Fakta Ekonomi Tak Terelakkan; Keluarga AS Akan Merasakan Dampaknya
-
Harga bensin di AS
Pars Today - Sebuah media Amerika, dengan merujuk pada meningkatnya kembali ketegangan di Asia Barat, menulis bahwa "fakta-fakta ekonomi" cepat atau lambat akan menerpa rumah tangga Amerika.
Sebagaimana dilaporkan IRNA, 21 Juli 2026, majalah bisnis Fortune yang berbasis di New York dalam artikelnya menulis, "Amerika sepanjang akhir pekan lalu terus melanjutkan serangan-serangannya terhadap Iran, dan Donald Trump, Presiden Amerika, dalam pembenaran atas serangan-serangan (agresif)nya terhadap Iran dan dengan merujuk pada apa yang disebut CENTCOM sebagai "pertahanan Washington dan mitra-mitranya terhadap serangan rudal dan drone Iran", mengklaim bahwa operasi ini dilakukan untuk "menghormati" tiga tentara AS yang tewas dalam beberapa hari terakhir.
Bersamaan dengan meningkatnya ketegangan di kawasan, harga minyak mentah berjangka untuk bulan-bulan tersisa tahun ini meningkat, dan konsumen Amerika pun kini merasakan dampaknya di pompa bensin.
Rumah tangga Amerika sejauh ini masih mampu mengelola gelombang terbaru kenaikan biaya hidup dengan cukup baik. Namun, menurut "Paul Donovan", ekonom utama bank UBS, memperingatkan bahwa "fakta-fakta ekonomi" cepat atau lambat akan menerpa keluarga-keluarga tersebut.
Ia dalam catatan yang diterbitkan pagi ini untuk para klien bank Swiss ini, menulis, "Meskipun kenaikan biaya minyak dengan cepat diteruskan ke konsumen, respons rumah tangga adalah mengurangi tabungan bulanan mereka daripada mengurangi pengeluaran lainnya. Namun, jika harga minyak tetap berada di level tinggi, situasi ini tidak dapat berlangsung selamanya. Faktanya, fakta-fakta ekonomi pada akhirnya akan menunjukkan efeknya; meskipun proses ini dapat berlanjut hingga akhir tahun ini."
Rumah tangga Amerika yang selama beberapa tahun terakhir berada di bawah tekanan inflasi yang berkelanjutan, jika menghadapi nasib seperti itu, akan mengalami situasi yang sangat menyakitkan. Bahkan dalam beberapa minggu terakhir ini, meningkatnya ketegangan di Asia Barat sekali lagi menambah tekanan pada dompet rumah tangga.
Data dari Asosiasi Mobil Amerika (AAA) menunjukkan bahwa harga bensin hari ini sekali lagi mencapai 4 dolar per galon, sementara kemarin sedikit di bawah angka itu. Seminggu lalu, harga per galon bensin reguler adalah 3,87 dolar, dan sebulan lalu 3,14 dolar. Harga per barel minyak mentah Brent pagi ini juga 88 dolar, sedikit di bawah puncak 91 dolar yang tercatat selama 24 jam terakhir.
Menurut laporan media ini, konsumen membayar biaya dari meningkatnya kembali ketegangan di Timur Tengah, karena Iran terletak di sepanjang Selat Hormuz, sebuah jalur perairan vital di mana sebagian besar ekspor minyak Teluk Persia dikirim ke pasar global.
Terlepas dari klaim dan desakan Trump bahwa selat ini berada di bawah kendali AS, banyak kapal dalam kondisi seperti itu tidak memiliki banyak keinginan untuk melintasi jalur perairan ini. Akibatnya, pasokan minyak terganggu, sementara permintaan tetap pada tingkat yang sama, dan hal ini mendorong harga naik.
Media ini menambahkan bahwa pasar tampaknya tidak terlalu optimis tentang penurunan harga dalam waktu dekat. Menurut data CME Group, harga minyak mentah berjangka untuk tiga bulan ke depan meningkat sekitar 1,5 persen menjadi lebih dari 80 dolar per barel. Harga minyak juga tidak diharapkan kembali ke kisaran 70 dolar per barel hingga Desember 2027.
Meningkatnya Ketegangan vs Inflasi
Karena salah satu komponen utama inflasi, yaitu harga bensin dan bahan bakar, kembali berada di jalur yang salah (meningkat), keseimbangan risiko ekonomi telah memasuki fase baru.
Jan Hatzius, ekonom utama bank terkemuka Goldman Sachs AS, dalam catatan yang diterbitkan tadi malam, mengungkapkan "dua skenario yang mungkin terjadi bagi perekonomian" sebagai berikut:
"Pemulihan cepat aliran ekspor sebelum putaran terakhir eskalasi ketegangan menunjukkan bahwa ekspor minyak negara-negara Teluk Persia, jika ada kesempatan, dengan kata lain, jika ada celah, dapat pulih dengan cepat, dan ini berarti bahwa jika ketegangan baru-baru ini mereda, harga minyak juga dapat turun secara tajam dan cepat. Namun, serangan lebih lanjut terhadap kapal tanker dan infrastruktur Timur Tengah dapat mendorong harga kembali ke atas 100 dolar per barel, level yang kita saksikan selama sebagian besar periode puncak konflik."(Sail)