Tekanan AS terhadap NATO; Upaya untuk Membatasi Misi Luar Negeri
https://parstoday.ir/id/news/world-i185744-tekanan_as_terhadap_nato_upaya_untuk_membatasi_misi_luar_negeri
Pars Today - Pemerintah Amerika Serikat, dengan memberikan tekanan kepada anggota NATO, berupaya mengurangi misi-misi luar negeri aliansi ini, termasuk misi di Irak; sebuah pendekatan yang menuai reaksi dari beberapa sekutu Eropa.
(last modified 2026-02-19T13:42:02+00:00 )
Feb 19, 2026 20:40 Asia/Jakarta
  • Trump dan NATO
    Trump dan NATO

Pars Today - Pemerintah Amerika Serikat, dengan memberikan tekanan kepada anggota NATO, berupaya mengurangi misi-misi luar negeri aliansi ini, termasuk misi di Irak; sebuah pendekatan yang menuai reaksi dari beberapa sekutu Eropa.

Majalah Politico, mengutip empat diplomat NATO, melaporkan bahwa Gedung Putih, dalam kerangka mendefinisikan ulang peran Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), telah menekan anggota aliansi ini untuk membatasi "aktivitas di luar kawasan". Menurut sumber-sumber tersebut, Washington meminta agar NATO fokus pada misi pertahanan dan pencegahan tradisional di kawasan Euro-Atlantik dan mengurangi kehadiran di zona-zona krisis, termasuk Irak. Langkah ini dinilai dapat secara signifikan mengurangi cakupan operasional pakta militer tersebut.

 

Berdasarkan laporan ini, Amerika Serikat juga dalam beberapa bulan terakhir telah berupaya mengurangi operasi pemeliharaan perdamaian NATO di Kosovo, dan mendorong sekutunya untuk menolak mengundang Ukraina serta mitra-mitra di kawasan Indo-Pasifik, termasuk Australia, Selandia Baru, Jepang, dan Korea Selatan, ke pertemuan resmi NATO bulan Juli di Ankara. Gerakan ini dinilai sejalan dengan pendekatan yang menekankan pada pembatasan keterlibatan lintas kawasan NATO.

 

Diplomat-diplomat yang mengetahui masalah ini mengatakan kepada Politico bahwa Washington telah meminta sekutunya agar misi NATO di Irak berakhir pada awal September. Bersamaan dengan itu, Amerika Serikat, dalam kerangka kesepakatan tahun 2024 dengan pemerintah Irak, sedang merencanakan penarikan sekitar 2.500 personel militernya dari negara tersebut; sebuah langkah yang oleh pejabat Amerika disebut sebagai bagian dari "komitmen untuk mengakhiri perang abadi."

 

Namun, beberapa anggota NATO menyatakan keraguan terhadap pendekatan ini. Seorang diplomat menegaskan, "Meninggalkan inisiatif-inisiatif luar kawasan bukanlah pendekatan yang tepat. Kemitraan sangat penting untuk pencegahan dan pertahanan." Tampaknya kembalinya pandangan unilateralisme dalam kebijakan luar negeri Amerika ini kembali menonjolkan celah-celah lama antara Washington dan sekutu Eropanya, serta membuat masa depan peran global NATO semakin tidak menentu. (MF)