Kegagalan AS Menghentikan Penjualan Minyak Iran
-
Presiden AS Donald Trump sedang menjalankan kampanye tekanan maksimum terhadap Iran.
Pemerintah AS mengembalikan sanksi nuklir terhadap Iran dalam dua tahap yaitu Agustus dan November 2018, tepat setelah negara itu secara sepihak keluar dari kesepakatan nuklir JCPOA.
Sanksi-sanksi itu bersifat sepihak dan melanggar hukum internasional, termasuk resolusi 2231 Dewan Keamanan PBB.
Salah satu target utama dari sanksi ini adalah embargo penjualan minyak Iran. Pemerintahan Trump berulang kali mengklaim bahwa ekspor minyak Iran akan ditekan ke titik nol. Sanksi ini dimulai pada November 2018 dan terus diperketat dengan mencabut kebijakan pengecualian sanksi impor minyak Iran sejak 2 Mei lalu. Namun, AS tampaknya menghadapi banyak hambatan untuk memenuhi janjinya itu.
Saat ini sejumlah media melaporkan bahwa AS akan kembali memberikan pengecualian kepada beberapa negara sehingga bisa terus membeli minyak dari Iran secara terbatas tanpa menghadapi sanksi AS.
Menurut surat kabar Wall Street Journal, kabar itu disampaikan oleh Wakil Khusus Departemen Luar Negeri untuk Urusan Iran, Brian Hook pada 30 Mei kemarin. Hook mengatakan setiap langkah untuk mengimpor minyak Iran di luar batas yang ditetapkan akan dikenai sanksi.
"Negara-negara yang belum mencapai batas kuota impor minyak Iran yang ditetapkan oleh AS, dapat melanjutkan pembelian tanpa risiko sanksi sampai mereka mencapai batas yang disepakati," ujarnya.
Wall Street Journal menafsirkan pernyataan Hook sebagai lampu hijau AS kepada Cina dan India untuk melanjutkan impor minyak dari Iran.
Washington sebelum ini menekankan larangan total pembelian minyak dari Iran. Para pejabat AS mengatakan pengecualian tidak akan diperpanjang lagi. Namun, para pengamat energi berulang kali memperingatkan bahwa mustahil bisa menghentikan penjualan minyak Iran ke titik nol.
Pada dasarnya, Tehran mampu melanjutkan penjualan minyaknya dengan menggunakan berbagai cara.
Para pejabat OPEC juga meragukan klaim AS untuk menjatuhkan sanksi penuh terhadap sektor minyak Iran. Sekretaris Jenderal OPEC, Mohammed Barkindo mengatakan bahwa tidak mungkin menghilangkan minyak mentah Iran dari pasar global.
Banyak pengamat energi percaya bahwa sanksi penuh minyak Iran secara signifikan akan mempengaruhi harga minyak mentah di pasar dunia dalam waktu singkat, dan sangat sulit untuk memaksa pelanggan utama minyak Iran mematuhi sanksi-sanksi AS.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina, Lu Kang pada Kamis kemarin mengatakan, "Cina tunduk pada hukum internasional dan tidak mendukung sanksi sepihak AS terhadap Iran atau negara lain."
Di samping itu, negara-negara seperti Arab Saudi bergerak sangat lamban dalam mengisi kekosongan minyak Iran di pasar dunia dan fakta ini berbeda dengan klaim-klaim mereka sebelum ini. Sanksi minyak Iran juga berpotensi memicu konflik di Teluk Persia dan mengganggu pasokan energi dunia melalui Selat Hormuz. (RM)