Ketamakan AS Sebagai Penghalang Solusi Krisis Korut
https://parstoday.ir/id/news/world-i46745-ketamakan_as_sebagai_penghalang_solusi_krisis_korut
Wakil Menteri Luar Negeri Korea Selatan, Lim Sung-nam menyatakan, ketamakan Amerika Serikat di hadapan Korea Utara mencegah keberhasilan perundingan dengan Pyongyang.
(last modified 2026-04-16T09:59:01+00:00 )
Nov 12, 2017 15:12 Asia/Jakarta

Wakil Menteri Luar Negeri Korea Selatan, Lim Sung-nam menyatakan, ketamakan Amerika Serikat di hadapan Korea Utara mencegah keberhasilan perundingan dengan Pyongyang.

Lim Sung-nam, dalam pernyataannya di Komite Unifikasi dan Politik Luar Negeri Parlemen Korea Selatan, mengklaim adanya kontak antara Amerika Serikat dan Korea Utara untuk memulai perundingan antarkedua negara dan mengatakan, ketamakan pihak Amerika Serikat merupakan penghalang utama perundingan dalam hal ini.

Pernyataan pejabat Korea Selatan tentang peran Amerika Serikat dalam kebuntuan dialog dengan Pyongyang ini, membongkar ketidakpuasan Seoul atas kinerja Gedung Putih dalam menyikapi krisis Korea Utara.

Menurut pendapat masyarakat dan sejumlah pejabat Korea Selatan, politik unilateral dan juga ketamakan Amerika Serikat, selain menciptakan kebuntuan dalam dialog Korea Utara, juga menciptakan atmosfer instabilitas dan ketidakamanan di Semenanjung Korea.

Di dalam negeri Amerika Serikat sendiri, politik pemerintah Gedung Putih terkait Korea Utara juga sedang menghadapi gelombang kritik keras.

Bob Corker, Ketua Komite Hubungan Luar Negeri Amerika Serikat dan sejumlah mantan pejabat negara ini juga menyatakan, Presiden Donald Trump sedang mengobarkan friksi sia-sia dengan Korea Utara.

Meski pada era mantan presiden Barack Obama, hubungan dengan Korea Utara juga bergolak, akan tetapi friksi antara Washington dan Pyongyang pada era pemerintahan Trump meningkat tajam hingga mendekati perang.

Friksi ini khususnya meningkat pasca ancaman Trump terhadap Korea Utara di Majelis Umum PBB pada bulan September lalu, di mana dia mengklaim akan menghancurkan Korea Utara. Masalah ini mengemuka di saat Trump pada masa kampanyenya mengatakan bahwa jika dia menang dalam pilpres, dia siap berunding dengan pemimpin Korea Utara.

Konstantin Asmolov, analis di Institute for Far Eastern Studies, berpendapat bahwa pernyataan dan cita-cita para politisi Amerika Serikat, pada umumnya sangat jauh dari praktiknya. Sebelumnya, Trump mengklaim akan berunding dengan pemimpin Korea Utara, akan tetapi setelah dia melenggang ke Gedung Putih, dia langsung mengecam Kim Jong-il.

Harus diperhatikan pula bahwa pengacauan atmosfer dialog antara Amerika Serikat dan Korea Utara oleh Gedung Putih, bukan hanya terjadi di era Trump saja. Perundingan segi enam yang diprakarsai Cina pada tahun 2003, dan pada 2005 menghasilkan penandatanganan kesepakatan antara negara-negara peserta. Akan tetapi kesepakatan tersebut gagal pada tahun 2008 karena tidak adanya komitmen dari pihak Amerika Serikat terhadap Korea Utara.

Harapan untuk mewujudkan solusi damai dalam krisis Korea Utara telah pupus akibat politik kofrontatif dan radikal Trump terhadap Pyongyang. Oleh karena itu, cukup beralasan jika pejabat Korea Selatan berpendapat bahwa ketamakan Amerika Serikat yang menghalangi terealisasinya solusi untuk krisis Korea Utara.(MZ)