Irak, Fokus Perhatian Strategi AS di Timur Tengah
https://parstoday.ir/id/news/world-i46209-irak_fokus_perhatian_strategi_as_di_timur_tengah
Saat ini, Irak memiliki posisi khusus dalam strategi pemerintahan Amerika Serikat untuk kawasan Asia Barat. Oleh sebab itu, Rex Tillerson, Menteri Luar Negeri AS mengadakan pertemuan yang dihadiri oleh Haider al-Abadi, Perdana Menteri Irak dan Salman bin Abdul Aziz, Raja Arab Saudi. Pertemuan ini menandai dimulainya pendekatan baru AS terkait dengan Irak.
(last modified 2026-07-29T04:05:44+00:00 )
Okt 23, 2017 12:47 Asia/Jakarta

Saat ini, Irak memiliki posisi khusus dalam strategi pemerintahan Amerika Serikat untuk kawasan Asia Barat. Oleh sebab itu, Rex Tillerson, Menteri Luar Negeri AS mengadakan pertemuan yang dihadiri oleh Haider al-Abadi, Perdana Menteri Irak dan Salman bin Abdul Aziz, Raja Arab Saudi. Pertemuan ini menandai dimulainya pendekatan baru AS terkait dengan Irak.

Sebenarnya, sejak dua dekade lalu, Irak telah menjadi fokus perhatian AS dalam kebijakannya di kawasan Timur Tengah. Selama itu, negara Arab itu telah dua kali menjadi sasaran serangan militer Amerika, dan bahkan pernah didukuki negara ini.

Untuk melanjutkan kehadirannya di Irak, AS menciptakan kekacauan di kawasan dan memperkuat kelompok-kelompok ekstrem dan radikal yang pada akhirnya muncul kelompok teroris takfiri Daesh (ISIS). Kelompok teroris takfiri ini kemudian melakukan berbagai kejahatan mengerikan di Irak dan Suriah dan menduduki sebagian wilayah kedua negara Arab itu.

Selain itu, AS juga menciptakan berbagai perselisihan internal Irak dan mendorong wilayah Kurdistan negara ini untuk menjadi wilayah otonomi, dimana pada akhirnya Kurdistan mengumumkan referendum untuk memisahkan diri dari Irak. Ini semua merupakan strategi AS terhdap Irak selama 15 tahun terakhir.

Kini pemerintah baru AS berusaha membentuk koalisi baru anti-Republik Islam Iran dengan cara menyatukan Irak dan Arab Saudi. Menurut pandangan para pejabat pemerintah Presiden Donald Trump, Iran yang kuat merupakan bahaya terbesar bagi tatanan yang diinginkan oleh AS di Asia Barat. Oleh karena itu, semua kapasitas politik, ekonomi dan bahkan jika diperlukan, kekuatan militer dan keamanan harus digunakan untuk menekan dan melumpuhkan Iran.

Dalam rangka upaya tesebut, AS berusaha menyerahkan tanggung jawab kebijakan regionalnya untuk melakukan tindakan anti-Iran kepada Arab Saudi. Hal ini dilakukan dengan cara mengumpulkan negara-negara Arab regional di Riyadh. Upaya AS untuk mengucilkan Iran dilakukan ketika pengalaman dua dekade terakhir menunjukkan bahwa transformasi politik dan keamanan di kawasan Asia Barat ternyata keluar dari keinginan para pejabat Washington.

Di sisi lain, intervensi Arab Saudi di Irak dan bantuan Riyadh kepada kelompok-kelompok teroris dan kejahatan Daesh hingga sekarang belum terhapus dari ingatan rakyat Irak. Sementara, peran signifikan Iran dalam menumpas Daesh dan membebaskan kota-kota Irak dari pendudukan kelompok teroris takfiri ini juga tetap di benak rakyat negara Arab itu.

Sejarah juga membuktikan bahwa perselisihan politik, ekonomi, keamanan dan keyakinan yang sangat mendalam dan mengakar di antara negara-negara Arab telah mencegah terbentuknya aliansi anti-Republik Islam Iran. Contoh terbaru dari konflik tersebut adalah pertikaian antara Arab Saudi dan Qatar, di mana perselisihan ini telah mendorong pemerintah Doha untuk semakin dekat dengan Tehran.

Yang jelas, kepentingan makro AS di kawasan Asia Barat disandarkan pada penciptaan konflik dalam dan luar di antara negara-negara di kawasan. Dengan demikian, adanya motif sementara tidak akan mampu menjadi dasar pemersatu negara-negara di kawasan.

Faktanya, penciptaan ketenteraman dan keamanan di Asia Barat hanya akan bisa dilakukan melalui partisipasi semua aktor regional, dan bukan melalui kebijakan memecah belah oleh para aktor trans-regional. (RA)