Menelisik KTT ACD di Thailand
https://parstoday.ir/id/news/world-i22732-menelisik_ktt_acd_di_thailand
Pertemuan internasional Dialog Kerja Sama Asia (ACD) digelar di kota Bangkok, Thailand.
(last modified 2026-03-03T08:52:08+00:00 )
Okt 09, 2016 15:20 Asia/Jakarta
  • Menelisik KTT ACD di Thailand

Pertemuan internasional Dialog Kerja Sama Asia (ACD) digelar di kota Bangkok, Thailand.

KTT ACD dimulai hari Senin (10/10) dan dihadiri para pemimpin dan delegasi dari 34 negara Asia, termasuk Presiden Hassan Rohani dari Republik Islam Iran.

ACD dibentuk pada tahun 2002 dengan tujuan untuk mendekatkan perhimpunan kerja sama ekonomi Eropa dan Asia dengan negara-negara Asia Tenggara.

Peningkatan kerja sama ekonomi, pertumbuhan dan pembangunan negara-negara Asia, kerja sama budaya, pariwisata, pertanian, lingkungan hidup dan transportasi merupakan agenda pembahasan pertemuan yang digelar di ibu kota Thailand itu.

Deputi perdana menteri Kamboja dalam pidatonya menyampaikan enam prioritas dari agenda pertemuan Dialog Kerja Sama Asia, antara lain: kerja sama pangan, keamanan energi, inovasi teknologi, pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia serta pariwisata yang sesuai dengan pembangunan yang berkelanjutan.

Tampaknya, para pemimpin dari 34 negara yang hadir dalam pertemuan ini memiliki tujuan bersama yang sesuai dengan kepentingan nasionalnya masing-masing. Sebab setiap agenda ini jika diimplementasikan memainkan peran signifikan dalam pembangunan yang berkelanjutan di Asia.

Kehadiran pemimpin 10 negara anggota ASEAN dalam konferensi Bangkok di samping para pemimpin dari negara Asia lainnya menunjukkan pentingnya pertemuan tersebut. Rencananya tiga dokumen proyeksi kerja sama Asia hingga tahun 2030 yang akan disetujui oleh para pemimpin yang hadir. Jika tercapai, 34 negara yang hadir akan menjalankan hasil konferensi demi mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan, jaminan keamanan dan perdamaian regional dan global.

Dari sisi ini,hubungan multilateral negara-negara Asia tenggara, selatan Asia, barat Asia, hingga federasi Rusia dan Arab Saudi masuk dalam interaksi tersebut.

Tapi tampaknya, tidak bisa terlalu optimistik menyikapi masalah ini. Sebab, sejumlah masalah keragaman etnis, agama, dan friksi teritorial dan sengketa perbatasan antarnegara anggota masih menjadi hambatan utama. Misalnya, Thailand sebagai tuan rumah sendiri memiliki masalah perbatasan dan kuil bersejarah dengan Kamboja. Tentu saja masalah ini jika tidak diselesaikan akan menghambat kerja sama ekonomi.

Tidak hanya itu, kondisi minoritas Muslim yang tertindas di Myanmar dan negara kawasan Asia lainnya juga menyumbang friksi yang akan menjadi ganjalan bagi hubungan kerja sama Asia, terutama dengan negara-negara Muslim.

Oleh karena itu, meskipun muncul optimisme dari berbagai kalangan mengenai kerja sama Asia dalam pertemuan di Bangkok, namun dalam prakteknya masih banyak hambatan besar yang menghadang di depan.(PH)