Krisis Suriah dan Kebuntuan PBB
-
DK PBB
Anggota Dewan Keamanan PBB, Selasa (11/3/2018) malam membahas tiga draf resolusi terkait Suriah, namun tidak ada satupun yang berhasil disahkan.
Barat di bawah pimpinan Amerika Serikat kembali menyampaikan pernyataan bohong soal krisis yang terjadi di Suriah. Kebohongan sudah menjadi alat strategi paling asasi yang digunakan Barat dalam menyikapi situasi kawasan Timur Tengah.
Salah satu media Jerman, Deutsche Welle, Selasa (11/3) menyinggung tentang bukti-bukti agresi militer Amerika ke Irak pada tahun 2003 dan menulis, bukti-bukti yang bisa menjustifikasi keharusan perang ini semuanya berlandaskan kebohongan.
Kepemilikan senjata kimia oleh rezim Saddam Hussein adalah kebohongan yang tidak pernah ditemukan buktinya setelah 15 tahun. Penggunaan senjata kimia oleh pemerintah Suriah, yang baru-baru ini ramai dituduhkan, juga adalah kebohongan yang tidak pernah ada buktinya dan kebohongan ini akan digunakan sebagai dalih untuk melancarkan agresi militer ke Suriah.
Sidang DK PBB malam lalu, lebih dari yang lainnya, menunjukkan pentingnya krisis Suriah bagi kubu adidaya dunia. Nyatanya, krisis Suriah yang sudah berlangsung sekitar delapan tahun adalah krisis impor, artinya tidak berasal dari dalam negeri tapi dari luar, dan dipaksakan terhadap Suriah oleh Amerika dan sekutu-sekutu regional seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.
Tujuan diciptakannya krisis Suriah adalah untuk menggulingkan pemerintahan Bashar Assad dan membentuk sebuah pasukan yang menuruti keinginan Barat dan sekutunya di Timur Tengah. Apa yang terjadi selama tujuh tahun terakhir di Suriah adalah kegagalan mutlak Barat pimpinan Amerika dalam meraih target militernya.
Bukan hanya perang proxy teroris dan poros Arab yang dilancarkan Amerika saja yang gagal menumbangkan pemerintahan Assad, sekarang bahkan nyawa teroris di Suriah sudah di ujung tanduk, dan kemenangan selalu berpihak pada pasukan pemerintah Suriah.
Lebih dari itu, krisis Suriah telah menyebabkan terbentuknya dua kubu kekuatan di kawasan dan dunia. Kubu kekuatan kawasan diwakili Iran dan poros perlawanan berhadapan dengan Saudi dan para pendukung Amerika dan Israel, sementara kubu kekuatan dunia diwakili Amerika dan Rusia.
Amerika dan Saudi ingin menumbangkan pemerintahan Suriah, tapi Iran dan Rusia menekankan hak rakyat Suriah untuk menentukan nasib sendiri, menentang intervensi asing dalam proses peralihan kekuasaan di Suriah dan menganggap intervensi asing sebagai sumber bencana bagi sistem global.
Oleh karena itu, Amerika tengah berusaha memanfaatkan posisi internasionalnya untuk mencegah keberhasilan prakarsa politik Rusia termasuk perundingan Astana dan Sochi terkait krisis Suriah. Sehubungan dengan sidang DK PBB tadi malam, situs surat kabar The Independent menulis, PBB membentur jalan buntu, ini mengindikasikan pecahnya perang pengaruh antara Amerika dan Rusia.
Amerika berusaha memperoleh justifikasi untuk melancarkan agresi militer ke Suriah dari DK PBB dengan menuduh pemerintah Suriah melakukan serangan kimia di Duma, Ghouta Timur, oleh karena itu Washington memprakarsai resolusi yang mendesak investigasi penggunaan senjata kimia oleh Damaskus, namun diveto oleh Rusia.
Duta Besar Rusia di PBB Vasily Nebenzya, malam lalu dalam sidang DK PBB mengatakan, anda yang mulai sekarang sudah menentukan hasil, mengapa ingin melakukan penyelidikan? Anda tidak ingin mengetahui realitas, sebaliknya selama beberapa waktu selalu mencari alasan untuk menyerang.
Amerika dan Inggris juga memveto dua resolusi yang diusulkan Rusia, sehingga PBB akhirnya betul-betul membentur jalan buntu terkait masalah Suriah. Realitasnya, krisis Suriah jelas jauh lebih parah dari apa yang digambarkan James Rosenau dalam bukunya, "Dunia Politik di Ambang Kekacauan: Refleksi atas Kompleksitas dan Globalitas Hidup". (HS/PH)