Mimpi Saudi dan "Sapi Perah" Trump
https://parstoday.ir/id/news/world-i50991-mimpi_saudi_dan_sapi_perah_trump
Dibanding presiden-presiden Amerika Serikat lainnya, Donald Trump dianggap sebagai presiden yang paling banyak menandatangani kontrak bisnis dengan rezim-rezim Arab termasuk Arab Saudi.
(last modified 2026-06-28T17:50:40+00:00 )
Feb 04, 2018 14:37 Asia/Jakarta
  • Trump dan Raja Saudi
    Trump dan Raja Saudi

Dibanding presiden-presiden Amerika Serikat lainnya, Donald Trump dianggap sebagai presiden yang paling banyak menandatangani kontrak bisnis dengan rezim-rezim Arab termasuk Arab Saudi.

Donald Trump berambisi besar untuk melakukan penandatanganan kontrak-kontrak bisnis berskala besar dengan Arab Saudi karena ia menganggap negara itu masih bisa diperah. Sementara Saudi masih tenggelam dalam mimpi bahwa ia bisa menjadi poros kawasan dengan kontrak-kontrak tersebut.

Orientasi politik Trump yang kental dengan kepentingan ekonomi menyebabkan Presiden Amerika itu, dengan maksud untuk menunjukkan keberhasilannya menyelesaikan masalah ekonomi negara, langsung mendekati negara-negara Arab di wilayah Asia Barat saat pertama menjabat.

Retorika slang yang kerap digunakan Trump juga menunjukkan bahwa ia menganggap negara-negara Arab sebagai "sapi perah" yang harus dimanfaatkan. Dalam kerangka kebijakan semacam itu dan hanya dalam waktu lima bulan kekuasaannya, Trump menandatangani kontrak senjata terbesar di abad ini dengan Mohammed bin Salman, Putra Mahkota Saudi.

Donald Trump dan Raja Salman

Kesepakatan atau transaksi abad ini adalah istilah yang diperkenalkan Trump beberapa bulan lalu dalam lawatan luar negeri perdananya sejak menjabat presiden Amerika, ke Arab Saudi. Nilai kontrak itu sekitar 380 milyar dolar, 110 milyar dolar adalah kontrak di bidang militer.

Mohammed bin Salman, Putra Mahkota Saudi, beberapa bulan sebelum penandatanganan kontrak itu mengabarkan sebuah program  yang dinamai "Visi 2030". Ia mengklaim bahwa dengan proyek tersebut ia ingin memutus ketergantungan Saudi terhadap minyak.

Setelah berlalu lebih dari tujuh bulan sejak penandatanganan kontrak senjata terbesar di abad ini antara Saudi dengan Amerika, media-media Amerika mulai ramai membicarakan penandatanganan kontrak di bidang teknologi komunikasi di antara kedua negara. Menurut laporan media-media Amerika, kontrak itu dilakukan oleh perusahaan multinasional Amerika, Alphabet dengan perusahaan minyak Saudi, Aramco. Alphabet adalah induk perusahaan Google.

Apa yang disebut media-media Amerika sebagai target Saudi, adalah tercapainya tujuan program "Visi 2030" besutan Mohammed bin Salman terkait lepasnya ketergantungan Saudi atas minyak. Menurut media Amerika, jika sampai program itu direalisasikan, Saudi akan berubah menjadi pusat internet kawasan Asia Barat.

Jika kita letakkan statemen Trump soal "memerah negara-negara Arab" di samping tujuan Saudi atas program tersebut, maka akan muncul pertanyaan, apakah Amerika benar-benar ingin agar Saudi menjadi poros dunia maya kawasan. Di sinilah letak kekeliruan yang dilakukan Mohammed bin Salman.

Mungkin, sampai saat ini Mohammed bin Salman belum menyadari bahwa tujuan asli Amerika adalah memerah pemerintah Saudi dengan cara menenggelamkannya dalam harapan kosong dan mimpi termasuk janji mengubah Saudi menjadi kekuatan terbesar di kawasan.

Padahal kesepakatan yang disebut "kesepakatan abad ini" oleh Trump, merupakan proyek untuk menghapus total isu Palestina dan memberi keunggulan pada rezim Zionis Israel dan mengubah sebagian besar negara Arab kawasan menjadi pangkalan mata-mata dan intelijen serta militer Amerika. Karena dalam kontrak terbesar itu terdapat jual-beli senjata.

Mohammed bin Salman

Pada situasi seperti ini, Mohammed bin Salman sedang berusaha mempercepat proses perebutan pucuk kekuasaan di Saudi dengan manuver-manuver palsu dan menipu. Sehingga opini publik Saudi tidak menyadari bahaya yang ditimbulkan dari penandatangan kontrak-kontrak raksasa dengan Amerika.

Manuver menipu Mohammed bin Salman tidak hanya terbatas pada masalah sosial, tapi juga dalam bidang ekonomi dan program Visi 2030 yang baru-baru ini digagasnya, masuk dalam kerangka ini. Para pengamat politik meyakini, dengan fondasi ekonomi lemah yang dimilikinya, Saudi tidak punya kemampuan mewujudkan ide-ide utopis yang berbiaya besar itu.

Oleh karenanya, proyek-proyek usulan rezim Al Saud itu dapat dibaca sebagai upaya untuk menjustifikasi langkah-langkahnya melanggengkan kekuasaan dan memperkaya diri serta mengeruk sebanyak mungkin kekayaan Saudi. (HS)