Seruan Stop Sanksi Anti Iran di Situs Resmi Gedung Putih
https://parstoday.ir/id/news/world-i60457-seruan_stop_sanksi_anti_iran_di_situs_resmi_gedung_putih
Seiring dengan kian dekatnya tempo dimulainya sanksi Amerika Serikat terhadap Republik Islam Iran, sekelompok aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) dan anggota Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) mengirimkan petisi bertema "Stop Sanksi Iran Sekarang !" dan kemudian dicatat di situs resmi Gedung Putih.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Jul 31, 2018 15:14 Asia/Jakarta
  • Sanksi AS terhadap Iran
    Sanksi AS terhadap Iran

Seiring dengan kian dekatnya tempo dimulainya sanksi Amerika Serikat terhadap Republik Islam Iran, sekelompok aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) dan anggota Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) mengirimkan petisi bertema "Stop Sanksi Iran Sekarang !" dan kemudian dicatat di situs resmi Gedung Putih.

Dalam petisi tertanggal 25 Juli 2018 itu disebutkan, sanksi ekonomi adalah langkah yang tidak bisa dibenarkan dan keliru serta akan mengakibatkan pelanggaran luas atas hak rakyat Iran oleh pemerintah Amerika.

 

Petisi itu juga menjelaskan bahwa Amerika dalam empat dekade terakhir, telah menerapkan sanksi ilegal terhadap rakyat Iran dan melanggar hak mereka untuk memenuhi kebutuhan hidup, penentuan nasib, kemajuan dan hak anak.

 

Para penandatangan petisi ini menegaskan dukungan mereka atas upaya hukum Iran terhadap pemerintah Amerika di Mahkamah Pidana Internasional dan mendesak Gedung Putih segera menghentikan sanksi atas Tehran. Menurut mereka sanksi ekonomi ini sebuah tindakan yang tidak dapat dibenarkan dan melanggar HAM.

 

Ketika Amerika keluar dari Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA) dan menerapkan saksi sebagai kebijakan untuk menekan Tehran, mayoritas negara dunia termasuk Eropa dan organisasi HAM tidak puas atas keputusan Washington tersebut dan menuding AS mengabaikan hak-hak rakyat Iran. Sementara itu petinggi Amerika termasuk Presiden Donald Trump di depan media senantiasa mengklaim menghormati bangsa Iran.

Trump, AS dan Iran

 

Klaim ini dirilis di saat penerapan sanksi sebagai kebijakan Washington terhadap berbagai negara mempengarui kehidupan warga negara-negara yang menjadi target sanksi Amerika. Kondisi ini sepertinya akan semakin serius ketika pembatasan pembelian obat-obatan mengancam nyawa manusia.

 

Presiden Republik Islam Iran, Hassan Rouhani seraya mengisyaratkan bahwa Amerika sebagai pelanggar terbesar HAM di dunia mengatakan, sanksi terhadap Iran sebuah langkah anti HAM yang menarget obat-obatan, makanan dan kehidupan rakyat.

 

Sejatinya pemanfaatan instrumen sanksi untuk membentuk front tunggal guna meningkatkan represi ekonomi terhadap iran sebuah kebijakan yang terus dikejar Washington selama bertahun-tahun. Kini Amerika berupaya meraih ambisi hegemoninya dengan menerapkan sanksi. Sanksi ini bukan saja membuat Iran kesulitan tapi juga seluruh dunia, dengan harapan mereka tunduk kepada Washington.

 

Di sisi lain, ketika petinggi Amerika menyebut tujuan dari sanksi adalah mencegah pelanggaran HAM, perang melawan terorisme, mencegah penyebaran senjata nuklir, menjaga lingkungan hidup, mencegah penyebaran konflik dan ancaman terhadap kawasan, justru Amerika sendiri tercatat sebagai pelanggar terbesar HAM.

 

Keluar dari Dewan HAM PBB demi membela rezim Zionis Israel, mendukung kelompok teroris dan keluar dari kesepakatan iklim Paris serta pelanggaran terhadap komitmen lingkungan hidup termasuk kasus yang menunjukkan tidak komitmennya Washington terhadap slogannya sendiri.

 

Stephen Landman, pengamat dan sejarawan terkenal Amerika saat menyebutkan raport HAM negara ini mengatakan, tidak ada negara di sejarah dunia yang menyakiti warganya sendiri, seperti Amerika Serikat.

 

Kini ketika mayoritas organisasi HAM khawatir atas langkah presiden Trump dan sanksi anti Iran, petinggi Washington masih tetap menabuh genderang sanksi dan represi terhadap Iran, tanpa mengindahkan bahwa bangsa Iran tidak akan pernah tunduk terhadap arogansi Amerika Serikat. (MF)