Rencana AS di Iran, Lemahkan Pertahanan dan Rusak Ekonomi
https://parstoday.ir/id/news/world-i50535-rencana_as_di_iran_lemahkan_pertahanan_dan_rusak_ekonomi
Pasca dua tahun pendantanganan kesepakatan nuklir Iran, JCPOA, pemerintah Amerika Serikat tetap menolak memegang komitmennya dan dengan berbagai dalih, berusaha menjatuhkan sanksi-sanksi baru atas Iran.
(last modified 2026-06-28T17:50:40+00:00 )
Jan 27, 2018 13:46 Asia/Jakarta
  • Donald Trump
    Donald Trump

Pasca dua tahun pendantanganan kesepakatan nuklir Iran, JCPOA, pemerintah Amerika Serikat tetap menolak memegang komitmennya dan dengan berbagai dalih, berusaha menjatuhkan sanksi-sanksi baru atas Iran.

Sebuah langkah yang menunjukkan dalamnya permusuhan Amerika terhadap bangsa Iran. Dalam kelanjutan permusuhannya itu, Presiden Amerika, Donald Trump juga menetapkan sejumlah syarat agar negara itu tetap bertahan dalam JCPOA yang cakupan luasnya secara praktis berarti menghidupkan kembali sanksi.

Syarat-syarat tersebut meliputi langkah bersama Amerika dan Uni Eropa untuk merusak kekuatan rudal dan pertahanan Iran, dan penerapan sanksi dengan dalih dukungan Iran atas terorisme dan pembatasan investasi di Iran dengan memanfaatkan tekanan bidang perbankan dan sanksi.

Tujuan Amerika dari langkah yang disebutnya sebagai langkah untuk menghadapi aksi merusak stabilitas yang dilakukan Iran, dapat disimpulkan dalam dua poin asli, pertama, mengontrol kekuatan pertahanan Iran terutama kekuatan rudal dan kedua, menurunkan pengaruh strategis Iran di kawasan.

rudal Iran

Sejak beberapa tahun lalu, seiring dengan kemunculan kelompok teroris Daesh di kawasan, sejalan dengan kebijakan rezim Zionis Israel, Amerika berusaha melemahkan kekuatan poros perlawanan dan menurunkan pengaruh strategis Iran di Asia Barat dengan melancarkan perang proxy lewat tangan Israel, Arab Saudi dan kelompok-kelompok teroris Takfiri seperti Daesh dan Front Al Nusra.

Namun sekarang kita justru menyaksikan kemenangan-kemenangan poros perlawanan dan kekalahan kebijakan sekutu-sekutu regional Amerika di Irak, Suriah dan Yaman.

Abolghasem Ghasemzade, salah seorang analis politik dalam catatan berjudul "strategi baru militer-keamanan Trump" yang dimuat surat kabar Etelaat menulis, seluruh pandangan Trump terkait program dan kebijakannya di kawasan Timur Tengah berdiri pada dua landasan utama, pertama, terus melemahkan kekuatan Iran terutama dengan menjatuhkan sanksi keuangan dan ekonomi, kedua, menyesuaikan seluruh kebijakan regionalnya untuk  mempertahankan hegemoni Israel.

Program strategis keamanan-militer baru Trump yang disampaikan oleh James Mattis, Menteri Pertahanan Amerika, pada kenyataannya dilakukan dalam rangka menjalankan kebijakan semacam ini di Teluk Persia dan Timur Tengah.

Donald Trump

Jelas bahwa Amerika bukan hanya menganggap kekuatan rudal Iran sebagai sebuah masalah keamanan, tapi sebagai salah satu prinsip berpengaruh atas kekuatan nasional dan regional Iran, oleh karena itu seluruh upayanya dipusatkan pada masalah ini.

Mohammad Javad Zarif, Menteri Luar Negeri Iran dalam wawancara dengan Jurgen Todenhofer, salah satu wartawan terkenal Jerman mengatakan, kami di kawasan, dibandingkan dengan negara-negara lain, memiliki anggaran senjata paling sedikit. Saudi punya rudal yang daya jangkaunya melebihi milik kami dan bisa membawa hulu ledak nuklir. Sementara rudal-rudal kami tidak didesain seperti itu.

Menurut Zarif, rudal-rudal Saudi adalah rudal lintas benua dengan daya jangkau 2500 kilometer dan Riyadh juga memiliki sampel rudal berdaya jangkau 12.000 kilometer. Akan tetapi kami tidak punya rudal-rudal yang bisa membawa hulu ledak nuklir dan daya jangkau paling jauh rudal kami hanya 2000 kilometer. Kami tidak akan pernah menggunakan rudal-rudal ini untuk menyerang negara lain, kami hanya akan menggunakannya jika kami diserang.

Dengan demikian, apa yang disebut oleh Trump sebagai aksi-aksi pemicu instabilitas kawasan oleh Iran, realitasnya adalah kelanjutan reaksi atas kegagalan kebijakan regional Amerika yang dirancang untuk melemahkan kekuatan Republik Islam Iran. (HS)