Peluang yang Tidak Boleh Dilewatkan Riyadh
https://parstoday.ir/id/news/world-i185864-peluang_yang_tidak_boleh_dilewatkan_riyadh
Pars Today – Situs Dewan Timur Tengah untuk Urusan Global (The Middle East Council on Global Affairs) pada 19 Februari 2026 dalam sebuah artikel berjudul "De-eskalasi Iran dan Arab Saudi; Sebuah Keharusan Strategis" menguraikan status hubungan Tehran dan Riyadh di tengah upaya penurunan ketegangan dalam hubungan kedua negara.
(last modified 2026-02-21T12:37:35+00:00 )
Feb 21, 2026 19:35 Asia/Jakarta
  • Iran dan Arab Saudi
    Iran dan Arab Saudi

Pars Today – Situs Dewan Timur Tengah untuk Urusan Global (The Middle East Council on Global Affairs) pada 19 Februari 2026 dalam sebuah artikel berjudul "De-eskalasi Iran dan Arab Saudi; Sebuah Keharusan Strategis" menguraikan status hubungan Tehran dan Riyadh di tengah upaya penurunan ketegangan dalam hubungan kedua negara.

Menurut laporan Pars Today, terdapat beberapa poin dan catatan terkait artikel "De-eskalasi Iran dan Arab Saudi; Sebuah Keharusan Strategis":

 

Pertama, penulis artikel mengklaim bahwa de-eskalasi adalah prioritas strategis bagi Tehran: Mekanisme pengembalian sanksi secara otomatis (snapback) telah menambah ketidakpastian ekonomi yang dihadapi Iran, dan ancaman serangan militer di masa depan oleh Israel dan Amerika Serikat masih tetap ada. Hal ini memaksa Iran untuk berdamai dan beradaptasi dengan tetangganya guna mengurangi risiko.

 

Menanggapi hal ini, harus dikatakan bahwa de-eskalasi dalam hubungan Tehran dan Riyadh terbentuk dalam beberapa tahun terakhir dengan mempertimbangkan kepentingan bersama Iran dan Arab Saudi. Bagi Riyadh, de-eskalasi dengan Tehran telah melampaui sekadar opsi taktis dan berubah menjadi sebuah kebutuhan strategis. Arab Saudi, dengan memahami bahwa keamanan sejati tidak dapat diimpor dari luar dan ketergantungan semata pada jaminan militer Barat tidaklah berkelanjutan, telah sampai pada kesimpulan bahwa stabilitas kawasan bergantung pada interaksi dengan Iran.

 

Pengalaman perang tahun 2025 menunjukkan bahwa Riyadh tidak ingin menjadi medan konflik proksi atau langsung dengan Iran. Oleh karena itu, diplomasi dengan Tehran merupakan solusi cerdas untuk mengelola persaingan, mengurangi biaya keamanan, dan fokus pada visi ekonomi "Visi 2030" mengingat ketidakstabilan kawasan. Di saat yang sama, penekanan Iran pada hubungan persaudaraan antarnegara Islam dan pembentukan front persatuan untuk memajukan tujuan bersama di dunia Islam, terutama dalam isu-isu seperti Palestina dan persatuan dunia Islam, turut mendorong proses hubungan Tehran dan Riyadh menuju de-eskalasi dan perluasan hubungan bilateral.

 

Kedua, hal yang disebutkan oleh penulis artikel adalah bahwa perluasan hubungan dagang sebagian besar masih sebatas wacana: Perjanjian bilateral mengenai kerja sama teknis menjanjikan peningkatan perdagangan tahunan yang berfokus pada pengembangan industri, peningkatan investasi, dan pariwisata, namun risiko masih menjadi penghalang bagi pendalaman hubungan.

 

Menanggapi hal ini, perlu dikatakan bahwa kepentingan Arab Saudi dalam memperluas hubungan dagang dan ekonomi dengan Iran didefinisikan melampaui sekadar transaksi dan sejalan dengan tujuan-tujuan strategis makro negara tersebut. Di tingkat domestik, interaksi ini secara langsung mendukung Visi 2030. Kerja sama dengan Iran dapat membantu transformasi digital dan pembangunan berkelanjutan Arab Saudi melalui penyerapan pakar Iran di bidang teknologi informasi, kecerdasan buatan, dan nanoteknologi.

 

Selain itu, Iran, dengan kapasitasnya dalam mengekspor produk petrokimia, farmasi, logam, dan bahan pertanian, dapat membantu memenuhi kebutuhan pasar Arab Saudi dan melengkapi rantai produksi kawasan. Di tingkat regional, stabilitas yang dihasilkan dari interaksi ekonomi dengan Iran menyediakan landasan bagi investasi bersama dalam proyek-proyek infrastruktur dan energi, terutama di negara-negara yang sedang dalam proses rekonstruksi seperti Irak dan Yaman. Kerja sama ini juga dapat mengarah pada manajemen pasar minyak dan stabilitas harga. Pada akhirnya, Riyadh, dengan memandang ke masa depan, akan memanfaatkan posisi geopolitik Iran untuk mengakses pasar negara-negara di Asia Barat Laut dan bahkan Afrika (melalui Iran).

 

Poin ketiga yang disebutkan dalam artikel ini adalah bahwa reaksi Dewan Kerja Sama Teluk terhadap perang 12 hari memperkuat de-eskalasi: Kecaman negara-negara Teluk terhadap tindakan militer Israel terhadap Iran dan indikasi jelas mereka untuk tidak menggunakan wilayah mereka sebagai landasan peluncuran bagi serangan semacam itu telah memperkuat upaya rekonsiliasi.

 

Menanggapi hal ini, meskipun kecaman terhadap serangan Israel dan keterlibatan Amerika Serikat di dalamnya oleh negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk merupakan hal yang positif, harus diperhatikan bahwa mengingat peningkatan penempatan militer Amerika Serikat di sekitar Iran, terutama di pangkalan-pangkalan militer Washington di negara-negara ini, mereka harus memberikan perhatian serius bahwa setiap tindakan militer Amerika Serikat dari pangkalan militer yang berada di negara-negara Arab Teluk terhadap Iran akan berhadapan dengan respons langsung dari Iran. Oleh karena itu, terlepas dari itikad baik Tehran dan upaya untuk menjalin hubungan persahabatan dan bertetangga yang baik, setiap bentuk kolusi atau partisipasi dengan Washington dalam tindakan terhadap Iran akan menjadikan mereka target yang sah dan berujung pada respons keras dari pihak Tehran. (MF)