Macron: Kebebasan Berekspresi "Omong Kosong"
-
Presiden Prancis, Emmanuel Macron
Pars Today - Kebebasan berekspresi tanpa transparansi Algoritma menurut Presiden Prancis adalah "Omong Kosong Belaka", mekanisme pengarahan wacana daring harus diungkap
Presiden Prancis, Emmanuel Macron, dalam pernyataannya yang kontroversial, menggambarkan argumen sejumlah platform media sosial yang membela kebebasan berekspresi sebagai "omong kosong belaka" dan menuntut transparansi penuh mengenai cara kerja algoritma yang membentuk wacana daring. Ia, dengan merujuk pada konsekuensi luas dari masalah ini bagi sistem demokrasi, mengatakan, "Masyarakat tidak tahu sama sekali bagaimana algoritma dibuat, diuji, dan dilatih, serta ke mana algoritma tersebut mengarahkan mereka."
Macron menegaskan bahwa "kebebasan berekspresi benar-benar omong kosong jika seseorang tidak tahu bagaimana ia diarahkan melalui apa yang disebut kebebasan ini, terutama ketika ia digiring dari satu ujaran kebencian ke ujaran kebencian lainnya." Di saat yang sama, ia menekankan perlunya menjaga "ketertiban umum" dan memerangi ujaran rasis serta konten kebencian di ruang maya.
Meningkatnya Ketegangan Eropa-Amerika soal Kebebasan Berekspresi
Sikap Macron muncul di saat ketegangan antara Uni Eropa dan Amerika Serikat mengenai regulasi platform digital meningkat. Donald Trump, Presiden Amerika Serikat, telah mendeklarasikan pembelaan kebebasan berekspresi sebagai poros kebijakan luar negerinya dan mengkritik pendekatan pengawasan Brussel terhadap perusahaan-perusahaan teknologi yang berbasis di Amerika. J.D. Vance, Wakil Presiden Amerika Serikat, juga menuduh para pemimpin Eropa membatasi kebebasan berekspresi dan menyatakan dukungan Washington terhadap sekutu Eropanya bergantung pada komitmen mereka terhadap "nilai-nilai fundamental."
Sebaliknya, sejumlah tokoh terkemuka di bidang teknologi juga mengkritik kebijakan Uni Eropa. Pavel Durov, pendiri Telegram, setelah tindakan hukum di Paris terhadap media sosial X, tidak menganggap Prancis sebagai "negara bebas." Elon Musk, setelah platformnya didenda 150 juta euro oleh Uni Eropa, menggambarkan blok tersebut sebagai "raksasa birokrasi."
Pernyataan Macron tentang kebebasan berekspresi sekali lagi menyoroti jurang pemisah yang dalam di kedua sisi Atlantik mengenai batas-batas regulasi ruang maya dan peran pemerintah dalam mengarahkan wacana publik. (MF)