Kebersamaan AS-Eropa Melawan Rusia
-
Presiden Vladimir Putin dan Presiden Donald Trump.
Pemerintahan Presiden Donald Trump, akhirnya menjatuhkan sanksi terhadap Rusia atas tuduhan intervensi negara itu dalam pemilu presiden AS pada tahun 2016.
Departemen Keuangan AS memasukkan Badan Penelitian Internet Rusia, bersama 14 individu – mayoritas mereka punya hubungan dengan badan ini – dalam daftar sanksi. Selain 14 individu dan satu entitas, beberapa warga Rusia lainnya, yang sebelumnya sudah masuk daftar sanksi AS, juga dijatuhi sanksi dengan alasan memiliki kontak dengan Badan Penelitian Internet Rusia.
Yevgeny Prigozhin, seorang pengusaha yang dekat dengan Presiden Vladimir Putin, juga termasuk salah satu dari orang-orang tersebut.
Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov baru-baru ini mengatakan bahwa tidak ada bukti keterlibatan Rusia dalam pilpres Amerika, dan pihak AS belum memberikan dokumen apapun untuk membuktikan tuduhannya itu.
Trump sejauh ini menolak untuk menerima laporan intelijen AS terkait campur tangan Rusia dalam pilres 2016, yang telah memenangkan dirinya. Penolakan terhadap laporan komunitas intelijen AS ini telah meningkatkan tekanan terhadap Gedung Putih dan pribadi presiden.

Trump bahkan selama berminggu-minggu menolak melaksanakan keputusan Kongres, yang memberlakukan sanksi terhadap orang-orang dan entitas yang dituduh ikut campur dalam pilres AS.
Namun, kasus kematian agen ganda asal Rusia, Sergei Skripal di Inggris dan juga hajatan pelaksanaan pemilu presiden Rusia pada Maret 2018, tampaknya telah membuat Trump tunduk pada tuntutan gerakan anti-Rusia di AS. Gerakan ini berusaha menghancurkan semua jembatan antara Gedung Putih dan Istana Kremlin, dan memperkenalkan Rusia sebagai ancaman utama bagi keamanan AS.
Dalam pandangan mereka, Rusia di bawah kepemimpinan Presiden Vladimir Putin, sedang berupaya untuk menghidupkan kejayaan masa lalu, dan secara perlahan bergerak mengancam kepentingan AS mulai dari Georgia sampai ke Ukraina di Eropa Timur dan Suriah di Asia Barat.
Oleh karena itu, gerakan anti-Rusia – dengan dalih intervensi negara itu dalam pilpres AS – ingin memobilisasi kekuatan politik dan sosial di Amerika untuk melawan Moskow dan pribadi Putin. Mereka berharap bisa mempengaruhi para pemilih Rusia dan mengurangi perolehan suara Putin dalam pemilu dengan cara menerapkan sanksi baru.
Gerakan anti-Rusia di Amerika juga telah memperkuat posisinya di Eropa. Kematian misterius Sergei Skripal di selatan Inggris telah melahirkan gelombang baru anti Rusia di Eropa.
Penerapan sanksi baru Washington terhadap Moskow dilakukan bersamaan dengan pengusiran sejumlah diplomat Rusia dari Inggris. Hal ini untuk menunjukkan kekompakan Trans-atlantik dalam melawan Moskow.
Namun, pengalaman beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa tindakan semacam itu memiliki dampak kecil terhadap perkembangan internal Rusia dan orientasi kebijakan luar negeri mereka. (RM/PH)