Perseteruan Baru Uni Eropa dan Trump
Para pemimpin partai di Parlemen Eropa, menyerukan blok Eropa untuk menolak Ted Malloch, yang dinominasikan oleh Presiden Donald Trump sebagai duta besar Amerika Serikat untuk Uni Eropa. Malloch dianggap memiliki misi untuk mengganggu atau membubarkan Uni Eropa.
Sebelum ini para pemimpin Eropa dan Trump berseteru dalam banyak isu seperti, penarikan keanggotaan Inggris dari Uni Eropa, masa depan NATO dan perjanjian perdagangan bebas.
Perseteruan ini memasuki babak yang lebih serius setelah Parlemen Eropa menolak duta besar usulan Trump untuk Uni Eropa.
Para pemimpin partai Konservatif, Sosialis dan Liberal di Brussels dalam sebuah surat kepada Presiden Komisi Eropa, Jean-Claude Juncker dan Presiden Dewan Eropa Donald Tusk, secara tegas menentang penunjukan Malloch sebagai duta besar AS untuk Uni Eropa.
Malloch adalah salah satu pendukung Brexit dan sebelumnya dalam menjawab pertanyaan wartawan tentang penugasannya ke Brussels, ia mengatakan Uni Eropa mungkin perlu untuk dijinakkan.
Komentar ini adalah pelecehan terhadap Uni Eropa dan merupakan sinyal bahwa Malloch akan mengadopsi pendekatan yang bermusuhan jika ia benar-benar terpilih sebagai duta besar AS untuk Eropa.
Ia memiliki misi untuk memaksakan tuntutan-tuntutan Washington kepada Brussels. Pendekatan seperti ini tentu tidak akan diterima oleh para pemimpin Eropa. Sebelum ini, Presiden Perancis Francois Hollande mengatakan tekanan Trump terhadap Eropa, tidak dapat diterima.
Hollande menyebut pemerintahan baru AS sebagai tantangan untuk Eropa. "Ada tantangan yang ditimbulkan oleh pemerintahan Trump dalam hal peraturan perdagangan dan juga dalam hal penyelesaian konflik di dunia," ujarnya.
Saat ini Eropa gencar melontarkan kritik terhadap Trump karena kebijakannya terhadap blok 28 negara anggota itu. Apalagi sekarang sudah jelas bahwa Trump ingin menjinakkan Eropa. Negara-negara Eropa dipastikan akan bersikap lebih keras terhadap Trump.
Deputi Kanselir dan Menteri Luar Negeri Jerman, Sigmar Gabriel memperingatkan bahwa hari-hari sulit akan datang dengan kepemimpinan Trump di AS. Peringatan ini bukan isapan jempol belaka jika memperhatikan sikap dan sekarang pencalonan politisi anti-Uni Eropa oleh Trump.
Kanselir Jerman Angela Merkel, bahkan menyebut perintah eksekutif Trump terkait imigrasi sebagai tindakan yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan tidak dapat diterima.
Kegundahan ini mendorong para pejabat Eropa mengambil sikap yang sama dalam membela kepentingan Eropa di hadapan AS. Perdana Menteri Perancis Bernard Cazeneuve, meminta Eropa untuk memberikan respon yang memadai kepada AS, dan menyesuaikan kebijakan luar negeri dan perdagangannya sesuai dengan perkembangan situasi.
Saat ini, AS merupakan mitra dagang terbesar Uni Eropa dan pemenuhan janji-janji Trump khususnya kebijakan proteksionis, akan memperbesar kegundahan negara-negara Eropa. Pesimisme tentang masa depan hubungan Eropa-AS juga semakin bertambah setelah Trump berjanji akan menolak kesepakatan perdagangan bebas dengan Uni Eropa.
Meskipun Trump mengeluarkan retorika untuk melanjutkan hubungan saat ini dengan Uni Eropa dan mendukung NATO, tapi kenyataannya ia sedang mengadopsi pendekatan yang berbeda. (RM)