Prospek Manuver Gabungan Korsel dan AS
https://parstoday.ir/id/news/world-i57366-prospek_manuver_gabungan_korsel_dan_as
Departemen Pertahanan Korea Selatan meski ada ancaman dari Korea Selatan mengumumkan, tidak ada peluang menghentikan manuver gabungan dengan Amerika Serikat.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
May 23, 2018 15:36 Asia/Jakarta
  • Korsel dan Korut
    Korsel dan Korut

Departemen Pertahanan Korea Selatan meski ada ancaman dari Korea Selatan mengumumkan, tidak ada peluang menghentikan manuver gabungan dengan Amerika Serikat.

Departemen Pertahanan Korsel di statemennya seraya menekankan bahwa sikap Seoul terkait manuver gabungan dan tahunan dengan Amerika tidak berubah menambahkan, manuver ini untuk pertahanan dan keputusan Seoul adalah mempertahankan dan melanjutkan manuver gabungan militer tersebut.

 

Sementara itu, Korea Utara sebelumnya membatalkan pertemuan petinggi dua Korea sebegai bentuk protes atas penyelenggaraan manuver militer gabungan antara Washingtond an Seoul. Pyongyang juga mengancam akan membatalkan rencana pertemuan Pemimpin Korut, Kim Jong-un dengan Presiden Amerika Donald Trump sebagai reaksi atas latihan gabungan Korsel dan Amerika.

 

Menurut pandangan Korea Utara, langkah Korsel menjustifikasi latihan militer gabungan ditujukan untuk memperkokoh kekuatan pertahanan tidak dapat diterima, karena Pyongyang juga mengejar program rudal dan nuklirnya dengan tujuan memperkuat pertahanannya. Dan rencana Pyongyang ini diprotes oleh Korea Selatan, Amerika dan Jepang.

Image Caption

 

Selain itu, Korut meyakini aksi lawan aksi dan berharap Korsel dan Amerika menghentikan program militernya dihadapan langkah Pyongyang yang ingin memupuk rasa saling percaya. Menurut Korut, Amerika dengan melanjutkan represi politik dan militernya terhadap Korut berencana memaksakan kehendaknya kepada Pyongyang termasuk melumpuhkan program nuklir negara ini. Di sisi lain, Korut sangat menentang sikap Amerika ini.

 

Alexi Maselov, direktur Institut Studi Timur Jauh Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia (IFES) mengatakan, "Meski manuver ini telah diprogram sebelumnya, tapi mengingat transformasi regional masih bisa diadakan perubahan di rencana tersebut mengingat kebutuhan dan kondisi di kawasan. "

 

Ketika Amerika menekankan untuk melanjutkan manuver gabungan dengan Korea Selatan, Washington juga memprotes penempatan pesawat pembom Beijing di Laut Cina Selatan. Negara-negara kawasan selanjutnya diseret ke arah militeralisme di mana Presiden AS Donald Trump dengan tujuan menekan lebih keras Korut dan Cina telah mengirim kapal induk ke kawasan serta memperkuat unit-unit militernya di Korea Selatan.

 

Nictor Morakhofski, pengamat militer mengatakan, "Perairan kawasan bukan milik negara anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dan Amerika. Cina memprotes keras unjuk kekuatan Amerika dan negara anggota NATO lainnya di kawasan, dan menyebutnya sebagai ancaman serius bagi keamanan nasionalnya."

 

Bagaimana pun juga meski ada protes keras dari Korea Utara atas perilaku Amerika dan Korea Selatan serta pendekatan Washington menuding Beijing mempengaruhi kebijakan Pyongyang, Korea Utara dan Amerika masih tetap menekankan pertemuan pemimpin kedua negara di Singapura.

 

Ini menunjukkan bahwa Korea Utara tidak khawatir atas program militer Amerika, karena militernya di tingkat defensif mampu menghadapi kebijakan ofensif Washington. Tapi hal ini bukan berarti Amerika dan Korsel menilai pendekatan damai Pyongyang sebagai indikasi kelemahan Korut. (MF)