Transformasi Strategis Poros Perlawanan; dari Jaringan ke Front Terintegrasi
Pars Today - Perkembangan pesat dalam beberapa bulan terakhir di Asia Barat, mulai dari perang AS dan Israel terhadap Iran, hingga terciptanya ketidakamanan di Selat Hormuz dan pengumuman strategi "blokade balas blokade" Yaman terhadap Arab Saudi, kembali mengarahkan pandangan think tank Barat ke masa depan "Poros Perlawanan".
Dalam kerangka ini, Middle East Institute (MEI) dalam sebuah penelitian terbaru, mengkaji perubahan poros ini dan konsekuensinya terhadap persamaan regional dan transregional.
Melansir Fars News, Selasa, 28 Juli 2026, sebelum dimulainya kembali perang AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu, deskripsi umum dalam literatur keamanan Barat dan AS tentang "Poros Perlawanan" adalah sebuah jaringan tradisional yang terdiri dari pusat (Tehran) dan pinggiran yang heterogen (aktor-aktor negara dan nonnegara di Irak, Lebanon, Suriah, dan Yaman), yang tujuan utamanya adalah menciptakan "tameng pencegahan asimetris" untuk melindungi kedalaman strategis Iran. Namun, perang ini tidak hanya mengungkap kesalahan perhitungan Washington dan Tel Aviv, tetapi juga menunjukkan kepada dunia dinamika poros ini dan kohesinya lebih dari sebelumnya.
Ini adalah bagian dari penelitian bersama Nadwa Al-Dawsari dan Arman Mahmoudian, peneliti di University of South Florida, yang diterbitkan oleh MEI, dan di dalamnya disebutkan bahwa bukti-bukti strategis menunjukkan bahwa Poros Perlawanan telah memasuki fase "evolusi struktural", sebuah transformasi di mana jaringan ini telah berubah dari alat pertahanan yang terpisah menjadi "front perlawanan bersatu" (persamaan kesatuan medan) dengan kemampuan sinkronisasi dan reproduksi kekuatan di wilayah geografis dari Teluk Persia hingga Laut Merah dan Tanduk Afrika.
Doktrin "Sabuk Keamanan Dua Selat": Hormuz dan Bab al-Mandab
Salah satu dimensi paling menonjol dari transformasi strategis ini adalah keluarnya Poros Perlawanan secara operasional dari geografi daratan yang terkurung dan masuknya secara kuat ke dalam ranah "keamanan maritim global", yaitu Selat Hormuz dan Selat Bab al-Mandab. Hal ini juga telah disebutkan oleh pejabat militer senior Iran pada Juni 2026, dan mereka menekankan bahwa doktrin baru ini didasarkan pada penciptaan "sabuk keamanan" yang menghubungkan dua jalur energi vital dunia: