Kerjasama Dunia Arab dan NATO
-
Pertemuan NATO dan para anggota Inisiatif Kerjasama Istanbul di Kuwait.
Delegasi NATO, yang dipimpin oleh Sekretaris Jenderal Jens Stoltenberg, melakukan perjalanan ke Kuwait untuk mengadakan pertemuan keamanan dengan para pejabat dari beberapa negara Arab.
Pertemuan NATO di Kuwait diadakan pada 16 Desember lalu di bawah forum Inisiatif Kerjasama Istanbul (Istanbul Cooperation Initiative). Sebelum Perang Dingin, NATO hanya aktif di lingkungan geografis Eropa, tetapi sekarang mereka memperluas kegiatannya dari Eropa ke wilayah Asia Barat dan global.
Perluasan kegiatan NATO dilakukan melalui program-program baru dan salah satunya adalah Inisiatif Kerjasama Istanbul. Prakarsa ini dibentuk selama KTT Istanbul pada 2004 sebagai landasan untuk kerja sama keamanan bilateral dengan negara-negara Teluk Persia, yang mencakup Uni Emirat Arab, Bahrain, Kuwait, dan Qatar.
Pertemuan di Kuwait untuk menandai ulang tahun ke-15 forum kemitraan tersebut. Oman, Arab Saudi, dan Dewan Kerjasama Teluk Persia (P-GCC) juga mengirim perwakilan ke pertemuan itu.
Wilayah Teluk Persia memiliki tempat khusus di mata kekuatan-kekuatan dunia, terutama negara-negara Barat. Mereka berusaha meningkatkan kehadiran dan pengaruhnya di kawasan melalui organisasi-organisasi dan aliansi militer. Kekuatan Barat memainkan peran penting dalam menyulut krisis di wilayah Teluk Persia.
Untuk tujuan itu, gagasan untuk membentuk koalisi maritim di Teluk Persia muncul pada musim panas 2019 dan koalisi ini mulai beroperasi pada November 2019.
NATO – sebagai salah satu organisasi militer terpenting Barat – juga berusaha memperkuat kehadirannya di Teluk Persia. Inisiatif Kerjasama Istanbul bertujuan untuk membangun hubungan antara keamanan negara-negara anggota dan Eropa. NATO kemudian membuka kantor pertamanya di Kuwait pada Februari 2017. Mereka memberikan pelatihan khusus kepada negara-negara anggota Inisiatif Kerjasama Istanbul di bidang keamanan cyber, energi, kimia, biologi, dan senjata nuklir.
Namun, prakarsa itu sepertinya bertujuan untuk memenuhi kepentingan politik para anggota kunci NATO. Pengaruh kekuatan Barat di Teluk Persia akan meningkat dengan dalih keamanan, dan di sisi lain, prakarsa tersebut akan memfasilitasi pengiriman pasukan dan peralatan NATO dari wilayah mereka.
Jens Stoltenberg mengatakan bahwa Inisiatif Kerjasama Istanbul telah mempermudah proses pengiriman pasukan dan peralatan militer untuk misi NATO di Afghanistan. (RM)