Publik AS: Perang dengan Iran? No Way!
https://parstoday.ir/id/news/world-i185838-publik_as_perang_dengan_iran_no_way!
ParsToday – Opini publik Amerika Serikat pada tahun 2026 menunjukkan penolakan yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap setiap petualangan militer baru terhadap Iran, merespons negatif agresivitas Trump.
(last modified 2026-02-21T07:46:18+00:00 )
Feb 21, 2026 14:44 Asia/Jakarta
  • Kapal induk Abraham Lincoln
    Kapal induk Abraham Lincoln

ParsToday – Opini publik Amerika Serikat pada tahun 2026 menunjukkan penolakan yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap setiap petualangan militer baru terhadap Iran, merespons negatif agresivitas Trump.

Melaporkan dari ParsToday, Sabtu, 21 Februari 2026, sementara Donald Trump, presiden kontroversial AS, dan sejumlah tokoh garis keras di Washington terus menggaungkan perang dengan Iran, jajak pendapat terbaru di Amerika menampilkan gambaran yang sama sekali berbeda dari opini publik negeri itu.

Berbeda dengan Maret 2003 ketika serangan ke Irak didukung 72 persen warga Amerika (jajak pendapat Gallup), kini opini publik AS secara luas menjawab "tidak" untuk memulai perang lain di Asia Barat.

Berdasarkan jajak pendapat bersama Universitas Maryland dan SSRS yang dilakukan awal Februari 2026, hanya 21 persen warga Amerika yang mendukung serangan militer ke Iran. Sementara itu, 49 persen secara terang-terangan menentang setiap tindakan militer, dan 30 persen masih ragu-ragu. Angka ini, jika dibandingkan dengan jajak pendapat pasca-serangan Juni 2025 (di mana 85 persen menentang perang dengan Iran), menunjukkan berlanjutnya tren penolakan yang meluas.

Yang patut dicatat, bahkan di kubu Republik pun tidak ada konsensus untuk perang. Meskipun partai ini dengan 40 persen menunjukkan kecenderungan terbesar terhadap opsi militer, tetapi 25 persen pemilih Republik menentang perang dan 35 persen tidak memiliki sikap jelas.

Temuan ini sebelumnya juga terlihat dalam berbagai jajak pendapat di AS. Sejumlah survei dalam beberapa bulan terakhir menunjukkan upaya "intervensi militer AS" menghadapi kegagalan besar:

Dalam jajak pendapat Economist/YouGov yang dilakukan akhir Januari 2026, 48 persen warga Amerika menentang aksi militer terhadap Iran, sementara 28 persen mendukung. Ketika pertanyaan diajukan dengan skenario "mendukung pengunjuk rasa", penolakan meningkat hingga 52 persen.

Juga menurut jajak pendapat Universitas Quinnipiac yang digelar awal Januari 2026, seminggu setelah Trump mengancam bahwa dirinya "siap dan bersenjata", 70 persen responden mengatakan AS tidak boleh campur tangan dalam urusan Iran dan hanya 18 persen yang mendukung intervensi.

Menurut para analis, kenangan pahit perang Irak membayangi mentalitas warga Amerika saat ini. Pada peringatan 20 tahun serangan ke Irak, 61 persen warga Amerika menilai invasi itu sebagai kesalahan besar. Sejumlah analis meyakini alasan Trump sejauh ini menahan diri dari menyerang Iran adalah karena, tidak seperti George W. Bush pada 2003, tidak ada kampanye propaganda besar-besaran yang berhasil membangun dukungan publik. Partai Republik juga terpecah. Jajak pendapat ini kemungkinan turut mempengaruhi pengambilan keputusannya.

Penolakan luas warga Amerika terhadap agresivitas Trump tampaknya berakar pada alasan kuat berdasarkan pengalaman sejarah pahit.

Salah satu penyebabnya adalah kelelahan parah akibat "perang tak berkesudahan" Amerika di abad ke-21. Kenangan pahit dua dekade perang berkepanjangan di Afganistan dan Irak adalah alasan terpenting penolakan publik. Warga Amerika menyadari bahwa perang-perang ini tidak hanya gagal menjamin keamanan mereka, tetapi juga menghabiskan triliunan dolar serta menewaskan dan melukai ribuan orang.

Berbeda dengan 2003 ketika 72 persen mendukung serangan ke Irak, kini hanya sekitar 21 persen yang mendukung pengulangan kesalahan serupa. Masyarakat berpaling dari politisi yang berjanji mengakhiri perang, tetapi kini justru memikirkan perang baru.

Alasan lain adalah ketakutan akan respons Iran dan meluasnya konflik regional. Bertentangan dengan anggapan umum, warga Amerika menganggap serius kekuatan militer Iran dan kemampuannya untuk membalas. Jajak pendapat menunjukkan sekitar 80 persen masyarakat khawatir akan perang besar-besaran dan respons Iran. Keberadaan puluhan pangkalan Amerika di sekitar Iran dan kemampuan rudal negara ini memperkuat kekhawatiran bahwa setiap serangan akan mengorbankan nyawa tentara Amerika dan keamanan sekutu regional.

Penyebab ketiga adalah ketidakpercayaan terhadap pemerintah AS dan kurangnya transparansi. Pemerintahan Trump gagal memberikan justifikasi meyakinkan untuk serangan ini. Di satu sisi mengklaim telah "menghancurkan total" program nuklir Iran dalam serangan tahun lalu, di sisi lain menjadikan program yang sama sebagai dalih perang baru. Kontradiksi ini dan tidak adanya diskusi serta pemungutan suara serius di Kongres memperkuat dugaan bahwa Gedung Putih mengincar perang yang tidak perlu dan tanpa kewenangan hukum.

Alasan berikutnya adalah prioritas masalah domestik di atas petualangan asing. Pemilih Amerika, terutama dalam kondisi ekonomi saat ini, menginginkan pemerintah AS fokus pada masalah dalam negeri seperti inflasi dan biaya hidup. Mereka menilai pengeluaran miliaran dolar untuk perang baru bertentangan dengan kepentingan nasional. Bahkan di kalangan Republik dan basis "America First," keyakinan kuat adalah bahwa perang dengan Iran tidak hanya sejalan dengan slogan "America First", tetapi justru akan menjerumuskan negara ini ke dalam rawa baru.(sl)