Donald Trump Versus Partai Republik
Serangan verbal Donald Trump, Presiden Amerika Serikat terhadap para petinggi Partai Republik di Kongres, memicu kekacauan politik di negara itu.
Dalam beberapa hari terakhir, sejumlah tokoh terkemuka Partai Republik di Senat seperti Mitch McConnell, Ketua mayoritas Senat, Bob Corker, Ketua Komisi hubungan luar negeri Senat, John McCain, Ketua Komisi Angkatan Bersenjata Senat, Lindsey Graham, juga Jeff Flick, menjadi sasaran serangan keras Donald Trump.
Jennifer Granholm, pakar politik Amerika menuturkan, Trump ketika tidak mampu menepati janji-janjinya, maka ia akan menuduh orang lain dan menyalahkan mereka, inilah kerja Trump. Dengan begitu tidak ada seorangpun yang menganggapnya sebagai penyebab semua kegagalan yang ada.
Akan tetapi perbedaan pendapat antara Presiden Amerika dengan rekan-rekan separtainya di Kongres bukan hal baru dan biasa terjadi di era pemerintahan Amerika sebelumnya. Meski begitu, level ketegangan dan adu mulut ini di pemerintahan Trump, dapat dikatakan tidak seperti sebelumnya. Presiden Amerika sekarang menggunakan kata-kata kasar semacam "bodoh" untuk menyerang lawan.
Sebaliknya, sejumlah tokoh berpengaruh di Senat semacam Mitch McConnell meragukan Trump bisa bertahan hingga akhir masa jabatannya sebagai Presiden Amerika. Statemen-statemen keras seperti itu menunjukkan bahwa level ketegangan kubu Republik di Gedung Putih dengan kubu Republik di Kongres, telah melewati batas maklum dan telah berubah menjadi sebuah perang internal di partai berkuasa di Amerika itu.
Donald Trump yang hampir tidak mendapat bantuan dari satupun petinggi Partai Republik dalam merebut kursi presiden, bermaksud melancarkan serangan luas ke Kongres agar posisi sosialnya terutama di lapisan masyarakat Amerika yang sedang marah, tetap terjaga. Lapisan masyarakat dinilai ini dapat menjadi kartu truf Trump untuk memenangkan pemilu presiden tahun 2020 mendatang.
Selain itu, dengan menyerang senator-senator senior dari Partai Republik, Presiden Amerika ingin mematahkan perlawanan Kongres atas sejumlah kebijakan kontroversialnya termasuk mengubah undang-undang kesehatan Obamacare, atau tunjangan kesehatan dan pelayanan medis murah, dan pembangunan dinding pembatas dengan Meksiko, serta menutupi kontroversi-kontroversi lain yang timbul akibat isu rasisme yang kian merebak baru-baru ini di Amerika.
Di sisi lain, para senator Partai Republik di Kongres menunjukkan kekhawatiran mendalam mereka atas kondisi partainya akibat sebagian tindakan dan langkah Presiden Amerika. Mengingat semakin dekatnya penyelenggaraan pemilu sela Amerika, November 2018, para petinggi Republik khawatir tindakan-tindakan Trump memicu ketidakpuasan para pemilih dan berujung dengan kekalahan dalam pemilu tersebut. Sebagai contoh, desakan Trump untuk menghapus Obamacare atau statemen rasisnya, dianggap bisa merusak citra Partai Republik.
Namun demikian, ketegangan antara Presiden Amerika dengan Kongres yang dikuasai mayoritas anggota Partai Republik justru akan merugikan kedua pihak. Trump, tanpa menarik simpati rekan-rekan separtainya di Kongres, tidak akan mampu merealisasikan program-program kerjanya dan para senator Republik di Kongres tanpa menarik simpati Trump, juga tidak akan bisa memenangkan pemilu mendatang. (HS)