahu lebih dari sebelumnya berada di bawah sorotan opini publik.
Kekhawatiran terpenting Tel Aviv hari ini bukan tekanan-tekanan eksternal atau bahkan kritik organisasi-organisasi hak asasi manusia, melainkan hilangnya secara bertahap modal moral dan politik rezim Zionis dalam masyarakat yang selama beberapa dekade dianggap sebagai pendukung internasional terpentingnya. Tren ini dalam jangka panjang, akan mengubah persamaan hubungan Amerika dan Israel lebih dari faktor lainnya.
Analisis ini menyingkap pergeseran yang sangat halus tapi mendalam: bahwa Israel tidak lagi "kebal" dari kritik di Amerika. Yang menarik adalah bahwa ini bukan karena lobi pro-Israel tiba-tiba lemah, mereka masih sangat kuat secara finansial. Yang berubah adalah monopoli narasi mereka telah pecah. Media sosial memungkinkan setiap orang melihat langsung apa yang terjadi di Gaza, tanpa filter dari media arus utama yang cenderung pro-Israel. Dan ketika generasi muda Amerika, yang tumbuh dengan gerakan Black Lives Matter dan kesadaran sosial yang tinggi, melihat gambar-gambar dari Gaza, mereka tidak melihat "perang melawan teror", mereka melihat pola yang sama dengan yang mereka kritik di dalam negeri: diskriminasi struktural, kekerasan terhadap minoritas, dan ketidakadilan sistemik. Inilah yang membuat isu Palestina menjadi personal bagi orang Amerika muda, bukan lagi "masalah di luar sana", tapi cerminan dari perjuangan mereka sendiri.(Sail)