Ketika Korut Mengancam AS
https://parstoday.ir/id/news/world-i51743-ketika_korut_mengancam_as
Korea Utara memperingatkan Amerika Serikat terkait berlanjutnya represi terhadap Pyongyang.
(last modified 2026-04-16T09:59:01+00:00 )
Feb 17, 2018 07:54 Asia/Jakarta

Korea Utara memperingatkan Amerika Serikat terkait berlanjutnya represi terhadap Pyongyang.

Seperti diberitakan kantor berita Korut, Departemen Luar Negeri Korea Utara saat merespon ancaman Amerika menyatakan, Washington akan membayar mahal ketika melontarkan tudingan pelanggaran HAM terhadap Pyongyang.

Berdasarkan statemen Deplu Korut, dengan berbagai alasan, Washington berusaha menunjukkan citra buruk Korea Utara terkait HAM kepada dunia.

Otto Frederick Warmbier, mahasiswa Amerika

Otto Frederick Warmbier, mahasiswa Amerika tahun lalu setelah dipenjara di Korea Utara dikembalikan ke Amerika, namun tak lama kemudian ia meninggal dunia. Washington menyatakan, Pyongyang terlibat dalam kematian Warmbier.

Dalam hal ini, Chou Riong Haye, salah satu petinggi partai berkuasa di Korea Utara mengatakan, bersamaan tensi dengan Korea Selatan, Pyongyang ingin memperkuat dan menyempurnakan kapasitas nuklirnya.

Peringatan Korut kepada Amerika terkait berlanjutnya tudingan anti HAM terhadap negara ini adalah isu yang di waktu sebelumnya juga diprotes oleh Pyongyang.

Dalam kondisi saat ini ketika Korea Utara dan Selatan tengah mengambil langkah-langkah untuk menghidupkan dialog bilateral perdamaian dalam koridor diplomasi olah raga, Pyongyang khawatir atas sabotase Gedung Putih di proses pemulihan hubungan kedua Korea.

Setelah atlet Korea Utara berpartisipasi di Olimpiade musim dingin di Korea Selatan berdasarkan kesepakatan kedua Korea serta kehadiran tokoh kedua Pyongyang dan adik pemimpin Korut di acara pembukaan olimpiade ini, sabotase senyap dan terang-terangan Gedung Putih di proses pemulihan hubungan Seol dan Pyongyang telah dimulai.

Korut dan AS

Andrey Ivanov, pengamat Rusia meyakini bahwa di setiap fase, ketia tercapai atmosfer bagi perdamaian di Semenanjung Korea, Amerika Serikat mulai menggulirkan tudingan dan tuntutan baru. Sikap ini menghancurkan kecenderungan untuk mencapai kesepakatan di kawasan.

Peringatan Korut terkait tudingan anti HAM Amerika terhadap negara ini yang juga merupakan penekanan kembali Pyongyang kepada Gedung Putih untuk tidak mengintervensi urusan internalnya dapat dicermati sebagai pesan tak langsung bagi Washingtong terkait menghindari sabotase di program kedua Korea untuk mereduksi tensi dihubungan keda negara demi meraih kembali stabilitas mental dan ketenangan di Semenanjung Korea tanpa intervensi dan keterlibatan Washington.

Pemulihan hubungan kedua Korea muncul dari tekad pemerintah Pyongyang dan Seoul ini didukung oleh rakyat Korut dan Korsel.

Jajak pendapat terbaru di Korea Selatan menunjukkan bahwa lebih dari 60 persen warga negara ini menyambut pemulihan hubungan dengan Korea Utara.

Di sisi lain ada kekhawatiran di antara petinggi Korsel bahwa Amerika, mengingat pertimbangan khususnya menolak proses pemulihan hubungan kedua Korea, akan mencantumkan langkah-langkah yang dapat mencegah tercapainya kesepakatan kedua Korea untuk mengakhiri tensi di antara keduanya di agenda kerjanya.

Tensi Korut-Korsel

Oleh karena itu, presiden Korsel selain mengungkapkan optimsimenya untuk menggelar perundingan antara AS dan Korut selama lobi kedua Korea di pertemuannya dengan perdana menteri Norwegia, meminta masyarakat internasional mendukung perundingan Washington dan Pyongyang.

Tapi sepertinya yang dimaksud presiden Korsel adalah meyakinkan Gedung Putih untuk menggelar perundingan tanpa syarat dengan Pyongyang. (MF)