Biaya Mahal Memblokir Ekspor Minyak Iran
https://parstoday.ir/id/news/world-i59691-biaya_mahal_memblokir_ekspor_minyak_iran
Rencana untuk memblokir ekspor minyak Iran ke titik nol telah mendapat perhatian dari beberapa lembaga riset Barat, dan mereka memperingatkan bahwa langkah itu akan mendongkrak harga minyak ke angka 150 dolar per barel.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Jul 09, 2018 11:15 Asia/Jakarta
  • AS akan mengembalikan sanksi-sanksi nuklir terhadap Iran setelah keluar dari JCPOA.
    AS akan mengembalikan sanksi-sanksi nuklir terhadap Iran setelah keluar dari JCPOA.

Rencana untuk memblokir ekspor minyak Iran ke titik nol telah mendapat perhatian dari beberapa lembaga riset Barat, dan mereka memperingatkan bahwa langkah itu akan mendongkrak harga minyak ke angka 150 dolar per barel.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah bertindak untuk mencapai target tersebut pada November 2018; mulai dari menghubungi Raja Arab Saudi sampai mengirim delegasi Washington ke Eropa dan Asia Timur untuk meyakinkan mereka agar menghentikan pembelian minyak dari Republik Islam.

Namun, apakah dikte dan unilateralisme AS mampu menghapus produsen penting sekelas Iran dari pasar minyak dunia? Lalu apakah mereka mampu memprediksi dan mengelola dampak dari kebijakan tersebut?

Pernyataan keras Presiden Iran Hassan Rouhani di Swiss menunjukkan bahwa rencana Trump tidak mudah untuk diwujudkan dan dikte ala Amerika sudah tidak lagi mendapat sambutan penuh di era multilateralisme.

Pekan lalu, Rouhani dalam acara ramah tamah dengan masyarakat Iran di Swiss mengatakan, "AS mengklaim ingin menyetop ekspor minyak Iran ke angka nol. Mereka tidak mengerti makna dari rencana ini, jelas tidak masuk akal bahwa minyak Iran tidak bisa diekspor, sementara ekspor minyak di kawasan tetap berjalan. Jika kalian mampu, lakukanlah sehingga kalian bisa melihat hasilnya."

Posisi strategis Iran, konsumen minyak Iran yang beragam, dan yang paling penting adalah kualitas tinggi minyak mentah negara ini, secara praktis tidak mungkin mendepak produsen seperti Iran dari pasar dunia.

Menghentikan ekspor minyak Iran lewat kebijakan Donald Trump hanyalah sebuah ilusi, dan ilusi ini ingin diwujudkan melalui kerjasama Amerika dan Arab Saudi.

Pekan lalu, Trump mengatakan Raja Salman telah menyetujui permintaannya untuk meningkatkan produksi minyak mungkin sampai ke 2 juta barel.

Statemen ini sama seperti memerah Arab Saudi dan secara praktis, negara itu tidak memiliki kapasitas untuk menutupi kekurangan pasokan akibat sanksi minyak Iran.

Saat ini Saudi kesulitan untuk mempertahankan produksinya pada angka 11 juta barel per hari untuk tahun ini. Kepala analisis minyak global di S&P Global, Gary Ross mengatakan, "Arab Saudi tidak mampu meningkatkan produksi sampai 2 juta barel per hari. Mereka mungkin bisa menghasilkan maksimum 11 juta barel dan bahkan ini akan membuat sistem produksi mereka tertekan."

Bloomberg TV dalam sebuah laporan hari Ahad (8/7/2018) menyatakan bahwa ketika sanksi terhadap Iran mulai berlaku pada bulan November, para produsen tidak memiliki kapasitas yang cukup untuk menebus output yang hilang. Jika Trump berhasil menghentikan semua ekspor minyak Iran, mereka harus mengganti 2,7 juta barel per hari pasokan yang hilang. Ini sebuah lubang besar yang harus ditutupi. Jika mereka tidak dapat melakukannya, biayanya akan sangat mahal.

Sanksi penuh minyak Iran bukanlah sebuah petualangan yang mudah bagi Trump, dan Saudi bahkan tidak memiliki kemampuan teknis dan praktis untuk memenuhi permintaan AS.

Langkah ini akan merugikan dunia jika memperhatikan realitas pasar minyak global saat ini dan petualangan Trump akan membuat dunia berada dalam shock berat.

Presiden AS telah memilih jalan berbahaya dan menghapus produsen strategis seperti Iran dari pasar minyak dunia, tentu akan memiliki dampak serius bagi pasar. (RM)