Perpecahan di Tubuh AKP dan Masa Depan Turki
https://parstoday.ir/id/news/world-i37194-perpecahan_di_tubuh_akp_dan_masa_depan_turki
Mantan Presiden Turki baru-baru ini menyampaikan pesan solidaritas kepada rakyat negara ini dan meminta mereka untuk berhati-hati atas ancaman serius yang datang dari luar.
(last modified 2026-04-16T09:59:01+00:00 )
May 06, 2017 14:17 Asia/Jakarta

Mantan Presiden Turki baru-baru ini menyampaikan pesan solidaritas kepada rakyat negara ini dan meminta mereka untuk berhati-hati atas ancaman serius yang datang dari luar.

Abdullah Gul, mantan Presiden Turki mengimbau rakyat negara ini menjaga solidaritas mereka untuk menangkal ancaman-ancaman serius dari luar. Menurutnya, beragam masalah, keperluan publik dan tuntutan ekonomi masyarakat adalah titik kelemahan pemerintahan Ankara yang harus diatasi guna memperkokoh fondasi ekonomi dan membangun konsensus nasional.

Abdullah Gul percaya, masyarakat Turki sudah lelah dengan polarisasi yang terjadi di negara mereka, dan harus maju untuk mencegah munculnya sebuah transformasi yang dapat menjadi ancaman serius bagi kepentingan nasional negaranya. Mantan Presiden Turki itu tidak menyebutkan bentuk riil ancaman-ancaman dalam dan luar negeri tersebut, ia hanya menekankan urgensi tindakan pemerintah untuk memenuhi kebutuhan sosial, ekonomi dan keamanan rakyat.

Abdullah Gul yang juga merupakan salah satu pendiri dan petinggi Partai Keadilan dan Pembangunan Turki, AKP, setelah lengser dari kekuasaan, memposisikan diri sebagai kritikus partai, meski pandangan-pandangannya tidak terlalu dianggap serius oleh Recep Tayyip Erdogan, Presiden Turki, mantan sekutu politiknya.

Di sisi lain, kubu oposisi pemerintah Ankara telah mengerahkan seluruh upayanya untuk memanfaatkan perpecahan yang terjadi di tubuh AKP antara Abdullah Gul dengan Erdogan, agar mantan Presiden Turki itu berpihak kepada mereka. Tokoh politik terkemuka Turki yang menggunakan strategi itu adalah Deniz Baykal, mantan Ketua Partai Republik Rakyat Turki, CHP yang mencalonkan Abdullah Gul sebagai kandidat pemimpin kubu penentang refendum amandemen undang-undang dasar Turki.

Dengan demikian dapat diduga bahwa strategi yang digunakan para ideolog partai oposisi Turki ini memaksa Abdullah Gul menyampaikan statemen-statemen yang lebih tegas dari sebelumnya terkait urgensi menghidupkan kembali konsensus nasional. Dari sini diperkirakan bahwa apa yang menyebabkan keluarnya mantan Presiden Turki dari transformasi yang tengah terjadi di negaranya adalah polarisasi masyarakat menjadi dua kubu, kubu penentang dan pendukung pemerintah.

Sebuah kondisi yang muncul terutama sebagai akibat dari amandeman UUD dan perubahan sistem pemerintahan, juga referendum konstitusi di negara itu. Meningkatnya gelombang protes dari luar negeri khususnya dari lembaga dan negara-negara Eropa, perselisihan terselubung di antara para pengambil keputusan Turki dengan petinggi Amerika Serikat di era Obama dan Trump, juga diabaikannya prestasi-prestasi pemerintahan lama Turki dalam upaya bergabung dengan Uni Eropa, adalah beberapa alasan mengapa Gul terpaksa berada di kubu pemrotes kebijakan pemerintah dan menjelaskan kondisi riil masyarakat dengan maksud memupuk solidaritas di tengah mereka.

Pada kenyataannya, Abdullah Gul merasa memiliki peran dan tugas yang lebih tinggi dari seorang pejabat eksekutif senior dan ia menganggap dirinya sebagai seorang ideolog reformis bagi masyarakat Turki yang harus menjelaskan semua yang harus dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan oleh pemerintah Ankara.

Akan tetapi apakah Erdogan mau menerima nasihat-nasihat adil Abdullah Gul atau sebagaimana sebelumnya, mengabaikan semua nasihat sekutunya itu, adalah sebuah pertanyaan yang harus dicari jawabannya dalam keputusan-keputusan mendatang yang diambil oleh petinggi Turki dan pemahaman Abdullah Gul terkait kondisi politik dan sosial yang berlaku di Turki. (HS)